
(POV) Fira
Aku sangat terkejut mendengar ucapan kak Yunian kakak dari mas Galih. Ternyata Santi telah menyebarkan Fitnah kepada banyak orang. Dan apa yang aku lakukan selama di desa Padang Sawit sudah diketahui banyak orang. Aku jadi sangat malu dan rasanya tidak sanggup untuk menjalani hidup di desa ini. Ya, walaupun sesungguhnya hidupku memang bukanlah disini karena aku lebih suka hidup dikota.
"Kakak tidak harus percaya begitu saja ucapan Santi, kakak tau kan siapa Santi, dia wanita seperti apa, mas Galih dan aku lalu menceritakan tentang kehidupan aku dan Santi yang sesungguhnya. Permasalahan aku dengan keluarga Zahra juga tak luput diceritakan oleh Mas Galih, agar kakaknya tidak ikut-ikutan membenciku.
"Kok bisa ya, bu Fira mencintai laki-laki yang sudah lama putus dan bertahun-tahun tidak pernah bertemu.," ucap Yulian.
"Jangan panggil bu rasanya enggak enak banget ditelinga, panggil aja Fira, "seloroh mas Galih pada sang kakak.
"Begitulah yang aku alami, cinta memang aneh, terkadang dia datang tanpa kita minta, bahkan untuk menolaknya pun sakit sekali rasanya. Bahkan aku harus meratap dan menangis karena rindu yang hadir dimalam-malamku yang hampa. Rindu pada laki-laki yang mungkin saja saat itu tengah terlelap dalam pelukan istri yang amat dicintainya. Rasanya hina sekali saat aku menyadari aku begitu mendambakan seseorang yang dia sendiri bahkan tak pernah peduli dengan keberadaanku," aku terus mengeluarkan beban fikiran yang selama ini menyesakkan dadaku. Baru sekali bertemu dengan kak Yunian, aku seperti telah mengenalnya bertahun-tahun lamanya hingga tanpa terasa semua beban yang selama ini aku pendam sendiri keluar tak tersisa.
"Ayo kita berangkat, ini sudah siang nanti keburu panas," mas Galih menyentuh pundakku untuk berangkat jalan-jalan menyusuri tempat-tempat indah di desa ini.
"Nggak terasa hari sudah siang, padahal aku masih betah ngobrol sama kak Yunian, rasanya seperti punya saudara perempuan," ucapku pada mereka.
"Lain kali ngobrolnya disambung lagi, aku senang ngobrol sama kamu Fira, ternyata kamu orangnya asyik banget. Sering-sering ajak Fira berkunjung ke desa kita Galih," ucap kak Yunian.
"Tentu kak, doakan kami berjodoh, agar setiap pulang aku selalu mengajak FIra," ucap Galih sambil tersenyum.
"Oh tentu saja adikku, terkadang aku kasian juga kalau ingat nasibmu yang begitu tragis, selalu jomblo seumuran, cintanya kandas sebelum berlayar," ucap kak Yunian sambil tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
Aku segera membonceng sepeda motor metik yang dikendarai oleh mas Galih. Tangan mas Galih menarik kedua tanganku agar memeluk pinggangnya.
"Begini dong, biar tidak dikira membawa istri tetangga," ucap mas Galih sambil tertawa. Aku segera mengikuti kemauannya, melingkarkan kedua tanganku dipinggangnya.
"Hemmm.... Begini rasanya.. nikmatttt," mas Galih bergumam, sangat pelan tetapi masih terdengar oleh kedua telingaku.
"Apaan sih!!, ucapku manja, sembari mencubit pelan pinggangnya.
"Aiiittt.. jangan begitu, nanti bangun yang dibawah, dia marah, " ucap mas Galih yang membuat bulu kudukku merinding.
Kembali kami menyusuri jalanan berbatu, disepanjang jalan yang kami lalui. Hanya Perkebunan karet milik warga yang kami lihat. Beberapa warga desa sedang sibuk berjalan diantara pohon karet sambil membawa botol air mineral berisi air sekitar satu setengah liter air dan mengucurkannya sedikit demi sedikit pada setiap batang pohon karet. Ada yang membawa sebilah pisau yang bengkok, mungkin itu yang disebut pisau sadap, kemudian melukai setiap batang pohon karet. Ini merupakan pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
"Mas, bapak dan ibu itu lagi ngapain," tanyaku pada mas Galih yang tengah memboncengku.
Kami terus mengendarai sepeda motor berdua, melewati perkebunan, karet, perkebunan sawit dan kini kami sedang berada diarea persawahan. Panen padi hampir tiba. Hamparan tanaman padi yang mulai menguning diarea yang luas sejauh mataku memandang semakin menambah indahnya alam persawahan. Air yang menggenang yang biasanya mengairi persawahan kini hampir mengering. Banyak para pemuda desa berpakaian lusuh berjalan berbondong-bondong menuju kesawah dengan membawa, bakul, karung beraneka wadah.
"Mau kemana para pemuda itu mas Galih?"tanyaku.
"Mereka ingin mencari ikan, jadi karena menjelang musim kemarau, maka air yang mengenang diparit-parit, lubakan-lubakan, dan disawah-sawah mulai mengering. ikan yang hidup disanapun mulai kekeringan. jadi mereka hendak menangkap ikan-ikan itu," mas Galih terus menjelaskan sambil sesekali tangannya menarik tanganku untuk terus memeluk pinggangnya lebih erat lagi.
"Ikan apa aja yang biasa mereka tangkap mas? " tanyaku kembali sambil terus memeluk manja punggung mas Galih, menghirup aroma harum tubuhnya yang membuatku ketagihan ingin terus menghirupnya lagi dan lagi.
__ADS_1
"Semua ikan yang ada disana, ada ikan sepat, ikan nila, ikan papuyu. ikan haruan, ikan belut juga ada," ucap mas Galih yang seketika menghentikan laju kendaraannya.
"Itu mereka lagi menangkap ikan, ayo kita lihat," mas Galih mengajakku turun dan menggandeng tanganku berjalan kearah sebuah parit penuh lumpur. Disana beberapa pemuda dengan tubuh penuh lumpur sedang menangkapi ikan yang tak lagi mampu berenang karena terjebak di lumpur.
Ada juga seorang pemuda sedang menggali tanah. Kemudian dari tanah yang digali tadi muncullah belut-belut dengan berbagai ukuran. aku memperhatikan mereka dengan begitu takjub. Rupanya begini cara mereka mendapatkan ikan. Selama ini aku hanya tahu bagaimana cara menikmati ikan saja tanpa tahu bagaimana cara mendapatkannya.
Setelah puas melihat anak-anak muda menangkap ikan kami pun melanjutkan perjalanan. Hari sudah jam satu siang. perut terasa lapar. Mas Galih mengajakku makan disebuah warung dipinggir jalan. Tepat diantara kebun-kebun sawit milik warga. Dari luar warung itu nampak sepi tapi ternyata setelah masuk kedalam warung dalam kondisi ramai. anehnya semua pengunjungnya laki-laki dan pelayannya gadis-gadis ABG berumur sekitar lima belas tahun hingga tujuh belas tahun, masih dibawah umur. Namun tingkah mereka begitu manja.
"Aku minum kopi satu sama mie berapa sayang?," tanya seorang laki-laki dengan perut buncit berkulit sawo matang.
"Kopi segelas dua puluh ribu, mienya tiga puluh ribu, jadi lima puluh ribu kak," ucap gadis ABG itu dengan gerak tubuh yang sengaja dibuat begitu menggoda. kemudian laki-laki dengan perut buncit itu menyerahkan uang pecahan seratus ribu rupiah dan langsung diterima oleh sang gadis.
"Passs ya kak, enggak usah pake kembalian," ucap gadis itu kepada lelaki perut buncit tadi yang lebih pantas panggil kakek.
"Okey sayang, " jawab lelaki perut buncit.
"Aneh sekali kelakuan orang-orang itu memalukan sekali, tapi ada yang anehnya harga teh yang biasa diwarung cuma empat ribu kenapa disini sepuluh ribu, mie rebus sebungkus paling mahal lima ribu sedangkan disini tiga puluh ribu, harganya mahal tak ada kembalian, tapi kok warungnya tetap rame pengunjung "batinku.
"Mau makan mbak, nasi lalapan ada, " tanya mas Galih.
"enggak ada kak, kita nggak jual nasi, kita cuma jual anuuu.... emm.. anuuu atau kakak sama dia mau anu," ucap Gadis itu sambil menunjuk kearah kamar yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Oh maaf....nggak mbak," ucap mas Galih sambil memegang tanganku dan menariknya keluar meninggalkan warung tersebut. Membuat aku benar-benar bingung dengan apa yang aku saksikan saat ini.
*******