Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 15. Pertemuan dengan Kiran


__ADS_3

(POV) Fira


Kami semua terkejut mendengar ucapan Kiran, bagaimana tidak anak sekecil itu sudah bicara istilah pelakor.


"Kiran, mama dan papamu itu bukan suami istri, mereka tidak pernah menikah sayang," ucap mama mertua memberi pengertian kepada cucunya.


"Tapi mama dan papa teman-teman Kiran, mereka menikah menjadi suami istri dan tinggal satu rumah oma," ucap Kiran.


"Tapi mama dan papa Kiran itu berbeda sayang, mereka itu apa yah namanya?,...different kingdom," ucap mama mertua membuat semuanya tersenyum.


"Oh, begitu ya oma, Kiran paham sekarang," ucap Kiran, kini dia melangkah mendekati Dion.


"Papa bolehkah aku peluk papa?, bolehkah aku bermain dengan papa seperti teman-temanku yang selalu main dengan papanya?" Kiran akan memeluk Dion namun Dion langsung menghindar.


"Maaf saya mau istirahat dulu," jawab Dion sambil berlalu melangkah menuju ke kamarnya.


"Kiran, kiran main sama oma sama opa ya, tante mau nemenin papa kamu, soalnya tadi dia lagi nggak enak badan," ujarku sambil berjongkok menyamakan tinggiku dengan tinggi Kiran.


"Bolehkah Kiran ikut, soalnya Kiran mau menghibur papa, Kiran bahagia banget, soalnya Kiran punya papa seperti teman-timan Kiran disekolah," ujar kiran dengan gaya yang menggemaskan.


"Sebaiknya lain kali aja ya, soalnya papa lagi enggak mau diganggu, Kiran sayang kan sama papa, kalau Kiran sayang sama papa, Kiran enggak boleh ganggu papa," ucapku pada Kiran. Akhirnya dia mengangguk dan mau menurut dengan yang aku ucapkan. Aku langsung melangkah menuju kamar kami kemudian masuk, kebetulan pintunya tidak dikunci.


"Kamu kenapa sayang, kenapa sikapmu begitu?" aku bertanya pada suamiku seraya duduk disampingnya dan mengelus pundaknya perlahan.


"Aku tidak tahu, rasanya aku jijik lihat anak itu, seperti melihat tingkah ibunya yang begitu aku benci. Sesak rasanya dada ini bila mengingat kenyataan ini. Aku merasa diriku kotor karena mempunyai anak diluar nikah, selama ini aku selalu menjaga diri agar tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas. Tapi kenapa semua ini terjadi padaku, ujian macam apa ini, rasanya aku tidak sanggup," tangis Dion pecah, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah juga. Aku memang shock dan terpukul menerima kenyataan ini, namun aku mencoba berbesar hati dan menganggap semua ini sebagai takdir. Beda dengan Dion, dia sepertinya sulit menerima kenyataan ini.


"Ya Allah seandainya ini adalah ujian pernikahan dariMu, hamba mohon kuatkanlah hati kami," doaku didalam hati.

__ADS_1


"Sayang, kamu tidak boleh terlalu larut dan meratapi apa yang sudah terjadi, mungkin ini sudah ketentuan dari yang Maha Kuasa, mungkin ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa ini," ucapku seraya memeluknya.


"Agama kita melarang kita berkhalwat atau berdua- duaan ditempat sepi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Ternyata inilah akibatnya, seandainya saja waktu itu aku tidak mau menemui Santi, pasti hal ini tidak akan terjadi, dia tidak akan punya kesempatan untuk menjebakku," ujar Dion.


"Ayo keluar, kita temui mereka," ucapku. Tapi Dion menolak untuk keluar, dia minta diberi kesempatan untuk menyendiri, menguatkan hatinya yang saat ini begitu rapuh. Akhirnya akupun keluar menuju ruang tamu. Ternyata Kiran sedang berpamitan dengan papa dan mama mertua.


"Kiran pulang dulu ya oma, opa, lain kali Kiran boleh main kesini kan?," ucap Kinan sembari mencium tangan papa dan mama mertua.


"Tentu saja sayang, Kiran boleh kesini kapan saja Kiran mau," jawab mama mertua.


"pa, ma, eh...maaf om tante Santi pamit dulu, lain kali kami akan kesini lagi," pamit Santi pada mama dan papa mertua. Dan dibalas anggukan dan senyuman oleh kedua mertuaku.


"Eh anak gadis, udah mau pulang aja nih," sapaku pada Kiran.


"Papa mana tante, kok enggak mau main sama Kiran, enggak boleh ya sama tante, tante nakal ah, nggak seru!!," ucap Kiran dengan nada kesal.


"Aku tahu kamu melarang Dion untuk ketemu aku dan anakku Fira, tega sekali kamu memisahkan anakku dan papanya. Awas saja, suatu saat aku akan merebut Dion Darimu," Santi berbisik ditelingaku. Aku hendak menjawabnya, namun Santi sudah keburu menjauh dari hadapanku kemudian mereka menaiki taksi online.


Santi sudah beberapa kali membawa Kiran ketempat mertuaku. Namun Dion tak pernah mau menemuinya. Akhirnya aku mengalah menemui mereka, hal itu membuat Santi dan Kiran semakin menuduhku tidak mengijinkan Dion untuk bertemu mereka. Bila dihadapan mertuaku Santi selalu bertingkah manis dihadapanku, tapi saat mertuaku pergi kedapur atau ada keperluan lain. Santi selalu mengancam akan mengambil Dion dariku.


********


huek....huek....huek.....


"Kamu masih mual aja dari pagi sayang, nanti kita periksa kepuskesmas ya, mudah-mudahan kamu hamil," ucap Dewanta pada Zahra istrinya. Tangannya terus memijat tengkuk dan leher Zahra menggunakan minyak kayu putih.


"Jangan terlalu berharap kak, takutnya nanti kecewa, bukannya bulan tadi aku juga telat, tapi nyatanya setelah telat seminggu akhirnya aku haid juga," ucap Zahra pada suaminya.

__ADS_1


"Ya siapa tahu kali ini kita beruntung, tidak apa-apa kan kita berharap, yang penting berharap disertai berdoa dan berusaha. Berusahanya kan udah tiap malam kita ngadon," ucap Dewanta pada istrinya.


"Kakak ini dalam situasi seperti ini masih juga mengingat itu," ucap Zahra sewot. Dewanta hanya membalas ucapan istrinya dengan pelukan. Setelah rasa mual Zahra mulai berkurang, Dewanta membawa istri tercintanya ke puskesmas terdekat.


Selamat pak Dewanta, istri bapak positif hamil, ini usianya sekitar enam minggu, tolong dijaga ya pola makannya, jangan terlalu cape, soalnya kandungannya masih rawan karena usianya masih muda, nanti saya beri vitamin dan jangan lupa diminum satu hari satu kali" ucap seorang bidan yang bertugas dipuskesmas.


"Terima kasih bu, saya sangat bahagia karena ini anak pertama saya serta cucu pertama bagi orang tua juga mertua saya,"ucap Dewanta gembira.


Setelah pulang dari puskesmas Dewanta langsung menuju kerumah orang tuanya yaitu pak Sukarta dan ibu Wajirah. Dia ingin segera mengabari ayah dan ibu tentang kehamilan istrinya.


"Alhamdullilah sebentar lagi ibu bisa gendong cucu," ucap bu Wajirah.


"Nanti biar ayah yang gendong bu, ibu bagian mencuci popoknya saja," pak Sukarta menimpali.


"Yang nyuci popoknya biar susternya saja yah, kita kan bisa gantian gendongnya. Lagian ayah kalau kelamaan gendong cucu nanti encoknya kambuh," jawab bu Wajirah.


"Kak abah dan mama belum dikabari kalau aku hamil," ujar Zahra memberi tahu Dewanta suaminya. Dewanta langsung mengambil ponsel di saku celananya. Baru saja ingin memencet aplikasi hijau, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Assallamu allaikum abah, panjang umur, baru saja Dewanta mau mengabari abah," ucapan Dewanya langsung dipotong pak Sasmito.


"Dewanta tolong abah dikebun..toloong...De," panggilan terputus. Dewanta seketika panik begitu juga Zahra yang ikut mendengarkan pembicaraan tadi.


"Telpon mama tanyakan abah dimana," ucap Dewanta pada istrinya. Kemudian Zahra mengambil ponsel dalam tasnya, kemudian menelpon mamanya, namun tak diangkat tapi zahra tidak putus asa, dia terus menghubungi hingga tiga kali panggilan tak terjawab dan pada panggilan keempat akhirnya mama mengangkatnya.


"Hallo mama, abah lagi dimana," ucap Zahra to the point.


"Di kebun, ada apa sih tut....tut...tut," Zahra langsung mematikan ponselnya. Dewanta buru-buru mengambil sepeda motornya panik. Namun baru melangkah beberapa saat telponnya berbunyi. Ternyata nomor pribadi, saat diangkat ternyata dia adalah anak buah abah yang mengabarkan bahwa abah tertimpa pohon karet yang tumbang saat angin ribut tadi. Kondisinya tak sadarkan diri. Warga segera membawanya ke puskesmas terdekat.

__ADS_1


*******


__ADS_2