Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 73. Gagal Lagi


__ADS_3

(POC) Santi


Sudah sebulan aku bekerja dikebun pak Dewanta sebagai pembrondol sawit. Rasa lelah yang aku rasakan setiap hari membuatku hampir saja menyerah. Jika tidak ingat tujuan sebenarnya aku bekerja disini. Mungkin aku sudah kabur dari sini.


Berulang kali aku mendekati pak Dewanta. Dan mencoba memancingnya, tapi pak Dewanta tetap cuek. Aku sudah beberapa kali memberi makanan saat berada diarea kebun yang sepi namun pak Dewanta selalu punya alasan untuk menolak.


Aku merasa usahaku tidak ada kemajuan. Sementara aku sudah tidak tahan bekerja di kebun, badanku terasa lelah, kulitku terasa kusam dan warnanya semakin gelap karena sering terpapar sinar matahari.


Hari ini aku mencoba menelpon Juita, sekedar ingin tahu bagaimana kabarnya, apakah dia juga mengalami banyak kendala seperti aku.


Di tepi jalan yang lumayan sepi, dibawah pohon ketapang, saat akan berangkat kerja, aku duduk santai diatas jok kendaraan aku menelpon Juita. Sudah lima kali aku menghubungi Juita tapi telponnya tidak aktif. Jujur aku merasa heran, sepertinya ada yang janggal. Kenapa nomor Juita tidak Aktif. Akhirnya aku putuskan untuk berangkat kerja. Rasanya hari ini mood ku sedang jelek. Apa yang salah dalam hidupku, kenapa kegagalan demi kegagalan terus saja aku alami, padahal impianku hanya sederhana, menjadi istri orang kaya, tidak harus lajang, suami orang pun tak apa.


Sampai dikebun ternyata masih sangat pagi, belum banyak karyawan yang datang. Kulihat Santo dan Edi sedang duduk santai mengobrol disebuah gazebo yang terletak di tengah kebun, dimana kami biasanya melepas lelah saat jam istirahat. Aku pun ikut duduk santai di dekat mereka.


"Tadi Juita telpon aku, katanya majikan dia baik sekali, sekarang dia bekerja dipabrik majikannya, tidak lagi bekerja jadi pembantu," kata Edi sambil menghisap rokoknya kemudian menghembuskan asapnya pelahan-lahan.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu kabarnya. Sebenarnya aku khawatir juga kalau Juita jadi pembantu. Yang ditakuti, kau kan tau sendiri bagaimana gaya berpakaian Juita, bahkan dia rela keluar kerja dari sini karena tidak mau merubah gaya berpakaiannya. Apalagi kalau ingat bagaimana genitnya dia saat dia mendekati dan merayu pak Dewanta. Tapi mudah-mudahan suami majikannya lelaki yang kuat iman dan tidak gampang terlena dengan rayuan seorang Juita," Santo menyalakan lagi sekuntum rokok dan menghisap.


Aku terkejut mendengar obrolan mereka. Kalau Juita tadi subuh telepon Edi artinya kemungkinkan hand phonenya baik-baik saja, tapi kenapa saat aku telpon dia tidak angkat, aneh sekali!!!!.


" Tadi dia cerita juga, kalau dia ingin insaf. Ingin menjadi wanita baik-baik, dia tadi mengakui juga kalau dulu sering menggoda suami orang terutama orang kaya, dia ingin sekali mempunyai banyak harta. Tapi dia sudah menyadari kalau itu perbuatan yang tidak baik karena menginginkan harta suami orang itu sama menyakiti hati istri dan anak-anaknya. Sekarang dia rajin mengikuti pengajian setelah pulang kerja dari pabrik. Dia juga mempunyai impian menikah dengan orang lajang, walaupun tidak kaya terus membina rumah tangga yang bahagia walaupun hidup sederhana," sahut Edi lagi, sambil menghisap rokok kemudian menghebuskannya.


"la itu namanya peluang Ed, kamu kan dari dulu naksir dia, kenapa tidak kamu lamar saja dia, toh sekarang dia sudah menjadi wanita yang baik dan tidak matrealistis," kata Santo dengan begitu antusias. Aku terkejut mendengar obrolan mereka.


"Kok kamu tau kalau aku naksir dia, tapi memang iya sih!!!...he......he.... Cuma selama ini aku cenderung menepis perasaanku dan membuang jauh-jauh rasa cintaku. Karena aku tahu dia itu seperti apa, aku tidak mau mempunyai istri genit sama laki-laki lain. Dan selain itu dia matre, mana mampu aku memenuhi kebutuhannya, seandainya mampu pun sayang rasanya menghabiskan uang hanya untuk berfoya-foya seperti yang biasa dilakukan oleh Juita, lebih baik aku mencari istri wanita baik-baik, yang mengerti keadaanku, yang setia kepadaku walau dalam keadaan suka maupun duka. jawab Edi, matanya menerawang dan memandang kedepan mengingat sosok Juita.


Aku masih terus mendengarkan obrolan mereka sambil memainkan hand phone pura-pura tidak mendengarkan. Tak lama kemudian semua pekerja telah datang. Kami melakukan brieffing sebentar untuk menerima pengarahan dari pak Dewanta. Setelah brieffing aku langsung bergabung dengan teman-temanku sesama wanita untuk memulai pekerjaan.


Kulihat pak Dewanta duduk sendirian di Gazebo sambil memainkan hand phonenya. Biasanya jika melihat kondisi seperti itu, aku tak pernah menyia-nyiakan kesempatan, langsung saja aku mendatangi pak Dewanta mengajaknya ngobrol atau terkadang memberinya makanan dan sekalian membubuhkan obat perangsang. Toh tempat ini sepi, para pekerja semua sibuk dengan pekerjaannya dengan jarak yang lumayan jauh. Namun anehnya tak sekalipun pak Dewanta memakan makanan pemberianku. bahkan pernah pak Dewanta dengan muka datar membuang makanan pemberianku dikubangan air yang terletak tidak jauh dari gazebo.


Hari ini, tak sedikitpun hatiku tergerak untuk mendekati pak Dewanta apalagi merayunya. Bayang-bayang muka datar pak Dewanta selalu membekas dihatiku. Sepertinya pak Dewanta sangat membencikku. Aku terus melangkah bekerja dengan teman-teman satu tim mengumpulkan berondolan sawit hingga sore hari.

__ADS_1


Setelah pekerjaan selesai aku melajukan sepeda motorku dengan kecepatan tinggi. Perasaan dongkol, marah sedih campur aduk menjadi satu.


Hari ini adalah hari dimana aku berada dipuncak keputus asaan. Aku merasa gagal mengambil hati pak Dewanta, bahkan aku lihat ada kebencian dari sorot matanya. Padahal seingatku, aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Bahkan aku tidak pernah berpakaian kentat, malah pakaianku cenderung tertutup walaupun aku belum mengenakan hijab. Sementara Juita, apa sebenarnya yang terjadi dengan dia, kalau dia sering menelpon Edi dan bercerita sekarang kerja di pabrik dan ingin menjadi wanita baik-baik. Bukankah tujuan awal dia kekota ingin memasuki dan menghancurkan rumah tangga Fira seperti mauku, dengan cara melamar menjadi pembantu dirumah Fira dan Galih. Apa dia tidak berhasil merayu Galih. Atau tidak pernah datang ke kediaman mereka, terus untuk apa aku cape-cape memintakan dia alamat rumah Fira sama bude Marni.


Karena rasa penasaran kembali menguasai perasaanku. Akupun berhenti dan mengambil hand phoneku, kemudian berusaha menghubungi Juita kembali, namun masih tetap tidak tersambung. Apa jangan-jangan Juita memblokir nomorku, terus apa maksudnya. Sepertinya aku harus menyelisiki apa yang terjadi dirumah Galih dan istrinya. Mungkin sebaiknya aku menemui bude Marni untuk mengorek bagaimana keadaan rumah tangga Galih dan Fira.


Tuiiiiiit....


Tuiiiiiit....


"Santi!.... ngapain berdiam diri ditempat sepi, hati-hati nanti ada orang jahat," Sebuah mobil mewah berhenti tepat disampingku. Ternyata Yunian dan mas Dion yang ada didalam mobil tersebut.


"Mas Dion, Yunian, apa kabar? Apa kalian akan menuju kerumah bude Marni?" tanyaku pada mereka. Ternyata mereka akan menuju ke desa Padang Gatah tempat dimana Yunian dan Dion tinggal dulu sebelum pindah ke kota, tapi mereka juga bilang akan mampir kerumah bude Marni. Setelah mengucapkan salam mereka pun berlalu meninggalkanku dengan mengemudikan mobil mewahnya.


Mas Dion tampaknya sudah hidup bahagia dengan Yunian sepupuku. Kenapa Tuhan sedemikian pilih kasih. Bertahun-tahun aku mengejar cinta mas Dion, dengan berbagai macam cara. Tapi hasilnya sangat menyakitkan. Sementara Yunian, gadis lugu, yang apa adanya, tidak suka berhias diri, jangankan perawatan. Pakai lipstik aja cuma kalau ke penganten. Dia malah mendapatkan lelaki seperti mas Dion, yang gagah, tampan dan kaya. Apa sebenarnya kelebihan Yunian hingga bisa membuat mas Dion jatuh cinta kepadanya.

__ADS_1


**********


__ADS_2