Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 18. langkah Fira


__ADS_3

(POV) Fira


Hari ini adalah hari yang terburuk yang pernah kualami sepanjang sejarah hidupku. Bagaimana tidak, suamiku yang aku kira begitu setia dan sangat mencintaiku tega menikah lagi tanpa sepengetahuanku. Padahal jelas-jelas dia berjanji tidak akan menuruti ibu mertuaku untuk menikah dengan Santi.


Hari ini juga aku langsung mendaftarkan perceraianku kekantor pengadilan agama. Aku segera memfoto copy surat nikah Dion dan Santi sebagai bukti penghianatan mereka yang kulampirkan dalam berkas perceraian. Setelah itu aku langsung mengembalikan surat nikah Dion dan Santi ketempat semula.


Setelah memasukkan berkas perceraian aku mengemasi barang-barangku dan kemudian pergi ke Paris dimana orang tuaku berada. Aku menceritakan semua yang aku alami kepada kedua orang tuaku. Orang tuaku sangat marah kepada Dion dan kedua orang tuanya. Papa dan mama mendukung langkah yang sudah aku ambil.


Semua pekerjaanku di Indonesia aku handle dari paris. Begitu juga dengan pengajuan perceraianku. Aku tidak pernah hadir di sidang tersebut dan sidang berjalan lancar. Pihak pengadilan agama mengabulkan tuntutanku untuk bercerai dengan Dion. Walaupun Dion sempat beberapa kali datang keparis dan memintaku untuk membatalkan perceraian kami. Namun sedikitpun aku tak merubah keputusanku. Aku memang memaafkan penghianatan yang dia lakukan tapi bukan berarti aku mau membatalkan keputusan yang telah aku ambil untuk bercerai. Bagiku perceraian adalah hukuman dari sebuah penghianatan. Ibu mertua pun beberapa kali menelponku mengabarkan bahwa Dion sakit dan masuk rumah sakit, beliau meminta maaf dan memintaku untuk kembali pada Dion.


"Maaf ma, aku tidak bisa pulang ke Indonesia untuk menjenguk Dion, aku bukan lagi istrinya. Bukankah ada Santi istri sahnya," ucapku pada mama mertua.


Semenjak kepergianmu dan kamu menggugat cerai Dion. Setiap hari Dion selalu marah-marah, dia selalu menuduh Santi, kiran Mama dan papa yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya. Kini Dion telah menceraikan Santi," ucap mantan mertuaku.


"Maafkan mama Fira, karena ke egoisan mama telah menghancurkan pernikahan kalian dan menghancurkan hati anak mama sendiri," ucap mantan mertuaku. Aku pun memaafkan beliau. Kerana tak ada gunanya menyimpan dendam hanya membuat luka semakin parah dan sulit untuk sembuh.


Terakhir mantan mertuaku memberi kabar bahwa Dion pergi meninggalkan rumah dan merantau ke daerah terpencil untuk melupakan kenangan hidup bersamaku.


Tidak terasa empat tahun sudah aku menetap diparis dan lima tahun sudah aku berpisah dengan Dewanta.


Hari ini ayah ingin mengirimku ke Indonesia untuk mengurus perkebunan sawit yang telah dua tahun terakhir ini dibelinya. Adapun lokasi perkebunan papa berada didesa Padang Sawit.


Hari ini juga aku segera terbang ke Indonesia dan menuju lokasi desa Padang Sawiit yang dapat ditempuh dalam waktu beberapa jam dengan menggunakan kendaraan roda empat.

__ADS_1


Memasuki gerbang desa Padang Sawit disore hari, aku di sambut oleh angin yang berhembus semilir menerpa wajahku, karena sengaja ku buka pintu mobil, agar aku bisa leluasa melihat kegiatan warga desa disore hari.


Menjelang magrip aku sampai disebuah villa yang indah milik papa yang terletak dipinggiran desa Padang sawit yang akan menjadi tempat tinggalku. Divilla aku ditemani oleh Yanti anak bu Rasmi dan Diono suami Yanti serta Dianti anak mereka yang masih PAUD. Jika Siang hari Diono ikut mengurus kebun bersama karyawan kami yang lain, sedangkan Yanti bertugas mengurus dan membersihkan villa.


Suatu hari Yanti sedang tidak enak badan, dia demam sehingga tidak dapat mengantar dan menunggui Dianti kesekolah. Sedang Dianti merengek minta sekolah.


"Mama Dianti mau sekolah, Dia mau ketemu teman-teman, ayo ma sekolah," Dianti terus merengek menarik-narik baju yanti yang sedang terbaring. Aku tak tega melihat anak itu dan aku segera mendekati gadis kecil dihadapanku.


"Sayang kamu kesekolahnya diantar ibu Fira saja ya, nanti ibu tunggui kok disana," ucapku.


"Jangan bu, nanti ngerepoti ibu," ucap yanti.


"Tidak apa-apa Yanti. Aku juga senang bisa merasakan mengantar anak kesekolah, sudah kamu istirahat saja biar cepat sembuh, Dianti biar aku yang urusi,"ucapku pada Yanti.


Sampai disekolah ternyata kami datang paling awal. Selang beberapa saat kemudian datanglah seorang guru berjilbab lebar diantar kemungkinan oleh suami dan anaknya yang masih TK dengan kendaraan roda empat.


"Abi, umi ngajar dulu yah, abi hati-hati dijalan," ucap wanita berjilbab lebar sembari mencium punggung tangan suaminya.


"Tentu saja umi sayang, abi pasti hati-hati dan abi pasti bakalan kangen umi terus," ucap lelaki yang dipanggil abi sambil mencium kening si wanita berjilbab lebar.


"Zahwa diantar abi kesekolah ya sayang, tidak boleh nakal disekolah, patuh sama nasihat ibu guru," wanita berjilbab lebar itu memberi nasihat pada putrinya.


"Siap umi, abi, ucap gadis berumur sekitar tujuh tahun itu sambil memberi hormat kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Sungguh mereka adalah gambaran keluarga yang harmonis. Tapi sepertinya aku mengenal suara laki-laki itu. Suara itu membuat hatiku berdebar. Aku terus mengingat suara laki-laki tadi, ya ampun, itu suara Dewanta, apa mungkin itu Dewanta atau cuma mirip saja, terakhir aku ketahui Dewanta berada didesa Padang Gatah, entah dimana desa Padang Gatah itu.


"Selamat pagi bu, ibu apanya Dianti, tumben Dianti tidak diantar mamanya," sapa wanita berjilbab lebar yang ternyata guru PAUD.


"Pagi bu, mama Dianti lagi sakit jadi saya yang antar, kenalkan saya kerabatnya Dianti, nama saya Fira, aku menyalami ibu guru Dianti yang ternyata bernama Fatimah.


Sebenarnya Yanti sudah sembuh dari sakitnya, tapi setiap hari aku masih mengantar dan menunggui Dianti disekolah. Selain Dianti merasa senang diantar olehku, akupun merasa bahagia mengantar dan menunggui dia disekolah. Rasanya aku seperti mempunyai profesi baru yang begitu menyenangkan. Aku sudah menganggap Dianti seperti anakku sendiri, begitupun Dianti, dia sangat menyayangiku dan enggan berpisah denganku. Bu Fatimah tidak pernah lagi diantar oleh suaminya karena dia kesekolah selalu naik kendaraan sendiri.


"Bu Fira, apa ibu masih gadis atau sudah janda," tanya bu Watinem salah satu wali murid yang selalu bersama denganku saat aku menunggu Dianti sekolah, saat jam istirahat. Dia memang suka blak-blakkan kalau bertanya. Tapi aku tidak merasa tersinggung dengan ucapannya justru aku merasa terhibur. Entah mengapa aku begitu nyaman curhat dengan dia termasuk masalah pribadiku.


Akupun mengisahkan kisah cintaku dengan Dewanta yang memutuskanku karena dijodohkan oleh orang tuanya,kemudian aku balikan dengan mantanku Dion dan akhirnya menikah hingga akhirnya bercerai karena orang ketiga.


"Kalau aku jadi ibu, sudah aku kasih cabe itu Santi biar jera," ucap bu Sulastri dan disambut gelak tawa ibu-ibu yang lain. Tiba-tiba ibu Fatimah ikut nimbrung dan mengungkapkan pendapatnya.


"Jangan begitu bu, kalau kita dizalimi orang, sebaiknya didoakan saja orang itu cepat sadar, tidak usah dibalas dengan perbuatan yang akan menyakiti dia, biar Allah saja yang membalasnya. Buktinya tanpa bu Fira membalas mereka akhirnya bercerai dan tidak bahagia, Santi tidak bisa memiliki Dion dan Dion kehilangan istri yang sangat dicintainya.


"Kalau ibu sekarang masih mencintai mantan suami ibu, atau masih mencintai mantan pacar ibu Dewanta," tanya bu Watinem.


"Tentu saja aku masih mencintai Dewanta karena dia begitu baik pada siapapun,termasuk kepadaku, dia begitu berbakti kepada orang tuanya. Dia memutuskan hubungannya denganku juga karena baktinya kepada orang tuanya, dia sangat penyayang,"ucapku kembali mengenang Dewanta.


"Bu, seandainya nih, seandainya ibu bertemu dengan Dewanta saat ini, apa yang ingin ibu lakukan," bu Sulastri kembali bertanya.


***********

__ADS_1


__ADS_2