
(POV) Zahra
Selesai berpamitan pada Fira Dan mas Galih sekeluarga aku, kak Dewanta, mama, abah, ibu dan ayah mertuaku, kami sekeluarga naik ke mobil yang sama yaitu mobil fortuner warna hitam milik mertuaku. Kebetulan aku duduk dikursi deretan nomor dua, dekat ibu mertua sedang mama dan abah diduduk paling belakang, sementara kak Dewantalah yang menyetir mobil tersebut dan ditemani oleh ayah mertuaku.
Semenjak pulang dari kediaman mas Galih raut wajah ibu mertua terlihat bahagia. Tidak seperti saat berangkat tadi, mukanya tampak kesal karena sebenarnya ibu dari kekasih halalku memang enggan bertemu bu Fira. Beliau masih selalu ingat kala bu Fira mencoba masuk kedalam rumah tanggaku dan kak Dewanta. Aku tahu cinta ibu kepadaku dan kak Dewanta amatlah besar, beliau sangat murka bila ada orang yang berani mengganggu ketenangan hidup kami dan anak-anakku.
"Ibu kelihatannya bahagia sekali, apa karena ibu baru saja ngobrol dengan keluarga bu Fira yang konglomerat itu, " tanyaku pada ibu yang sedang menyunggingkan senyumnya.
"Ibu sedang bahagia sekaligus malu Zahra," jawab ibu singkat.
"kok bisa gitu sih bu, cerita dong !!... biasanya ibu kalau ada unek-unek juga curhatnya sama Zahra. Kita kan sepasang teman curhat," ucapku pada ibu sembari menepuk pahanya. Jadi penasaran apa sih yang ada dihati ibu.
"Heemm... hemm... soalnya gini lho Zahra, dari dulu kamu kan tahu Fira itu kelakuannya seperti apa. Untung saja Dewanta tidak terpikat sama dia, kalau sampai Dewanta terlena sama dia, entah bagaimana nasib rumah tangga kalian. Jujur ibu sangat bangga pada Dewanta, dia begitu setia kepadamu, bahkan oleh gadis seperti Fira yang nyaris sempurna pun dia tidak bergeming.
Dulu ibu benci banget sama Fira, makanya ibu enggan ikut ke caranya Fira. Tapi setelah ibu mengenal Dia dan keluarganya ternyata mereka baik yah.. " ucap ibu mertua, pandangan lurus kedepan seperti sedang membayangkan sesuatu yang indah.
"Ibu tidak mengira kalau orang tua Fira itu pak Langit dan bu Dinda yang sering muncul ditv. Sebenarnya ibu sangat mengidolakan beliau karena beliau adalah orang kaya yang merakyat. Tapi kok Fira bisa ya punya fikiran ingin jadi istri ke dua Dewanta, apa dia terlalu cinta sama Dewanta. Ibu jadi nggak nyangka anak ibu Dewanta pernah pacaran sama anaknya orang terkenal, " ucap ibu penuh semangat.
"Apa ibu mau bilang kalau ibu menyesal menjodohkan aku dengan kak Dewanta," ucapku pelan, aku jadi ngerasa sekarang bukan lagi menantu kesayangan ibu mertuaku. Ibu terlalu membanggakan keluarga Fira secara berlebihan.
__ADS_1
"Maaf Zahra, bukan maksud ibu seperti itu, ibu cuma sedang terkejut, ibu tidak pernah menyesali takdir, ibu tidak pernah menyesal menjadikanmu menantu ibu, kamu jangan salah paham yah..., mungkin ibu terlalu berlebihan memuji keluarga Fira, maafkan ibu ya Zahra," Seru ibu mertuaku sambil merangkulku. Tampaknya beliau sangat merasa bersalah.
"Enggak papa kok bu, aku memang tidak secantik Fira, keluargaku juga tidak kaya, apalagi terkenal, " ucapku berbisik takut di dengar oleh yang lain. Aku menyeka sudut mataku perlahan menahan sesak di dada.
"Ibu juga memiliki menantu tidak melihat seberapa hartanya, dan seberapa dia terkenal. Kalau masalah cantik itu relatif, mungkin menurut orang-orang pada umumnya Fira itu sangat Cantik tapi bagi Dewanta kamu lah wanita tercantik yang ada dimuka bumi ini," ibu mertua memelukku dan membantu menghapus air mataku.
"Kamu mau bukti kalau kamulah wanita tercantik dimatanya? saat Fira merayunya, Dewanta bahkan tidak bergeming sama sekali. Itu bukti kalau kamulah wanita terkasihnya. Ibu juga begitu, sebaik apapun wanita diluar sana, wanita paling berharga dimata ibu adalah kamu, karena kamu yang telah mengurus ibu, kemarin, saat ini dan seterusnya.
"Terima kasih ya bu, ibu memang mertua yang baik, aku tulus menyayangi ibu sama seperti sayang Zahra pada mama. Maaf ya bu... karena Zahra telah salah paham, Zahra fikir ibu mendambakan menantu seperti Fira.
Aku dan ibu pun berpelukan, terkadang aku merasa sangat beruntung, mempunyai suami tampan, setia dan kaya, mertua yang baik dan perhatian, sepasang anak yang tumbuh sehat. Kalau orang tua ya sudah tentu baiklah.
"Abah itu tidak usah ikut campur, itu urusan mertua dan menantu, enggak etis bah!!...."mama yang duduk disamping abah pun ikut juga berseloroh.
Kini mobil kami terus melaju membelah jalanan berbatu yang begitu sepi, namanya juga jalan pedesaan tidak seperti jalanan kota yang mulus dan ramai lancar. Kini mobil kami sudah memasuki gerbang desa Padang Gatah yang artinya kami sebentar lagi sampai dirumah abah dan mama orang tua kandungku.
Kak Dewanta memarkirkan mobilnya dihalaman rumah orang tuaku. Kami semua pun segera turun. Dengan langkah cepat dan tergesa-gesa segera turun dari mobil, setengah berlari aku masuk kerumah untuk menghampiri kedua buah hatiku yang aku titipkan pada pembantu rumah tangga.
"Umi Datang.. suara Teriakan Zahwa membuat hatiku merasa bahagia, rasanya aku sudah sangat rindu sekali.
__ADS_1
"Adek mana sayang?" tanyaku pada gadis kecilku.
"Adek bobo Umi, kalau Zahwa sudah bobo baru aja bangun, terus makan, makannya sendiri lho, enggak disuapi lagi" jawab Zahwa sambil terkekeh menggemaskan. Aku pun melihat putraku yang masih bayi sedang tertidur pulas dengan mulut menganga.
"Udah pinter ya anak umi, nanti kalau makan nggak usah disuapi lagi ya, kan sudah Besar, " belum selesai aku bicara, Zahwa sudah berlari menyongsong kedatangan ibu mertua.
"Nenek... Zahwa kangen," Zahwa memeluk neneknya. Memang sudah tiga hari Zahwa nginap dirumah orang tuaku di desa Padang Gatah, selama tiga hari pula dia tidak bertemu mertuaku, biasanya sepulang sekolah dia selalu minta diantar kerumah ibu mertua yang memang jaraknya cuma beberapa ratus meter dari rumah kami.
"Bu... buu... lihat ini ayah bawa apa," ayah menenteng bakul ditangan kanannya, sementara tangan kirinya mencengkeram belut sebesar jempol kaki orang dewasa. Sementara ibu melepaskan pelukan Zahwa lalu menggendongnya dan melangkah menuju teras rumah.
Ada apa sih ayah teriak-teriak, Ya ampuuun....ayah, geli yah... ayo masukkan lagi kebakul ah...ibu kan geli yah... " Mertuaku berteriak histeris melihat apa yang ayah lakukan.
"Ibu ini kalo sama belut ayah main cengkeram aja, kalau belut yang ini sok-sokkan geli," sahut ayah mertuaku membuat kami semua tertawa terpingkal. Seumur hidup aku jadi menantu ayah, baru kali ini melihat ayah bertingkah lucu. Sepertinya ayah mengikuti gaya pak Langit dan pak Warjito yang selalu bertingkah konyol namun menyenangkan dan membuat banyak orang tertawa bahagia.
" Bapak ini sudah tua jangan ngomong yang aneh-aneh pak malu sama yang muda, " sahut ibu sembari masih tertawa.
Sementara abah sibuk memasukan belut ke beberapa bakul dan menyerahkan kepada salah satu pekerja abah untuk diantar kerumah mas Galih di desa Mentereng, muka abah masih saja tersenyum melihat tingkah ayah mertuaku.
********
__ADS_1