
(POV) Rupiah
"Iya bu Zahra, saya sedang menemani papa dan mama saya untuk membeli belut sekaligus melihat bagaimana belut diternakan. Soalnya selama ini saya cuma tahu bagaimana cara menikmati belut, " jawabku seraya tersenyum.
"Jadi bu Fira anak temannya bude Rupiah yang dari Paris itu," tanya Zahra dengan kening berkerut.
" Betul sekali kalau saya anaknya pak Langit dan bu Dinda, itu orangnya." Fira menunjuk kearah kedua orangtuanya yang sedang asyik mengobrol dengan pak Sasmito. Aku terus memperhatikan Zahra, karena aku ingat Zahra adalah orang yang beberapa kali dipersunting oleh Galih juga warga desa Padang Gatah, tapi aku tidak tahu siapa nama orang tuanya. Aku terus mendengarkan mereka yang asyik mengobrol.
Kalau saya anaknya pak Sasmito yang punya peternakan belut ini bu," Zahra memperkenalkan diri.
"Iya saya sudah tahu, dulu saya pernah melihat foto bu Zahra sekeluarga saat pak Sasmito mati suri, ngomong-ngomonh tentang peristiwa pak Sasmito yang mati suri, itu awalnya Gimana sih kok bisa pak Sasmito mati suri, " tanya Fira dengan gaya yang sok-sok an seperti wartawan membuat aku gerigjtan ingin menabok pantatnya. Zahra pun menceritakan dengan detail rentetan peristiwa beberapa tahun yang silam tanpa ada satu peristiwa pun yang terlewatkan.
"Ternyata seru juga ya mati suri itu, tolong bu bilangin sama abah Sasmito, kalau nanti ada pendaftaran mati suri saya mau ikut, " ucap Fira yang sontak membuatku terkejut dan spontan aku mendatangi Fira lalu menonyor kepalanya.
"Bude apaan sih, ganggu Fira ngobrol aja. Ngapain bude kesini ganggu Fira mending temani pakde Dodo kasian tuh, bengong sendirian, " ucap Fira sambil menunjuk kearah dodo suamiku. bener juga sih sebenarnya ucapan Fira, tapi obrolan Fira membuat aku benar- benar gemas, tapi ya sudahlah, mungkin sudah gaya dia kalau ngomong suka seenaknya, seperti Dinda waktu muda juga begitu.
__ADS_1
Selang beberapa menit kami duduk, tiba-tiba Datang seorang laki-laki berumur sekitar tiga puluh tahun membonceng seorang anak parempuan berumur tujuh tahun.
"Mamaaa, kakek dan nenek mana? Zahwa mau main sama kakek dan nenek," anak perempuan yang mirip dengan Zahra itu turun dari kendaraan menghampiri Zahra.
"Kakek dan nenek lagi sibuk nak, beliau ada tamu dari jauh, Zahwa disini dulu, ayo salim dulu sama tante Fira dan kakek Dodo, ada nenek Rupiah juga, " ucap Zahra kepada anak kecil itu yang ternyata bernama Zahwa sambil membantu anaknya menyalami aku, Fira dan Dodo suamiku.
"Kak Dewanta sini, kita ngobrol," ucap Zahra pada lelaki tadi yang ternyata bernama Dewanta. Berarti dia adalah suami Zahra. Aku masih ingat cerita Galih kalau Zahra wanita yang dicintainya di nikahkan dengan Dewanta pemuda dari desa Padang Sawit. Tapi sekarang aku baru tahu lelaki yang namanya Dewanta ternyata dia ganteng juga. Pantas saja Zahra tidak menolak dijodohkan dengan dia.
"Ternyata bu Fira anak dari tamu abah yang datang dari Paris," ucap Zahra pada Dewanta. Namun Dewanta sama sekali tak antusias menaggapi ucapan Zahra, mukanya terlihat datar-datar saja. sepertinya dia tidak suka kepada Fira.
"Dewanta, ternyata kamu memutuskan hubungan dengan Fira demi menikah dengan wanita ini," bu Dinda berteriak histeris dan menunjuk-nunjuk muka Dewanta.
"Sabar ma, jangan seperti itu, malu dilihat orang, lagi pula itu sudah masa lalu, mungkin takdirnya memang harus seperti itu," ucap pak Langit sambil merengkuh pundak istrinya yang berurai air mata.
"Iya mama, Fira aja sudah ikhlas ma, bahkan sangat ikhlas, mama bisa lihat hubungan antara Fira dan bu Zahra istri mas Dewanta sangat baik," ucap Fira sembari merangkul Dinda. Aku baru ingat Fira dan Dewanta dulunya seorang kekasih dan mereka saling mencintai sedangkan Galih dan Zahra dulunya juga saling mencintai, tapi hubungan mereka tidak direstui oleh orang tuanya. Akhirnya sekarang mereka malah bertukar pasangan. Kalau difikir-fikir hidup ini bagai misteri karena kita tidak pernah tau akan seperti apa masa depan kita. Sebagai manusia sudah seharusnya kita menerima takdir kita dengan ikhlas karena kita tidak pernah tahu seperti apa rencana Tuhan dikemudian hari.
__ADS_1
"Tapi Dewanta dulu pernah berjanji pada mama untuk selalu setia sama anak mama, tapi kenapa begitu mudah dia mengingkarinya," ucap Dinda dengan suara parau bercampur tangis. Aku mengerti bagaimana perasaan Dinda yang beberapa kali menyaksikan kondisi anaknya yang terpuruk. Seandainya aku diposisi Dinda mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.
"Maafkan Dewanta tante, Dewanta tidak bisa memenuhi janji Dewanta pada tante, karena waktu itu yang ada difikiran Dewanta adalah bagaimana Dewanta berbakti kepada ke dua orang tua, Dewanta selalu ingin membahagiakan kedua orang tua. sehingga Dewanta lupa, kalau apa yang Dewanta lakukan telah melukai perasaan tante sekeluarga. Sekali lagi maafkan Dewanta tante," ucap Dewanta sambil berlutut dan mencium kaki Dinda. Pak Langit langsung mengangkat pundak Dewanta untuk berdiri kembali.
"Kamu tidak perlu merasa begitu bersalah Dewanta. Cukup maklumi perasaan istri saya sebagai seorang ibu. Apa yang kamu lakukan sudah tepat, bagaimana pun waktu itu hubunganmu dengan Fira belum resmi, jadi diantara kalian tidak ada ikatan. Sedang kamu milik ibumu, milik orang tuamu, sudah seharusnya kamu lebih menuruti kehendak orang tua karena ridho orang tua adalah ridho Allah. sedangkan Fira bukan siapa-siapamu. selama apapun kalian menjalin hubungan kalau Allah tidak menghendaki kalian berpisah maka akan kandaslah hubungan itu, sekarang kamu fokuslah pada anak dan istrimu, cintai dan sayangi mereka dan jangan pernah sakiti hati mereka karena kelak jika kamu sudah tua merekalah yang akan menjaga dan menemanimu," ucap pak Langit sambil menepuk-nepuk pundak Dewanta.
Kemudian aku mendekati Dinda memeluknya dan menghapus air matanya.
"Ikhlaskan semua yang telah terjadi Dinda karena itu sudah garis takdir yang kuasa. Kalau kita tidak terima dengan takdir Tuhan itu artinya kita tidak tahu diri. karena Allah sudah memberikan kita nikmat yang melimpah, kita dikasih anak-anak, rezeki yang cukup, bahkan umur yang panjang. Rasanya malu Dinda, kalau kita tidak terima dengan takdir yang tidak sesuai dengan keinginan kita," ucapku sambil terus mengelus-elus pundak dinda dengan penuh kasih dan sayang seperti dulu saat dia nilainya jelek. Kemudian Dinda memandang kerah Dewanta.
"Dewanta, maafkan tante yang tidak bisa menahan emosi. Tidak seharusnya tante marah sama kamu atas semua takdir ini. Sekali lagi maafkan Tante Dewanta," ujar Dinda, dia kemudian melangkah mendekati Zahra.
"Zahra, kamu istri Dewanta, maafkan tante ya nak, mungkin orang tua dihadapanmu ini tidak bisa dijadikan panutan karena terlalu mementingkan perasaannya ketimbang logikanya" ucap Dinda sambil memeluk Zahra.
"Saya memaklumi semua yang ibu lakukan, karena saya juga seorang ibu, saya bisa rasakan apa yang ibu rasakan. Tapi waktu itu saya adalah seorang anak yang diharuskan patuh kepada kehendak orang tuanya. Jadi saya menerima jodoh yang abah dan mama pilihkan, asalkan dia tidak terikat pernikahan dengan wanita lain, saya terima dia menjadi suami saya, "ucap Zahra.
__ADS_1
******