Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab, 49. Semua Lega.


__ADS_3

(POV) Langit.


Hari ini aku terkejut melihat Dinda istriku memarahi Dewanta yang baru saja bertemu setelah sekian tahun tidak bertemu sejak perpisahannya dengan Fira. Aku tidak menyangka istriku masih menyimpan kemarahan yang begitu dalam terhadap Dewanta. Mungkin itu adalah bukti cinta seorang ibu kepada putrinya.


Tapi aku sangat bersyukur karena kemarahan Dinda terhadap Dewanta yang berapi-api mudah dipadamkan dengan nasihat dari kami. Akhirnya dia menyadari kalau tidak seharusnya dia meluapkan emosinya kepada Dewanta.


"Dari semua yang terjadi, mungkin saya dan pak Sukarta ayah dari Dewanta yang pantas untuk disalahkan. Karena menurut kami mereka adalah anak kami jadi sudah seharusnya kami memberikan jodoh terbaik menurut kami kepada mereka tanpa memikirkan anak-anak kami yang sudah mencintai dan di cintai orang lain. itulah sebabnya saya sekeluarga dan juga ayah dan ibu Dewanta memgucapkan permohonan maaf atas apa yang telah kami putuskan beberapa tahun yang silam," ucap pak Sasmito.


"Bapak tidak perlu minta maaf, karena itu adalah hak bapak dan pak Sukarta untuk menjodohkan anak kalian demi kebaikan mereka, apalagi itu sudah lama sekali, bukankah keputusan bapak sudah benar, buktinya mereka sekarang bahagia bukan?," ucapku. dan diiyakan oleh pak Sasmito.


"Mungkin sudah jodoh juga antara Dewanta dan Zahra, buktinya waktu itu mereka tidak menolak dijodohkan, walaupun waktu itu mereka hanya berniat menikah untuk mendapatkan ridho Allah, jadi semata-mata karena ibadah. Kita doakan saja semoga kelak Fira dengan Galih bahagia," bu Markonah yang dari tadi diam saja ikut berbicara. Kalau menurut penilaianku keluarga Dewanta dan keluarga Zahra memang lah orang yang sangat baik.


Setelah insiden kecil yang terjadi kami semakin akrab, mereka mengajak kami makan bersama dalam suasana yang santai. kulihat Dewanta sangat perhatian kepada anak dan istrinya, terlihat dia melayani istrinya mengambilkan nasi dan lauk untuk istri dan anaknya kemudian dia ambilkan juga untuk dia sendiri. Dia begitu waspada menjaga istrinya yang sepertinya sedang hamil.


"Makan yang banyak ibu hamil, biar ibunya dan bayinya sehat, " ujar Rupiah sambil mengelus perut Zahra


"Sudah berapa bulan ini nak," istriku pun ikut mengelus perut Zahra.

__ADS_1


"Sudah tujuh bulan tante,"jawab Zahra sambil mengunyah makanan.


"Tujuh bulan tapi sudah seperti sembilan bulan ya, mungkin bayinya besar barangkali, " sahut istriku sambil mengunyah makanan. Kalau aku perhatikan memang benar ucapan Dinda. Perut Zahra lebih besar dari usia kehamilan yang seharusnya. Kalau menurut kebiasaan perut sebesar perut Zahra adalah kehamilan saat menginjak usia bulan kesembilan.


"Tentu saja besar bu, soalnya hamilnya kembar, tadi siang kami baru saja USG, ternyata jenis kelaminnya laki-laki dan perempuan," ucap Dewanta sambil mengelus perut istrinya, terlihat sekali binar bahagia dari sorot mata Dewanta.


"Papa, Zahwa minta ikan, " tiba-tiba putri Dewanta yang berumur sekitar delapan tahun minta diambilkan ikan. Dewanta langsung mengambilkan ikan sekaligus memisahkan ikan dari duri-durinya agar mudah memakannya. Dia juga mengambil ikan dan menaruhnya dipiring istrinya.


"Yang banyak makan ikannya sayang biar bayinya sehat," ucap Dewanta pada istrinya. suatu potret pemandangan yang patut dicontoh menurutku. Mungkin ini bisa aku tiru agar rumah tanggaku dengan Dinda semakin Harmonis. Agar bisa menjadi Contoh bagi anak dan cucuku di kemudian hari.


Selesai makan kami semua segera pamit pulang karena hari sudah malam. Tidak lupa kami pun mengundang pak Sasmito sekeluarga dan Juga Dewanta sekeluarga.


"Maafkan mama papa, Fira, mama telah membuat kalian malu, mama tidak bisa menahan emosi saat melihat Dewanta. Mama langsung ingat saat dia berjanji pada mama untuk senantiasa setia dan menjaga Fira hingga kepelaminan dan menua bersama. Tapi hanya karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya saja dia langsung meninggalkan Fira, tanpa peduli bagaimana perasaan Fira dan orang tuanya, " ucap Dinda sambil menyapu sudut matanya yang basah. Tapi setelah mendengar nasihat dari kalian semua, mama sadar manusia hanya bisa merencanakan dan menjanjikan sesuatu tapi yang menentukan apakah kita bisa memenuhi janji kita adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Mama sadar mama dan Fira bukanlah siapa siapa buat Dewanta. Dia tidak punya kewajiban untuk menjaga perasaan Fira dan keluarganya. Tapi dia punya kewajiban untuk patuh dan taat kepada kedua orang tuanya.


Jadi sangat wajar kalau dia bersedia dijodohkan demi kebahagiaan kedua orangtua. Begitu juga Zahra diapun wanita yang baik dan senantia patuh terhadap perintah orang tuanya. Rasanya bangga sekali jika mempunyai anak seperti mereka. Mereka benar-benar pasangan yang serasi," ucap istriku panjang lebar.


"Iya mama, doakan Fira dan Galih kelak mempunyai anak-anak yang Soleh Solehah dan taat kepada orang tuanya," ucap Fira sembari memeluk mamanya. Jauh dilubuk hatiku yang paling dalam, akupun sebenarnya bangga memiliku mereka.

__ADS_1


Dinda seorang istri yang taat dan patuh terhadap suami, yah... walaupun terkadang dia emosional, tapi untuk menenangkannya tidaklah sulit, cukup diberi nasihat yang masuk akal. Dinda bukanlah orang yang keras kepala ngeyel. Dia selalu membuka hartinya untuk menerima pendapat orang lain dan mempertimbangkannya. Jika pendapat itu menurutnya benar maka diapun akan mengakuinya tanpa ada rasa gengsi.


Krooook..... krooook...


Aku terkejut saat mobil berbelok ada suara aneh. Aku mencari kearah sumber suara, berusaha memusatkan. perhatianku. Siapa tahu ada ranting pohon yang tersangkut mengingat kita mengendarai mobil diantara kebun karet milik warga.


Namun setelah beberapa saat, aku mendengar suara Dinda istriku.


"Rupiah... Rupiaaah... bangun!! kamu ini kebiasaannya tidak pernah berubah kalau tidur selalu saja ngorok," ucap Dinda sambil tangannya menggoyang-goyangkan bahu Rupiah dengan dibantu oleh Dodo suaminya.


"Ya ampun...ternyata suara dengkuran Rupiah, aku fikir ada yang ranting yang nyangkut digardan mobil. unik juga teman kecil istriku ini.


"Dia kalau kecapean memang tidurnya selalu ngorok bu Dinda," sahut dodo sambil merubah posisi tidur Rupiah dengan menyandarkan kepalanya didadanya lalu memeluknya. Kami semua pun tertawa mengetahui kebiasaan Rupiah.


Setelah sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya mobil kami sudah sampai dirumah orang tua Galih. Pak Warjito dan bu Marni pun menyambut kedatangan kami dengan penuh khawatir.


"Kamu bawa kemana saja calon besanku kak, hampir saja aku lapor polisi kalau besanku diculik oleh kakakku sendiri," ucap bu Marni bercanda.

__ADS_1


"Tadi kami habis melihat budidaya belut dirumah calon besanmu yang gagal itu," jawab Rupiah. Kemudian Rupiah pun menceritakan pengalaman kami selama berada dirumah pak Sasmito. Pak Warjito dan bu Marni pun menyimak cerita Rupiah.


Lucu juga ya kalian ini bisa tukeran gitu. Dulu aku sempat dongkol sama pak Sasmito, apa juga kurangnya Galih sampai tiga kali melamar Zahra, tiga kali juga dia dutolak. Padahal mereka berdua sudah sama-sama saling mencintai. Galih juga terlalu cinta sama Zahra kaya enggak ada perempuan lain saja.


__ADS_2