Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 90. Menapaki hari yang Indah


__ADS_3

(POV) Santi


Aku sangat bersyukur akhirnya, Fira dan Galih memaafkanku, walau banyak drama yang harus aku lalui. Karena Fira yang tidak begitu saja percaya kalau aku ingin berubah menjadi lebih baik. Dan Galih yang begitu sakit hati atas perbuatan yang telah aku lakukan. Setelah sepasang suami istri yang sedang menantikan kelahiran anak pertamanya telah memaafkan aku. Mereka pun mengajakku untuk makan bersama dimeja makan mewah mereka.


"Makan yang banyak Santi agar kamu kuat menerima cacian dan makian dari orang-orang yang pernah kamu sakiti," ujar Galih seraya tersenyum jail kearahku. Senyum yang sering aku saksikan sejak kecil kala dia berhasil mengusiliku.


"Kebiasaan deh kamu Galih dari dulu tidak pernah berubah, masih tetap usil dan suka mengganguku" selorohku.


Selesai makan aku segera pamit undur diri dari kediaman Galih dan Fira.


"Aku pamit dulu ya Galih, Fira, terimakasih atas makanannya, lumayanlah ngirit anak kost he... he.... " ujarku sambil memakai kembali alas kakiku dan melangkah menuju sepeda motor kesayanganku. Rencananya aku ingin menemui Juita tapi aku bingung harus tanya sama siapa alamatnya. Sesaat aku berfikir, apa aku tanya aja ya sama Galih dan Fira siapa tahu mereka tahu.


"Galih, Fira, maaf yah ada yang ingin aku tanyakan" ucapku kembali melangkah mendekati Galih yang sedang merangkul Fira dan akan masuk kembali kedalam rumah.


"Ada apa lagi Santi, apa ada yang ketinggalan," ujar Galih sembari menghentikan langkahnya. Sementara Fira hanya diam menunggu apa yang akan aku tanyakan dengan tangan mengelus perut buncitnya.


"Aku mau tanya apakah kalian tahu alamat Juita, atau nomor hand phonenya," ujarku.

__ADS_1


"Juita sekarang kerja dipabrik makanan ringan. Tetapi aku tidak tahu nomor hand phonenya, Kalau nomor Edi calon suaminya aku ada, kebetulan dia supir restoranku. oh ya Juita sebentar lagi mau menikah kamu sudah tahu belum," Jawab Galih sambil mengeluarkan ponsennya dari kantong celananya dan kemudian mengirimkan nomor Edi kepadaku.


"Terima kasih Galih, aku sudah tahu Juita mau kawin dari Bude Marni. Kalau Gitu aku pulang dulu yah, baik-baik ya de didalam perut mama, tidak boleh nakal, " ucapku mengajak bicara bayi yang masih dalam kandungan Fira sambil berlalu meninggalkan mereka berdua. Sementara Fira dan Galih hanya tersenyum melihat kelakuanku.


Sampai dirumah aku langsung menelepon Edi. Setelah beberapa kali aku melakukan panggilan akhirnya Edi pun mengangkatnya.


"Hallo Assalamualaikum," Suara lelaki dari seberang sana.


"Hallo, mas Edi ini aku Santi, bolehkah aku minta alamat kontrakan Juita, aku ingin sekali bertemu dengannya," ucapku pada Edi.


"Tidak mas, saya ingin bertemu Juita hanya ingin minta maaf, sedikit banyak sayalah yang telah menyebabkan Juita terjerumus kelembah hina," ucapku yang langsung dipotong oleh mas Edi.


"Yaitu kamu sadar, tolong kamu jauhi dia karena aku tidak ingin calon istriku bergaul dengan orang yang berkepribadian buruk dan tidak faham agama karena sekarang Juita sedang giat-giatnya mendalami agama demi untuk mempersiapkan diri menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak kami kelak, " sambung mas Edi.


"Mas tolong kasih kesempatan saya untuk bicara, saya juga sedang hijrah ke jalan yang benar mas, saya tadi baru saja minta maaf pada Galih dan Fira, sekarang saya mau minta maaf pada Juita. Saya ingin minta maaf kepada semua orang-orang yang pernah saya sakiti agar jalan hidup saya untuk menjadi lebih baik diberi kemudahan oleh yang Maha Kuasa. Tidak ada sedikit pun niat di hatiku untuk menjerumuskan Juita kembali. Saya justru senang mendengar Juita telah Hijrah ke jalan yang benar." ucapku.


"Kalau memang kamu serius telah berubah, ya sudah aku izinkan kamu bertemu dia, nanti aku share nomor Juita ke nomor ponselmu," jawab mas Edi lagi.

__ADS_1


"Terimakasih mas atas pengertianmu, tolong bilang sama Juita tentang maksud aku ingin bertemu dengannya. Agar dia tidak menolak panggilanku," ujarku menjelaskan pada mas Edi.


Setelah mas Edi mengerti maksud dan tujuan aku ingin bertemu Juita dan dia pun mengerti dan mengizinkan kami bertemu. Kami pun mengakhiri panggilan jarak jauh kami.


Pada malam harinya kala aku hampir terlelap. Tiba-tiba terdengar suara ponselku. Ada panggilan masuk rupanya, setelah aku lihat ternyata dari Juita, rupanya selama ini nomorku dia blokir olehnya dan mungkin sekarang baru dia buka blokirannya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku pun langsung menjawab telepon dari Juita.


"Hallo Assalamualaikum Santi bagaimana kabarmu, maaf yah... selama ini aku telah memblokir nomormu karena aku takut kamu marah atas kegagalanku menjalankan misi kita menghancurkan rumah tangga Fira dan Galih," ucap Juita diseberang sana.


"Wa alaikum sallam, tidak apa-apa Jui, justru aku bersyukur atas kegagalan misi kita. Seandainya berhasil entah bagaimana nasib rumah tangga saudara sepupuku. Dulu aku benar-benar telah dibutakan oleh dendamku terhadap Fira hingga aku lupa memikirkan bagaimana perasaan Galih, budeku dan keluargaku yang lain, andai kamu berhasil memperdaya Galih hingga rumah tangganya berantakan. Ternyata Galih dan pak Dewanta telah mengetahui semua rencana kita. Selama ini mereka terus bertukar informasi untuk menggagalkan misi kita. Banyak peristiwa yang aku alami hingga sekarang aku memutuskan untuk kembali kejalan kebenaran," ucapku pada Juita diseberang sana.


"Iya Santi, banyak hikmah dibalik kegagalan itu, diantaranya aku mendapat hidayah hingga aku sadar kalau perbuatan kita telah banyak menyakiti banyak pihak, bu Fira justru membalas perbuatan burukku dengan memberiku pekerjaan yang layak dan gaji yang lumayan. Aku juga mendapat jodoh laki-laki baik-baik. Laki-laki yang selama ini begitu mendambakan cintaku. namun karena kelakuanku yang buruk diapun hanya memendamnya saja dan satu lagi sekarang aku tinggal dengan ibuku, wanita yang begitu manyayangiku, " ucap Juita.


"Syukurlah Juita, ternyata banyak sekali berkah yang kamu dapatkan setelah kamu hijrah di jalan kebenaran. oh iya Juita aku menghubungimu punya tujuan yaitu aku ingin minta maaf atas kesalahanku yang telah mempengaruhimu hingga kamu terjerumus ke lembah dosa. Semoga setelah aku minta maaf pada orang-orang yang aku rugikan baik secara materil maupun non materil, hidupku kembali membaik dan lebih berkah, " ucapku dan dijawab dengan kata Aamiin oleh Juita.


"Iya Santi, aku sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu minta maaf. Kita saling mendoakan yang terbaik untuk kita masing-masing. Mudah-mudahan kamu Segera mendapatkan jodoh lelaki yang baik yang bisa menerimamu apa adanya. Semoga kelak rumah tanggamu bahagia hingga sampai ke Surganya Allah SWT, " ucap Juita, akupun langsung membalas Aamiin. Setelah Juita memaafkan kesalahanku, akupun merasa lega sekali. Kami berbincang hingga larut malam, setelah melihat jam ternyata sudah jam dua belas, aku dan Juita pun sepakat mengakhiri percakapan ini.


***********

__ADS_1


__ADS_2