
(POV) Fira
Zahwa telah dibawa oleh seorang Laki-laki yang berumur sekitar lima puluh tahun yang ternyata ayah Dewanta. Saat ini hanya tinggal aku, Dewanta dan beberapa orang polisi yang masih tertinggal disini.
Dari gelagatnya sepertinya Dewanta sangat marah kepadaku. Wajahnya yang dulu selalu tersenyum manis dan begitu mendambakanku kini tiada lagi, hanya wajah kaku dan banci yang ia suguhkan padaku. sudah sejauh itukah dia berubah.
Padahal anaknya yang hilang telah aku kembalikan dalam keadaan baik-baik saja. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti Zahwa, aku menyuruh orang untuk menculik hanya mencari perhatiannya, aku tidak bermaksud menyakitinya. Buktinya aku menyuruh nenek Sumilah dan kakek warjo menjaga dan menyayangi Zahwa. Maksud aku membawa Zahwa kesini agar Dewanta Menyadari betapa aku sangat peduli dengan keluarganya, karena aku telah berjuang menemukan Zahwa. Aku lupa kalau Dewanta adalah laki - laki cerdas yang tidak gampang dibohongi
"Mari ibu Fira, ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan penjelasan mengapa anda bisa bersama dengan Zahwa," ucap pak Polisi, beliau ingin memasang borgol dikedua pergelangan tanganku, namun aku tolak, aku berjanji untuk selalu koperatif memberikan keterangan yang diperlukan polisi.
Sampai dikantor polisi aku tidak menyangka ternyata kakek Warjo dan nenek Sumilah sudah ada disana dengan kondisi tangan mereka dipasang borgol. Aku tidak tega melihat keadaan mereka, tidak ada niat buruk dihatiku untuk melibatkan mereka. Aku meminta tolong kepada mereka karena saat melihat Zahwa dikejar oleh dua orang suruhanku, kemungkinan dia akan melewati nenek Sumilah dan kakek Warjo yang saat itu sedang membrondol sawit. Aku sengaja mengarang cerita tentang Zahwa kepada nenek Sumilah dan kakek Warjo agar mereka benar-benar menjaga Zahwa dengan baik.
Dengan mempertimbangkan kondisi kekek Warjo dan nenek Sumilah akhirnya aku menghentikan rencanaku, aku mengakui kesalahanku didepan polisi dan Dewanta. Karena saat ini aku tahu Dewanta tak lagi mencintaiku. Tatapannya yang dulu begitu lembut kini terlihat datar-datar saja. Sorot matanya yang dulu penuh cinta kini aku tak melihatnya lagi. Rasanya dia bagai orang asing bagiku.
Dengan berbagai negosiasi akhirnya Dewanta bersedia damai denganku dengan syarat aku tidak boleh mengganggu rumah tangganya lagi. Aku pun menyetujui syarat tersebut. Mungkin aku harus memikirkan cara lain untuk mendapatkan cinta Dewanta yang kini telah lenyap tak tersisa.
__ADS_1
Malam ini aku pulang ke villa dengan hati hampa, sudah beberapa cara yang kulakukan untuk mendapatkan cinta Dewanta, namun selalu saja aku gagal dan gagal lagi. Bahkan aku telah menemui kedua orangtua Dewanta agar meminta Dewanta mau menikah lagi denganku. Ibu Dewanta justru marah lalu memaki-maki aku dan mengatakan sangat bersyukur karena Dewanta mau menikah dengan Zahra menantu kesayangannya bukan dengan wanita berhati busuk sepertiku.
Sekitar jam dua belas aku sampai divilla, kedua orang suruhanku ternyata sedang menungguku. Rupanya dia sedang menunggu bayaran dariku. Aku langsung memberikan sejumlah uang sesuai janjiku dan menyuruh mereka pergi karena aku malu kalau seadainya Yanti Dan Diono tahu apa yang sudah kuperbuat pada keluarga bu Zahra.
Setelah dua orang suruhanku itu pergi, aku langsung masuk kamar dan. mandi untuk menyegarkan kembali tubuhku. Selesai mandi dan makan aku membaringkan tubuhku diranjang kesayanganku.
Kini kembali hatiku bimbang, antara meneruskan kembali rencanaku untuk merebut kembali cinta Dewanta atau menerima takdir dan pasrah begitu saja seperti yang pernah aku lakukan saat Dewanta memutuskan hubungannya denganku dulu. Andai aku harus meneruskan rencanaku, rasanya aku lelah dengan kegagalan - kegagalan yang selalu saja mengiringi perjalanan hidupku. Aku terkadang malu pada diriku sendiri karena telah mengejar laki - laki yang jelas-jelas sudah tidak mencintaiku lagi. Aku sudah seperti perempuan murahan yang menistakan diriku sendiri.
Ternyata mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain itu sangat menyakitkan, tapi kita tidak bisa mengendalikan hati kepada siapa kita harus mencintai. Padahal aku tidak pernah meminta kehadirannya kepada Tuhan tapi kenapa pertemuanku dengannya telah menghujamkan panah - panah asmara yang dulu pernah ada bahkan menancap lebih dalam lagi.
Mungkin untuk melupakan Dewanta kembali aku harus pergi berlibur barang sejenak. Hingga larut malam aku terus berfikir bagaimana caranya aku kembali melupakan Dewanta agar aku bisa berhenti memikirkan rencana -rencana jahat untuk merebut kembali cinta Dewanta dari istrinya.
Entah sampai jam berapa malam tadi aku tertidur, yang jelas aku dibangunkan oleh sorot cahaya sang mentari pagi. Aku mengambil ponselku yang aku letakkan diatas nakas, itu adalah hal pertama yang selalu aku lakukan setiap bangun tidur. ada tiga kali panggilan tak terjawab dari papa. Aku segera telpon balik untuk mengetahui ada kabar apa gerangan papa menghubungiku.
Setelah menunggu beberapa saat papa pun menjawab panggilanku.
__ADS_1
"Assalamualaikum nak, bagaimana kabarmu disana, apa kamu baik - baik saja," ucap papa diseberang sana.
"Wa allaikum sallam papa, ada kabar apa pa? mama baik-baik aja kan?," ucap Fira
"Kamu jangan khawatir, semuanya yang ada disini sehat. Tapi mas Gading sedang sakit dan minta izin untuk berobat dalam waktu yang lumayan lama. Papa ingin kamu menggantikannya untuk sementara waktu. Karena kakakmu Angkasa tidak mungkin sanggup mengelola semuanya sendirian. Bagaimana? apa kamu bersedia?," ujar papa. Aku langsung menyetujui keinginan papa. Dulu mas Gading dan mas Angkasa memang mengelola usaha papa yang ada diluar pulau. Namun setelah perceraianku dengan Dion, semua perusahaan papa yang ada diluar pulau dihandle dari kota. Sehingga semua keluarga kecil mas Gading dan mas Angkasa pindah ke kota.
Hari ini juga aku langsung berkemas untuk berangkat ke kota. Sebelum berangkat aku menemui bu Zahra dulu untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang telah aku perbuat.
"Ada perlu apa lagi bu Fira datang kerumah saya, ucap bu Zahra saat aku bertamu kerumahnya.
"Begini bu, aku mau minta maaf pada ibu dan juga mas Dewanta, karena selama ini kehadiran saya telah mengusik ketentraman rumah tangga kalian. Maaf karena saya selama ini telah menyinggung dan merendahkan harga diri kalian sekeluarga. Sekarang saya mau pergi ke kota untuk mengalihkan perhatian saya, agar saya bisa melupakan mas Dewanta. Minta doanya ya bu Zahra," ucapku pada Zahra sembari menangkupkan kedua telapak tanganku di dada.
"Saya memaafkan bu Fira, karena memang tidak ada manusia ya sempurna. Manusia tempatnya salah dan khilaf. saya senang bu Fira menyadari kesalahan bu Fira. Sebenarnya mencintai seseorang itu hak siapa saja, dan hak setiap orang juga untuk menolaknya. Hati manusia bisa berubah bu, begitu juga hati kak Dewanta, dulu dia memang mencintai ibu, tapi sekarang tidak lagi. Mungkin dia terbiasa hidup bersama saya hingga sekarang dia mencintai saya. Bukankah Allah maha membolak-balikan hati manusia. Begitu juga hati ibu, selama menikah dengan mantan suami ibu, ibu mencintainya kan, tapi setelah berpisah ibu tidak lagi mencintainya dan setelah bertemu dengan mas Dewanta ibu mencintainya kembali. Jika ibu berusaha menjauh dan melupakan mas Dewanta kemudian membuka hati untuk jatuh cinta pada pria lain. Maka kemungkinan ibu akan berhasil melupakan mas Dewanta. bukannya obat dari patah hati adalah jatuh cinta lagi," ucap bu Zahra panjang lebar.
Setelah aku fikir - fikir, apa yang diucapkan bu Zahra memang benar. aku harus pergi dari desa ini untuk menemukan kehidupan baru agar bisa melupakan Dewanta kembali. kalau aku dulu bisa maka sekarang pun pasti bisa. Akhirnya aku pamit meninggalkan rumah bu Zahra dan mas Dewanta. Aku juga meminta bu Zahra untuk menyampaikan permohonan maafku pada mas Dewanta yang saat itu sedang tidak dirumah.
__ADS_1