
(POV) Marni
Setelah mendapat kabar tentang Yunian dan keluarganya. Keesokan paginya, aku dan suamiku langsung meluncur berangkat menuju kekota dengan menggunakan mobil kesayangan suamiku. Tini yang ingin menengok Kiran pun ikut serta, sementara Tono tak berangkat karena ada hajatan dirumah tetangga.
Pagi-pagi buta saat sang surya masih terlelap diperaduannya, sementara sinar bulan sudah mulai meredup tertutup mendung, mobil kami meluncur meninggalkan desa Mentereng untuk berkunjung kerumah putriku Yunian yang sedang dalam masalah.
Sebagian ibu jika berada diposisiku saat ini mungkin akan sangat tersinggung dengan perlakuan mertua dari anak perempuannya yang meminta kepada putranya untuk menikah lagi dengan istri dari putraku sendiri, jika itu terjadi maka anakku Galih dan Yunian akan sangat terpuruk. Jika menuruti perasaan dan egoku pun demikian. Ingin sekali rasanya aku melabrak Retno dan membawakan batu-batu jalanan untuk melemparinya. Namun sisi lain dari hatiku yang waras pun mengajak hati nuraniku untuk berfikir jernih. Tuk mencoba memahami perasaan bu Retno besanku.
Mungkin kesuksesan sebagai hasil akhir dari kerja kerasnyalah hingga dia berada diposisi saat ini, kaya terkenal dan terhormat. Membuat dia merasa punya kuasa untuk memaksakan kehendaknya pada semua orang tanpa memikirkan perasaannya.
Tekanan dari lingkungan kaum sosialita kebanggannya telah memaksa ambisinya agar semua berjalan seperti yang dia inginkan. Mempunyai menantu yang sama-sama dari kaum terpandang agar popularitasnya terus meningkat di kalangan pergaulannya.
Waktu terus berjalan, sinar matahari kadang terik dan redup tertutup awan. Waktu telah menunjukan pukul sembilan, mobil kami telah memasuki kota. Melewati jalan yang mulus dengan kondisi lalu lintas yang ramai lancar.
Tak berapa lama kami telah sampai dikomplek elit dengan kondisi lingkungan yang begitu asri. Tanaman berbagai macam buah berdiri kokoh disepanjang jalan dan kebun yang ada antara rumah-rumah mewah. Kini aku telah sampai disebuah rumah dengan alamat yang kemarin dikirimkan Yunian putri tersayangku.
Sebuah rumah megah dua lantai berdiri kokoh dihadapanku. Aku benar-benar takjub dan terkesima memandangnya. Kulihat de Tini pun beberapa kali mengerjapkan matanya, untuk memastikan bahwa rumah di depan adalah tempat tinggal cucu semata wayangnya.
__ADS_1
"Benar ini rumahnya Dion papanya Kiran, coba mas Warjito turun dulu tanya sama satpam siapa tahu kita salah rumah," ucap de tini.
"Kalau di lihat dari alamat yang kemarin dikirim Yunian benar kok de Tini, tapi ada baiknya papa dulu yang turun dan tanya sama satpam," aku pun menyuruh suamiku seperti yang dilakukan Tini, walaupun dalam hati aku yakin kalau ini adalah rumah Dion. Karena aku tahu, walaupun Dion pergi dari rumah pak Dirgantara, tapi dia punya usaha sendiri yang berkembang pesat. Jadi bukan hal sulit bagi Dion untuk membeli rumah semegah ini. Aku bersyukur karena putriku mempunyai suami yang tampan kaya setia dan mencintai istrinya dengan setulus hati.
"Pak Warjito ya, sudah ditunggu pak, sama ibu Yunian," Kudengar satpam yang ada dipost penjagaan menyapa suamiku terlebih dahulu dengan mengangguk hormat, rupanya Yunian telah memberitahu satpam bahwa kami akan datang.
Mendengar ucapan satpam, suamiku langsung kembali kemobil dan duduk dibalik kemudi. Suamiku langsung menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobilnya memasuki halaman rumah. Sementara sang satpam terus mengarahkan mobil, hingga mobilpun terparkir di carport rumah Dion menantuku.
Semua yang ada didalam mobil satu persatu keluar. Hanya suamiku yang memilih duduk dimobil sejenak, walaupun pada akhirnya papa keluar juga. Aku terus mengamati seluruh sudut halaman rumah ini, semua tertata rapi dan sedap dipandang mata. Siapa yang menata tanaman ini, yang jelas bukan Yunian, karena ia tak mungkin sanggup, Mungkin Dion atau dia menyuruh ahli pembuat taman kemudian membayarnya. Siapapun yang menata taman ini, sudah pasti orang itu mempunyai jiwa seni yang tinggi.
Setelah memelukku Yunian pun memeluk papanya dengan manja. Aku sangat terharu penuh bahagia karena kami bisa berkumpul kembali setelah beberapa waktu tak berjumpa
"Papa Yunian kangen setengah mati sama papa," ucap Yunian dengan linangan air mata dan disambut pelukan hangat suamiku sebagai cinta pertamanya dengan beribu kenangan manis.
"Anak papa pasti kuat menghadapi segala ujian, jangan gunakan emosi dalam menyelesaikan masalah, tapi kamu harus berfikir jernih dan terus langitkan doa dalam setiap sujudmu," papa menasehati Yunian.
setelah acara adegan peluk-pelukan, kami semuapun di persilakan masuk kedalam rumah Yunian. Saat memasuki ruang tamu, aku kembali terpesona dengan interior ruang tamu yang begitu megah.
__ADS_1
Melihat kedatangan Tini, Kiran bersorak bahagia, memeluk Tini penuh rindu, hubungan Tini dan cucunya memang sangat dekat. Namun sayang mereka harus hidup terpisah karena persoalan orang tuanya.
Kami semuapun berbincang-bincang hingga tidak lama kemudian, Yunian datang untuk mengajak kami makan bersama. Namun dari tadi saat kami datang kulihat Dion tak tampak batang hidungnya. Akupun langsung menanyakan perihal keberadaan Dion saat ini kepada Yunian istrinya.
"Mas Dion sedang bekerja diperusahaannya sendiri yang lama sudah dia rintis ma," jawab Yunian.
Saat kami berada diruang makan ternyata ruang makan ini sangat megah seperti di hotel bintang lima. Semua makanan telah tertata rapi dan beberapa ART sibuk menyiapkan minuman.
Kami semua makan dengan lahap dan puas, rasanya makanan-makanan ini sangat lezat. Selesai makan, Yunian mengajak aku, papanya dan Tini untuk beristirahat diilantai dua.
Dengan perlahan dan hati-hati, aku menapaki anak tangga setapak demi setapak hingga akhirnya, raga tua ini sudah ada dilantai satu. Sekarang aku mulai mengerti tata ruang dirumah ini. Lantai dasar sepertinya digunakan untuk ruang tamu. Ruang tv, ruang makan dapur serta gudang sedangkan di lantai satu hanya ada kamar-kamar saja. Entah ada berapa kamar dilantai ini yang belum sempat aku hitung. Yunian mempersilakan aku dan Tini untuk memilih kamar sendiri, mana saja kami sukai kecuali kamarnya. kamar anak-anaknya dan kamar mertuanya.
Aku penasaran, digunakan untuk apalagi ya lantai dua. Karena rasa penasaranku itu, akhirnya aku pun menanyakannya pada Yunian. Ternyata lantai paling atas digunakan sebagai ruang olah raga, ruang rapat dan ruang kerja Dion, ruang tamu bagi para rekanan bisnisnya pun ada dilantai paling atas.
untuk pertama kalinya aku dan suamiku masuk dan tinggal disebuah rumah megah. Rumah yang biasanya hanya dapat aku saksikan disebuah sinetron kegamaranku. Dan rumah itu adalah rumah anak menantuku sendiri. Tak menyangka Yunian yang dulu gaya hidupnya sederhana, tak sekalipun aku pernah membelikannya barang mewah, tidak seperti Santi yang sering memaksa ibunya menuruti gaya hidupnya yang diluar kemampuan hingga Tini harus berhutang kesana kemari. Kini yang harus aku lakukan adalah meningkatkan syukur atas kebahagiaan anak-anakku.
**********
__ADS_1