
(POV) Dinda
"Dinda kamu pasti lupa sama aku, mentang - mentang aku sudah tua, kamu begitu mudahnya melupakan aku," dia berbicara. Rasanya aku mengenal suara itu.
satu detik, dua detik, tiga detik, aku ingat dia adalah Rupiah teman masa kecilku. Rupiah adalah anak seorang asisten rumah tangga yang bekerja pada tetanggaku. Setiap hari Rupiah selalu ikut bekerja pada ibunya. Setiap kali ibu Rupiah bekerja aku selalu mengajaknya main kerumahku. Awalnya ibu Rupiah selalu melarang Rupiah bermain denganku dengan alasan takut merepotkan dan merasa tidak pantas anak pembantu bermain dengan anak seorang pengusaha. Namun ibuku selalu meyakinkan bahwa beliau tidak keberatan putrinya bermain dengan anak seorang asisten rumah tangga.
Persahabatan kami berlangsung hingga aku lulus SMP. Walaupun kami tidak bersekolah disekolah yang sama dan Rupiah pun tak lagi ikut ibunya bekerja dirumah tetanggaku. Namun sering kali aku yang datang kerumah Rupiah yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumahku. aku juga sering mengajak Rupiah main kerumahku bahkan mamaku sering meminta Rupiah menginap dirumahku saat beliau ada pekerjaan diluar kota.
Setelah aku masuk SMA Rupiah sekeluarga memutuskan untuk pulang kembali kekampung halamannya karena kakeknya meninggal dan ayahnya harus meneruskan pekerjaan kakaknya. Setelah itu kami tak pernah bertemu kembali, namun aku masih menyimpan foto kebersamaan kami dahulu.
"Kamu Dinda anak konglomerat, sahabatku yang baik hati itu kan," ujar wanita yang aku ingat dia bernama Rupiah.
"Rupiaaaah" kami langsung saling mendekat merentangkan kedua tangan dan kemudian berpelukan.
"Aku sangat Rindu sama kamu Rupiah, aku kangen, selama kepulanganmu kekampung halamanmu, aku tidak pernah memiliki sahabat sebaik dan setulus kamu. Aku telah mencari kabar tentang keberadaanmu. Namun kamu seperti lenyap bak ditelan bumi.
"Sama Dinda aku juga sangat rindu sama kamu. terkadang jika aku pergi ke kota, ingin sekali aku mampir kerumahmu, tapi aku takut kamu sudah tidak mengenaliku lagi. Apalagi saat aku menceritakan tentang persahabatan aku dan kamu pada suamiku,dia tidak pernah percaya. katanya tidak ada orang kaya yang mau berteman dengan orang miskin sepertiku. Seandainya ada mungkin dulu dia masih kecil tidak paham tentang memilih teman yang cocok sesuai srata sosialnya. Jadi dia menyuruhku untuk melupakanmu," ucap Rupiah sambil melepaskan pelukannya dan kembali duduk dengan air mata yang mengalir dikedua belah pipinya. Akupun tak kuasa menahan tangis bahagia.
"Tidak apa-apa yang penting kita sekarang sudah bertemu lagi. Kita jalin lagi tali persahabatan, walaupun usia kita tak lagi muda walau aku tidak tahu talinya masih bagus atau tidak, " ucapku disambut gelak tawa oleh semuanya.
"Silakan diminum bu Dinda airnya, ibu pasti haus setelah menempuh perjalanan jauh," ucap bu Marni calon besanku.
__ADS_1
"Haus saya sudah hilang, cape saya juga mendadak lenyap bu, berkat ketemu sahabat lama," ucapku.
"Itu baru ketemu sahabat lama, bagaimana kalau ketemu pacar lama, bisa ada yang cemburu," Fira putriku menimpali.
"Bapaknya cemburuan juga bu, kok sama dengan istri saya, dia suka cemburu juga, kalau sudah kambuh cemburunya bikin kita tak berdaya, bingung menjelaskannya, begini ngambek, begitu ngambek," Pak Warjito menyahut sambil tertawa tak perduli pelototan mata bu Marni.
"Cemburu kan tandanya cinta, cemburu juga bisa jadi penghangat suasana sehingga jalinan cinta suami istri yang hampir berkarat kini kinclong kembali, asal cemburunya tidak berlebihan, tidak sampai bakar-bakar rumah segala, " Langit suamiku membela diri.
"Betul itu pak, saya terkadang bangga kok, kalau mamanya Galih lagi cemburu, rasanya seperti orang paling ganteng sedunia," jawab pak Warjito hingga mereka tertawa terpingkal - pingkal.
Mereka terus berbicara sambil berseda gurau. Sementara Rupiah mengajakku kedapur.
"Ayo kita masak masakan kesukaan kita seperti dulu, " bisik Rupiah tepat digendang telingak yang merupakan kebiasaannya semenjak dulu.
"Kita buat hantaran tatak kamu masih suka kue itu kan," ucap Rupiah.
"Aku memang suka kue hantaran tatak tapi hanya buatanmu, kalo beli dilain rasanya beda. Kemarin Fira membawa hantaran tatak katanya rasanya enak banget, apa kamu yang buat," tanyaku pada Rupiah.
"Iya, aku yang membuatnya, enggak nyangka ternyata Fira anakmu Dinda, pertama aku mengenalnya saat Galih mengajaknya kerumahku aku langsung merasa nyaman ngobrol sama dia. Sama seperti waktu pertama kita ketemu. Dia lahir dari keluarga berada, berpendidikan tapi sedikitpun tak ada sikap angkuh dalam dirinya, begitu rendah hati dan merakyat sepertimu Dina.
"Kamu ini Rupiah, kalau sudah memuji orang seperti orang kempanye aja," ucapku yang disambut derai tawa kami berdua. persis sewaktu aku bersamanya dahulu, selalu bercanda dan saling meledek.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong nih, kamu kesini selain melihat tempat untuk resepsi perkawinan Galih Dan Fira untuk apalagi? kalau boleh tahu sih!!, siapa tahu ada niat untuk jalan-jalan, aku bisa temani kok," ucap Rupiah.
"Begini lho Rupiah, sebenarnya aku enggak enak mau curhat sama kamu, biar bagaimana pun kamu kan kakaknya bu Marni calon besanku," ucapku
"Alahhh!! kamu ini nggak usah pake enggak enak segala sama aku, Fira itu sudah seperti anakku sendiri, apalagi setelah aku tahu dia anakmu, udah cerita aja, siapa tahu dengan kamu cerita ganjalan yang ada dihati kamu bisa mendapatkan solusi atau paling tidak berkuranglah, " ujar Rupiah. aku pun akhirnya menceritakan apa yang menjadi kekhawatiranku mengenai pernikahan Galih dan Fira kelak dikemudian hari.
"Sebagai seorang ibu yang pernah menyaksikan putrinya gagal dalam pernikahannya, aku mengerti apa yang kamu rasakan Dinda. bahkan jika aku diposisimu aku pun akan merasakan hal yang sama. Tapi jauhkan prasangka buruk itu dari fikiranmu, jangan sampai fikiran burukmu justru mengganggu kebahagiaan Fira dan Galih. Kamu harus percaya cara orang menyikapi sesuatu masalah itu berbada-beda. Begitu pun Marni dan Warjito, mereka tidak mudah percaya pada hasutan orang. Dia selalu menyelidiki terlebih dahulu sebelum menanggapi dan mengambil sikap atas apa yang di dengar nya. Sedangkan Galih bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta, prinsipnya kuat seperti kedua orangtuanya. Aku adalah orang pertama yang akan menegur mereka, jika mereka menyakiti perasaan Fira, karena Fira sudah aku anggap seperti anakku sendiri," ucap Rupiah meyakinkanku. Aku fikir-fikir ucapan Rupiah benar juga, mulai sekarang aku tidak boleh berfikir jelek tentang mereka.
"Aku cari kemana-mana rupanya kak Rupiah lagi mojok disini sama bu Dinda," bu Marni adik kandung Rupiah datang menghampiri kami yang tengah membuat kue hantaran tatak sambil bercanda.
"Kami lagi membuat kue hantaran tatak. Karena menurut Dinda kue hantaran tatak buatan kakak lebih enak daripada beli ditempat lain. Soalnya kalau kue buatan kakak Gratis, " ucap Rupiah sambil mengerlingkan sebalah matanya.
"Kalau memang aku harus bayar kue buatanmu, berapapun harganya, pasti aku bayar, enak bagiku tetap enak. Kamu pikir aku enggak bisa membayar kue buatanmu dengan harga mahal," ucapku dengan gaya angkuh pada Rupiah.
"Iya, aku percaya Dinda anak konglomerat dan orang kayah, masa enggak mampu beli kue hantaran tatak, " ujar Rupiah dan bu Marni tertawa lepas.
Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba pak Warjito masuk kedapur.
"Mama, coba lihat siapa yang datang didepan pintu, apa mama lupa kalau mama sudah mengundang seseorang untuk datang kerumah ini," ucap pak Warjito kepada bu Marni. Akhirnya kami semua melangkah keruang tamu sambil membawa kue hantaran tatak buatan Rupiah.
*********
__ADS_1
.