
(POV) bi Rasmi.
Aku sangat bahagia bisa membantu bu Fira majikanku yang telah berjasa dalam mensejahterakan kehidupan aku dan anakku. Aku telah menyimbur tubuh Juita yang kepanasan dengan seember air. Rasanya berat juga membawa air seember dari kamar mandi kesini, ya...mungkin karena usiaku yang sudah tidak muda lagi. Aku tidak mungkin mengambil air lagi untuk menyiram tubuh Juita, bila itu kulakukan bisa-bisa besok pagi aku tidak bisa bangun untuk memasak. Akhirnya aku pun memutuskan untuk menyeret tubuh Juita menuju ke kamar mandi. Sedangkan Juita masih terus mendesah sambil *******-***** aset berharganya. Tak puas dengan memeras asetnya, diapun memasukan jari jemarinya kedalam lubang tikus yang penuh rerumputan yang ada dibagian dari tubuhnya yang selama ini begitu dia bangga-banggakan. Tingkahnya benar-benar menjijikan.
Tubuh Juita ternyata berat sekali, mungkin karena sintal dan padat dibagian-bagian tertentu. Sebenarnya bentuk tubuh Juita sangat seksi, bentuk tubuh seperti ini adalah bentuk tubuh yang kerap didambakan oleh kaum adam. Sungguh bahagia lelaki yang menjadi suaminya. Karena bisa menikmati tubuh indahnya setiap waktu. Namun sayang, sang pemilik tubuh ini tidak menggunakan tubuhnya untuk menyenangkan suaminya agar mendapat pahala dan bernilai ibadah. Dia justru menggunakan tubuhnya untuk merebut suami orang dengan cara menistakan dirinya sendiri, merendahkan harga dirinya hingga serendah-rendahnya bahkan lebih rendah dari sampah anorganik yang tidak bisa lagi di daur ulang hingga mencemari lingkungan.
Setelah sampai dikamar mandi aku membiarkan tubuh Juita telentang tanpa busana dengan posisi kedua tangan masih ditempat semula. Aku mengambil selang yang sudah terhubung dengan kran air dan langsung menyirami tubuh Fira yang asyik dengan kegiatannya.
Kurang lebih dua jam, aku menyirami tubuh Fira hingga akhirnya dia menggigil setelah beberapa kali dia mendesah panjang. Kini bibirnya terlihat pucat dan sudah tak lagi mendesah. Melihat keadaannya aku langsung berhenti menyiramnya.
"Bi Rasmi....aku mohon...hentikan bi, aku minta maaf, aku mengaku salah bi, aku malu bi.. Sungguh aku sangat malu," ucap Juita sambil bangun kemudian duduk dengan memeluk kedua lututnya. Aku segera mengambil selimut untuk menyelimuti tubuhnya kemudian memapahnya menuju kamarnya. Aku mendudukkan dia diranjangnya. Lalu membuka lemari bajunya dan mengambil baju ganti untuknya lengkap dengan **********, kemudian menyerahkannya supaya dia pakai.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu sekarang, apa benar kamu menyesal dan apa benar kamu masih mempunyai rasa malu," tanyaku pada Juita. Diapun menjawab kalau dia menyesal melakukan semua ini, dia minta maaf dan mengaku salah pada pak Galih dan bu Fira.
"Syukurlah kamu menyesal dan bersedia minta maaf pada pak Galih dan bu Fira yang telah berbaik hati untuk memberikan pekerjaan kepadamu.
"Sebenarnya apa sih kesalahan bu Fira dan pak galih hingga kamu tega berbuat seperti ini. Apa kamu tega melihat bu Fira menangis karena suaminya kamu jebak seperti itu," ku coba mengorek keterangan. Penasaran juga aku ingin tahu bagaimana isi hati pelakor.
"Sebelumnya aku tidak pernah kenal sama pak Galih dan bu Fira. Santi sahabatku yang ingin aku menghancurkan rumah tangga bu Fira, karena menurut Santi bu Fira telah merebut suaminya hingga dia diceraikan oleh suaminya, sedangkan aku sudah bosan jadi orang susah. Setiap hari aku harus panas-panasan membrondol sawit. Aku ingin punya suami orang kaya. kalau aku mencari yang masih bujangan biasanya belum punya apa-apa, harus memulai kehidupan pernikahan dari nol. Beda halnya dengan laki-laki beristri yang biasanya cenderung sudah mapan.
"Kenapa hanya demi uang kamu berbuat serendah itu. Untuk apa punya harta berlimpah tapi hasil dari perbuatan yang menyakiti hati perempuan lain. Coba fikir kalau kamu diposisi perempuan yang suaminya kamu ambil, apalagi kalau kamu punya anak-anak yang harus kamu nafkahi. Setiap hari harus menyaksikan anak-anaknya minta makan, minta jajan sedang uang ayahnya yang harusnya diberikan kepada mereka, malah diberikan pada perempuan seperti kamu. Ingat hidup kita itu tergantung pada perbuatan kita. Kalau kita selalu berbuat baik, insyaallah kamu akan mendapatkan kebaikan. Tapi kalau kamu berbuat buruk maka kamu juga akan mendapatkan keburukan," ucapku.
"Iya bi, sekarang aku sadar, mungkin apa yang tadi terjadi adalah karma dari perbuatanku. Aku ingin bertobat kembali ke jalan yang benar." ujar Juita. Ooh...jadi Santi ada dibalik semua ini, ternyata anak itu benar-benar belum jera mengganggu majikan kesayanganku dan sekarang dia sedang mengganggu laki-laki lain. Mudah-mudahan saja laki-laki itu kuat iman, tidak terbuai dalam rayuan penuh racun Dari mulut Santi.
__ADS_1
"Juita sekarang apa rencanamu selanjutnya. Perlu kamu tahu, kami sudah mencium gelagatmu sejak awal kedatanganmu. Diseluruh ruangan dirumah ini sudah dipasang cctv yang disambungkan ke hand phone pak Galih dan bu Fira. Kalau menurut bude, sebaiknya kamu segera minta maaf kepada paK Galih dan bu Fira, karena kamu telah melakukan hal buruk terhadap beliau. Apapun keputusannya semoga saja bu Fira dan pak Galih tidak membawa kasus ini ke polisi karena beliau sudah mengumpulkan bukti-bukti semua kejahatanmu," ucapku pada Juita. Seketika wajah juita berubah pucat, terlihat sekali kalau dia sangat ketakutan. Dia melangkah perlahan mendekatiku dan memelukku.
"Iya bi, tolong bantu aku untuk ketemu pak Galih dan bu Fira untuk meminta maaf, aku janji tidak akan mengulangi perbuatan seperti tadi lagi, aku janji tidak akan mengganggu rumah tangga orang lain dan aku janji tidak akan mengganggu suami orang," ucap Juita sembari terisak. Akupun menyanggupi permintaan Juita dengan syarat dia harus bertobat dan berubah menjadi wanita baik-baik karena hidup cuma sekali, amat sangat disayangkan kalau hanya digunakan untuk menyakiti hati orang lain. Apalagi motifnya hanya demi uang, bukankah kita semua tahu kita memang perlu uang, tapi bukan uang yang menentukan kita bahagia atau tidak.
Justru uang yang didapat dari hasil merenggut kebahagiaan orang lain hanya akan mendatangkan banyak musibah bagi pelakunya. Lebih baik kita mencari uang dengan cara yang halal, dengan cara bekerja keras. Uang hasil kerja keras dengan cucuran keringat akan membawa ketenangan dan keberkahan.
Dengan hidup dijalan yang benar dan mencari nafkah dengan cara yang halal saja kita seringkali menemui ujian dalam setiap perjalanan kehidupan. Karena memang hidup kita untuk menjalani ujian dari Allah, ada yang diuji dengan harta, punya harta atau tidak punya harta semua itu adalah ujian. Ada yang diuji dengan anak, punya anak adalah ujian, tidak punya anak juga ujian. Tidak ada manusia yang hidup tanpa ujian, semua mahkluk Allah selalu di uji untuk meningkatkan keimanannya. Dengan melewati berbagai ujian kita menjadi semakin dewasa, semakin bijaksana dan semoga juga semakin taat kepada Allah," ucapku pada Juita. Juita pun mengangguk tanda dia mengerti penjelasanku.
"Ayo bude antarkan aku menemui pak Galih dan bu Fira untuk minta maaf," Ujar Juita.
*********
__ADS_1
.