Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 101. Menghadiri Pernikahan


__ADS_3

(POV) Dewanta


Ingin rasanya aku menjerit histeris, mendengar tuduhan Zahra, wanita yang begitu aku cintai sepenuh hati dan jiwaku. Namun aku lihat Deza putra semata wayangku tengah tertidur pulas tidak jauh dari aku dan Zahra yang sedang menyelesaikan masalah yang cukup pelik akibat omongan Santo yang tidak pakai otak. Ingin sekali aku menghajar Santo bila ingat apa yang dia ucapkan.


"Zahraaa.... tega sekali kamu menuduhku sedemikian rupa. Apa dimatamu aku ini laki-laki yang begitu hina dan murahan. Aku lelaki baik-baik Zahra. Aku memang pernah menjalin hubungan percintaan dengan wanita bernama Fira. tapi itu dulu, sebelum aku mendalami ajaran agama tentang larangan pacaran dalam islam. Sejak aku menikah denganmu, aku tidak pernah mencintai perempuan manapun selain istriku," tolong jangan menuduhku yang bukan-bukan Zahra. Aku sangat mencintaimu, tuduhanmu begitu menyakitkan bagiku hu...hu.... hu... " ku peluk kaki istriku, tak kuasa kumenahan tangis, ku tumpahkan segala sesak di dada. Aku sudah tidak perduli suaraku akan membangunkan putraku. Aku hanya ingin meyakinkan istriku bahwa tuduhannya tidaklah benar. Sayup-sayup kudengar suara tawa seorang wanita, semakin lama tawa itu semakin nyata adanya.


"Ha.. ha... ternyata kakak kalau menangis terlihat begitu menggemaskan. Aku jadi membayangkan kakak waktu kecil menangis. Rasanya aku makin cinta sama kakak, " Ternyata suara tawa perempuan itu adalah suara Zahra. Dia memeluk dan menciumiku bertubi-tubi. Aku jadi bingung dengan sikap Zahra yang tiba-tiba saja berubah drastis. Setelah beberapa menit aku berfikir, baru aku sadar kalau Zahra hanya mengerjaiku. Dia tidak benar-benar marah dan cemburu.


"Zahra, jadi kamu hanya mengerjaiku saja. Dasar gadis nakal, kamu harus dihukum karena tega mengerjai suami tampanmu ini," aku langsung mengangkat tubuh Zahra dan membantingnya dengan gemas diatas ranjang yang empuk. Aku lalu memeluk dan menciumnya bertubi-tubi. Saat tubuh kami dalam keadaan polos dan aku sudah siap menjalankan ibadah pernikahan. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamar. Suara Zahwa memanggil, dia kesulitan mengerjakan tugas sekolahnya hingga meminta bantuan uminya.


Dengan tergesa-gesa kami mengenakan pakaian kami kembali. Aku segera melangkah untuk membuka pintu, nampaklah putri sulungku tersenyum manis seraya menyapaku.


"Maaf abi, Zahwa mau minta bantuan umi untuk mengerjakan ini, abi sama umi tidak lagi sibukkan" ucap Zahwa seraya memperlihatkan lembaran tugas sekolah yang ditulis diatas kertas folio.


"Sesibuk apapun abi dan umi, pasti akan meluangkan waktu jika anak abi tersayang memerlukan bantuan kami," sahutku sembari mengacak-acak rambut putri terkasihku. Aku segera melangkah keluar kamar sambil berpaling memandang kearah istriku yang sudah berpakaian lengkap. Zahra tersenyum genit sembari mengedipkan sebelah matanya, sementara bibirnya komat kamit berbicara dalam bahasa isyarat yang mengatakan, nanti malam saja. Akupun mengacungkan jempol tanda setuju.

__ADS_1


Hari ini adalah hari pernikahan Juita dan Edi mantan karyawanku dikebun. Aku dan Zahra sudah siap dengan memakai pakaian couple.


"Zahra, kamu yakin akan hadir diacara pernikahan Edi dan Juita," tanyaku pada Zahra, yang masih memoles wajahnya dengan make up.


"Ya, yakinlah, emang apa yang buat aku nggak yakin," jawab Zahra singkat, karena dia sedang memoles bibirnya dengan lips cream.


"Aku cuma takut kalau kamu ngamuk-ngamuk disana dan menuduhku telah berselingkuh dengan Juita," ucapku, sebenarnya aku ingin sekali tahu apa maksud Zahra pura-pura cemburu dan menuduhku ada hubungan spesial dengan Juita, apa dia cuma iseng atau ada maksud lain.


"Ih ngapain aku marah-marah di acara pernikahan orang, Kemarin itu aku pura-pura marah dihadapan Santo biar dia mikir, kalau bercanda itu jangan keterlaluan. Untung dia bercanda di depanku yang sudah tahu bagaimana sikap Juita terhadap kakak, dan aku juga tahu bagaimana reaksi kakak. Setelah sekian tahun aku menikah dengan kakak, aku sudah tahu bagaimana karakter kakak dan betapa kakak begitu setia menjaga cinta kita. Coba seandai dia bercanda di depan seorang istri yang baru saja menjalani biduk rumah tangga dan belum mengenali karakter suaminya. Bisa-bisa terjadi salah paham dan berakibat fatal," ungkap Zahra menjelaskan padaku.


Sebelum berangkat Zahra pamit kepada ART dan suster yang menjaga kedua buah hatiku, mungkin sebentar lagi ibuku akan datang untuk menjenguk cucunya. Pada hari biasa, saat kami bekerja, anak-anak aku titipkan pada kedua orang tuaku dan dibantu oleh suster, tetapi pada hari libur kedua orang tuakulah yang datang kerumahku untuk bermain bersama cucu mereka.


Aku melajukan mobilku menuju keacara pernikahan Edi yang dilaksanakan secara sederhana di kediaman orang tua Edi masih di desa Padang Sawit. Saat mobil kami berjarak sekitar lima puluh meter dari rumah Edi, aku memarkirkan mobilku dirumah tetangga Edi, karena di halaman rumah Edi telah di dirikan tenda.


Sewaktu aku membuka pintu mobil, Santo dengan langkah tergopoh-gopoh menyongsong kedatanganku. Aku sempat terkejut, bukannya menemui dan menyalamiku dia malah mendekati Zahra istri tersayangku.

__ADS_1


"Ibu Zahra maafkan saya bu, saya kemarin cuma bercanda. Sebenarnya tak pernah sedikitpun pak Dewanta tertarik pada Juita, Juita memang dulu sering menggoda pak Dewanta, tapi pak Dewanta laki-laki setia dan hanya mencintai ibu Zahra seorang, saya berani bersumpah kalau tidak ada hubungan spesial antara pak Dewanta dan Juita. Saya saksi hidupnya bu!!..., tolong candaan saya kamarin jangan diambil hati dan jangan dijadikan duri dalam rumah tangga bapak dan ibu," ujar Edi seraya mengatupkan kedua telapak tangannya di dada.


"Iya, aku sudah memaafkanmu Edi. Tapi tolong candaanmu yang keterlaluan itu jangan diulangi di depan pasangan suami istri lainnya,karena itu bisa menyebabkan pertengkaran dan bisa pula berakhir dengan perceraian," sahut istriku.


"Iya bu....kemarin pak Dewanta juga sudah memarahi saya dan menasehati saya panjang lebar dan mewanti-wanti agar tidak mengulangi candaan yang keterlaluan," ujar Edi. Usai Edi dan Zahra saling memaafkan, kami segera memasuki halaman rumah Edi. Para tetangga Edi yang menjaga tamu mempersilakan aku dan Zahra untuk masuk. Aku duduk diruang tamu bersama para kerabat dan keluarga Edi sedangkan Zahra disambut oleh ibu Edi dan diajak masuk ke kamar pengantin dimana disana Juita sedang dihias oleh perias pengantin.


Edi memintaku dan Santo untuk menjadi saksi dari pihak Juita karena juita tidak mempunyai keluarga disekitar desa ini. Sedang wali nikah Juita diwakilkan oleh wali hakim. Tepat pukul sembilan pagi Edi mengucapkan ijab qobul dengan lantang dalam satu kali tarikan nafas. Pak pernghulu pun berujar,


"bagaimana saksi...sah"


Dengan serentak para saksi dan semua yang hadir menjawah sah.


*********


.

__ADS_1


__ADS_2