
(POV) Juita
Kenapa laki-laki semua menyebalkan. Aku melangkah meninggalkan pak Dewanta yang sok-sokkan memberiku nasihat seolah-olah dia adalah yang sangat mencintai istrinya. Saat pertama ikut bekerja diperkebunan pak Sukarta sebagai pembrondol sawit. Aku sangat bahagia karena yang mengawasi dan mengarahkan pekerjaan kami adalah pak Dewanta putra tunggal pak Sukarta yang mempunyai wajah sangat tampan.
Setiap hari aku selalu berusaha mencari perhatian pak Dewanta. Ingin sekali rasanya bisa mengambil hatinya. Walaupun aku tahu pak Dewanta sudah menikah, tapi pernikahan mereka sudah lumayan lama, pastilah pak Dewanta sudah mulai merasa bosan. Apalagi aku dengar pernikahan mereka karena dijodohkan oleh kedua orangtua. Sudah pasti, tidak ada cinta diantara mereka. Mereka hanya menjalankan hubungan suami istri sebagai suatu kewajiban saja. Pak Dewanta pasti jenuh menjalani pernikahannya bukan!!
Setelah aku selidiki ternyata istri pak Dewanta adalah orang yang taat terhadap keyakinannya. Wanita seperti ini biasanya mau dipololigami dengan alasan surga sebagai imbalannya. Aku ingin sekali menjadi istri kedua pak Dewanta, seandainya perjuangan menjadi istri kedua sudah menjadi kenyataan, aku yakin lambat laun beliau akan menceraikan bu Zahra, dengan campur tanganku tentunya.
Dalam setiap pengamatan yang aku lakukan, seorang wanita dengan gaya berpakaian seperti bu Zahra kemampuan seksnya sangat buruk, paling cuma bisa gaya telentang saja, soalnya dia kan tidak pernah nonton vidio adegan **** yang bervariasi. Tidak seperti aku yang ahli dalam berbagai gaya, mulai dari women on top, ***** *****, kupu-kupu. lotus, butter churner, the wheelbarrow sampai gaya air terjun, semua sudah aku kuasai. Karena aku selalu belajar dan berlatih kemampuan diatas tempat tidur. Selain itu, aku juga selalu rajin merawat tubuhku agar senantiasa menarik dan sedap dipandang mata.
Saat pertama kali aku melihat bu Zahra datang ke kebun untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada suaminya, aku melihat pakaian bu Zahra kedodoran nyaris menyentuh tanah dengan jilbab yang lebar semakin membuat lekuk tubuhnya tak terlihat. Bagaimana mungkin seorang pak Dewanta akan tertarik dengan wanita seperti itu. Aku yakin hanya dengan melihat dadaku yang menonjol dengan belahan dada yang rendah hasrat pak Dewanta memuncak. Tapi dia gengsi untuk mengakuinya. Aku harus lebih berani untuk menarik perhatian pak Dewanta. Kalau perlu aku akan menjebaknya.
Hari ini mungkin rencanaku gagal untuk mengajak pak Dewanta ke kebun bersama, tapi tidak untuk rencana-rencana berikutnya.
__ADS_1
pagi ini seperti biasa aku mengerjakan tugasku untuk membrondol sawit, setelah dilakukan brieffing pagi. Tapi anehnya semenjak aku gagal ikut ke kebun dengan pak Dewanta, pak Dewanta tidak pernah melakukan brieffing di timku yaitu tim pembrondol. Tim brondol selalu dipimpin oleh Edi sedangkan pak Dewanta memimpin tim dodos.
Mulai sekarang aku harus lebih giat dalam melakukan pendekatan dengan pak Dewanta.
"Pak Dewanta, apakah bapak jadi membeli lahan sawit buah pasir yang ada dilereng perbukitan itu?, kira-kira luasnya berapa hektare ya pak? " Kudengar pak Dewanta sedang berbincang-bincang dengan Pak Diono, seorang asisten dari seorang pengusaha yang konon tinggal di Paris.
"Tentu jadi pak Diono, kalau yang dijual sekitar seratus dua puluh lima hektare. dua puluh lima hektar dibeli oleh pak Dirgantara, saya beli lima puluh hektar. dimana masih tersisa lima puluh hektare, belum ada pembelinya. sebaiknya bapak hubungi pak Langit Perkasa, siapa tahu beliau berminat," ujar pak Dewanta.
"Juita, kamu dipanggil pak Dewanta untuk segera menghadap," ucap salah satu pekerja yang sedang membawa dodos. Aku segera membenahi pakaianku supaya terlihat lebih seksi. Memang kemarin pak Dewanta menegurku agar memakai pakaian yang pantas dan tertutup seperti bu Zahra. Tapi aku tahu dia bicara seperti itu karena di depan bu Zahra istrinya. Padahal sesungguhnya dia teramat suka dengan penampilanku.
"Bapak memanggil saya," ucapku sambil bergaya erotis untuk menarik perhatiannya, namun sayang pak Dewanta justru melihat kearah lain.
"Kamu masih ingat kan saya meminta kamu untuk berpakaian seperti apa kemarin, " ucap pak Dewanta, dengan gayanya yang begitu dingin. Aku tahu dia melakukan itu untuk menutupi perasaan tertariknya kepadaku, rupanya dia masih jaim, awas nanti pak, sebentar lagi bapak tidak akan mampu lagi untuk menutupi perasaan sukamu padaku. Aku tahu dia memanggilku bukan untuk menegurku karena pakaianku yang begitu menantang melainkan untuk bisa memandangku lebih dekat agar bisa menikmati pemandangan indah dalam setiap lekuk tubuhku.
__ADS_1
"Juita, saya tanya, kenapa kamu malah senyum-senyum sendiri, kamu fikir apa yang saya katakan itu lucu," ucap pak Dewanta lagi.
"Maaf pak, saya lupa, soalnya baju saya ya modelnya seperti ini semua. Saya tidak tahu harus berpakaian seperti apa pak?"pak Dewanta hanya diam mendengar ucapanku. Mungkin dia sedang berfikir mencari solusi atas permasalahanku. Aku berharap dia akan mengajakku ke toko pakaian atau bahkan ke mall untuk membelikanku pakaian yang menurutnya pantas untukku. Membayangkan kita jalan semobil berdua rasanya bahagia sekali. Ini kesempatan aku untuk menjebaknya agar kami bisa tidur berdua, setelah itu aku tinggal meminta pertanggungjawaban agar dia menikahiku, dia pasti mau karena mengingat permainanku jauh lebih unggul daripada bu Zahra yang cenderung monoton!!....Kalau masalah bu Zahra itu gampanglah, paling dia juga enggak mau dimadu, nantikan dia akan minta cerai dengan sendirinya.
"Juita.... Juitaaa!!... kamu kenapa diajak ngomong malah diam saja, " suara pak Dewanta mengagetkanku.
"I... iya pak, apa kita akan pergi belanja..."
"Belanja apaan!!!, begini saja, saya kasih waktu kamu seminggu, kalau kamu tidak mau merubah gaya berpakaianmu menjadi lebih tertutup, sebaiknya kamu tidak usah bekerja diperkebunan saya," ucap pak Dewanta, nada suaranya terdengar tegas. Aku pun berfikir sejenak, kalau aku tidak mau merubah cara berpakaianku, Aku tidak boleh lagi bekerja di perkebunan miliknya. Berarti kalau aku tetap berpakaian seperti ini, dia akan memecatku.
Benarkah apa yang dia ucapkan, tapi rasanya tidak mungkin. Semua laki - laki menyukai gaya berpakaian sepertiku. Apalagi postur tubuhku begitu indah, banyak laki-laki ingin menikmati tubuh seperti yang aku miliki. Kecuali kalau laki - laki itu tidak normal, namun aku yakin pak Dewanta laki-laki normal. Dia hanya mencoba menjaga sikap didepan para pekerja. Mungkin kalau aku menemui dia secara diam-diam ditempat dimana tidak ada yang mengenal kami, dia akan menunjukan karakter aslinya. Pemuja perempuan.
********
__ADS_1