
(POV) Retno
Semenjak anak-anak.semakin dewasa dan bisnis suamiku semakin maju. Aku mulai memperluas pergaulanku dengan bergaul dengan kaum sosialita. Persaingan gaya hidup glamor sudah menjadi hal yang biasa dalam keseharianku. Sebagai istri seorang pengusaha kaya, aku dituntut untuk selalu tampil sempurna dalam segala suasana. Pendapat para ibu-ibu kaum sosialita yang kerap menyanjungku karena gaya hidupku membuatku aku merasa sosok yang sempurna dan tanpa sadar aku sering tanpa sadar memaksa dan menyakiti hati keluarga kecilku.
"??Tentu saja aku masih sangat mencintai papa, biarpun papa sudah tua dan lettoy, bagiku tak masalah karena kita sudah sama-sama tua dan sama-sama lettoy. Tak ada sedikitpun niat dihatiku untuk berpisah dengan papa, karena papa adalah jodoh yang terbaik yang Tuhan kirim untukku. Justru papa yang sepertinya sudah tidak cinta sama mama, papa tega ninggalin mama sendirian dirumah ini, rumah yang sudah puluhan tahun menjadi saksi suka dan duka kita," jawabku atas pertanyaan suamiku yang menanyakan perihal perasaanku saat ini kepada.
"Kalau mama memang mencintai papa dan Dion, berjuanglah untuk berubah ma... Jauhi ibu-ibu sosialita yang menjadi teman-teman mama saat ini. Bergaul dengan mereka hanya membuat hati mama tidak pernah puas dengan apa yang kita dapatkan dan apa yang telah kita miliki. Bergaul dengan mereka hanya membuat hati mama panas dan ambisi mama menjadi melambung. Masih banyak ma.....orang-orang yang hidupnya susah, yang penghasilannya pas-pasan hanya untuk makan," ujar suamiku sembari merangkulku dan memberikan pelukan hangat yang menetramkan hatiku.
Aku mulai menyadari betapa aku selama ini lupa untuk bersyukur karena Tuhan telah memberikan banyak sekali kebahagiaan, suami yang baik, anak, menantu dan cucu yang baik pula.
Baru sekarang aku sadari betapa Tuhan telah mempertemukan aku dengan Dirgantara, pria tertampan dikampusku yang begitu mencintaiku dan tak pernah sedikit pun berpaling kepada wanita lain, dia selalu bilang, wanita diluar sana memang lebih cantik, lebih seksi, mendapatkan mereka semudah membalik telapak tangan. Itu karena aku punya uang, sesungguhnya mereka hanya tertarik kepada uangku. Bagiku mereka tidak ada harganya, istriku adalah wanita paling berharga untukku karena dialah yang mencintaiku tanpa syarat, kami berjuang bersama membangun keluarga bahagia dan membesarkan perusahaan. Nilai perjuanganku dan istriku yang membuat istriku menjadi wanita paling berharga dalam hidupku," itulah yang selalu diucapkan suamiku saat kami bercengkerama.
"Bagaimana mama, apa mama mau berubah?," tanya suamiku. Kalau mama mau berubah maka papa akan pulang, kita akan isi hari tua kita dengan mengikuti pengajian dan siraman rohani. Kita pergi jalan-jalan melihat betapa banyak orang-orang yang nasibnya kurang beruntung seperti kita. Kita akan sumbangkan sebagian harta kita kepada orang yang membutuhkan agar hidup kita selalu diberkahi, dilimpahi kebahagiaan hingga kita berpulang dan berkumpul lagi disurga," ucap suamiku. Aku hanya bisa mengangguk tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun hanya air mata bahagia yang mengalir tanpa terasa.
__ADS_1
"Alhamdulillah mama, Dion bahagia sekali, supaya mama tidak jenuh bagaimana kalau mama ikut Dion kerumah baru Dion yang berada dipinggiran kota. Rumahnya cukup mewah, walaupun lebih mewah rumah ini, tapi suasananya sangat menyenangkan," ujar Dion yang terlihat antusias dan sangat bahagia.
Akhirnya aku pun bersiap-siap untuk ikut Dion kerumahnya, bertemu cucu dan menantuku. Rasanya aku ingin sekali meminta maaf pada Yunian, karena aku telah menyinggung perasaannya dengan merendahkan asal-usulnya, tanpa memandang kepribadian dia yang begitu baik dan melayaniku dengan begitu sabar.
Aku membersihkan tubuhku terlebih dahulu setelah beberapa hari aku malas mandi. Berhias sederhana saja, aku memulai hidup seperti dulu, sebelum mengenal kaum sosialita. Aku juga telah memutuskan untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Kehidupan, dengan cara mengikuti pengajian, maj'lis dan sejenisnya. Aku akan menggunakan uangku untuk membantu orang yang lebih memerlukan dari pada dibelikan barang mewah yang kurang manfaatnya.
Aku membawa beberapa baju ganti, siapa tahu nanti, papa Dion mengajakku menginap disana, seminggu tidak bertemu dengannya rasanya aku sudah sangat rindu. Dengan menggunakan mobil kesayangan Dion kami bertiga meluncur meninggalkan rumah mewahku yang senantiasa menjadi saksi bisu, indahnya jalinan cinta antara aku dan dia, Dirgantara lelaki tampanku.
Dion duduk dikursi kemudi, sementara aku dan papa Dion duduk dikursi kedua. Tangan papa dari kedua anakku tak pernah melepaskan pelukannya, sesekali dia mencium keningku dengan mesra. Sepertinya dia juga merindukanku seperti aku yang selalu rindu padanya. Begitulah kisah cinta aku dan dia yang tak pernah lekang diterpa usia.
"mama ingatkan waktu kita nginap dirumah besan bersama keluarga pak langit. Lihat ma...keluarga pak Langit yang sekarang menjadi tokoh idola mama, mereka sangat merakyat, mereka mau makan beralaskan daun pisang bersama orang-orang yang mungkin menurut mama tidak selevel. Tapi mereka tidak memikirkan level walau meraka orang kaya. Karena bagi mereka harta bukan standar untuk menentukan derajat manusia. Jadi mereka merasa ya sama aja seperti orang kampung lainnya, cuma tempat tinggal dan pekerjaan merekalah yang berbeda," suamuku terus bercerita hingga mobil yang aku tumpangi telah cukup jauh meninggalkan rumah.
Memang kalau aku lihat kehidupan mereka begitu menyenangkan dan tanpa beban, bersenda gurau, bercanda bersama tanpa ada batasan dan tanpa ada ambisi agar terlihat lebih baik, lebih glamor dan lebih-lebih yang lainnya.
__ADS_1
Setelah sekian lama aku berada di dalam mobil. Akhirnya mobil memasuki sebuah komplek yang elit dengan rumah-rumah dan tidak sembarangan orang bisa masuk. Namun hunian itu berada di antara area perkebunan jeruk yang tumbuh subur dan sedap dipandang mata. Ingin rasanya aku turun dan memetik buah jeruk kemudian memakannya langsung dibawah pohonnya.
"Nanti kita ajak Yunian, Kiran dan Jordan untuk jalan-jalan memetik jeruk sembari melihat pemandangan yang masih asri ma...Kemarin aku sudah mengajak Yunian dan anak-anak, mereka senang sekali.
Perkebunan jeruk ini milik Developer yang sengaja ditanam diantara unit-unit perumahan dan dipinggir-pinggirj alan? guna menambah indah perumahan, di sebelah sana juga ada tanaman buah lainnya seperti rambutan, lengkeng, mangga, cimpedak, durian, dan lainya. Namun sedang tidak musim berbuah dan kami penghuni komplek bebas memetik dan menikmatinya," ujar Dion putraku.
Senang rasanya mendengar pemaparan Dion. Sejenak aku melupakan segala ambisiku. Semoga aku bisa merubah diriku menjadi lebih baik, menjadi manusia yang pandai bersyukur dan selalu bahagia dan bisa membuat bahagia orang lain terutama suami, anak. cucu-cucu dan menantu.
Kini mobil Dion memasuki sebuah halaman yang lumayan luas, ada satpam yang berjaga dipost satpam yang terletak tepat di pintu masuk. Sebuah rumah berlantai tiga berdiri megah dihadapanku. Rumah itu memang tak sebesar rumah yang aku tempati bersama Dirgatara suamiku. Namun tampak begitu nyaman dengan angin bertiul spoy-spoy.
"Ayo masuk ma, ada mertuaku di dalam, beliau sudah bebepa hari disini. Mama bisa bercengkerama dengan beliau," ujar Dion Sambil menggandeng tanganku.
"Mama....terima kasih mama sudah datang kerumah kami, Yunian senang sekali ma!!....," ujar Yunian yang berlari keluar menyambutku dan langsung memelukku.
__ADS_1
********
"