
(POV) Sasmito
Setelah kepergian tamu istimewaku teman kecil Rupiah istri Dodo dari Paris, aku baru mengetahui kalau sebelum Dewanta menikah dengan Zahra, dia mempunyai kekasih anak seorang pengusaha dari Paris. Tapi aku kagum dengan menantuku, demi baktinya kepada orang tuanya dia rela meninggalkan Fira seorang wanita yang nyaris sempurna, cantik, cerdas, elegan berkelas dengan Harta yang berlimpah. Dia tetap menyayangi dan mencintai istri pilihan orang tuanya yang jauh dari wanita idamannya. Zahra hanya wanita desa, anak seorang peternak belut. sungguh beruntung dia memiliki suami seperti Dewanta, laki-laki yang taat kepada orang tuanya dan sudah terbukti setia terhadap istrinya, walau Fira pernah melamarnya untuk menjadi istri kedua dengan imbalan harta. Namun Dewanta tetap memilih setia, padahal jika dia memilih Fira, hidupnya sungguh bergelimang harta.
Aku kembali melangkah ke kolam ingin mengambil ponselku yang tertinggal disalah satu Gazebo diarea kolam tempat kami membudidayakan belut. Namun sampai disana aku melihat Dewanta tengah duduk sendirian. Dibawa penerangan lampu kolam.
"Kenapa kamu murung Dewa, apa ada masalah?" tanyaku pada Dewanta yang tengah murung sendirian digazebo yang ada di kolam belut. Apa jangan-jangan dia sedang menyesali pernikahannya dengan Zahra dan berniat memperistri Fira sebagai istri kedua. Aku merasa sangat khawatir, kasian Zahra yang sedang hamil anak kembar.
"Iya abah, tadi aku dan Zahra kedokter, kata dokter kandungan Zahra ada masalah, bayinya sungsang. Dokter menyarankan agar Zahra lairan dengan cara operasi caesar, Dewanta takut kalau Zahra kenapa-kenapa, bagaimana kalau Zahra tidak selamat abah, Dewanta tidak bisa hidup tanpa Zahra... hu... hu... hu..." tangis Dewanta pecah seketika. Aku terkejut mendengar kisah Dewanta. ternyata aku telah salah sangka. Aku kira menantuku sedang teringat wanita lain namun ternyata dia sebegitu takutnya kehilangan putriku Zahra. "Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, kau telah berikan aku menantu sebaik Dewanta. semoga rumah tangganya awet sampai kakek nenek," doaku dalam hati.
"Terimakasih ya nak, " baru saja aku mau melanjutkan bicaraku namun Dewanta langsung memotong.
"Apa maksud abah, saya ini sedang sedih bah, kenapa abah malah kelihatan seperti senang sekali melihat keadaan Zahra," Dewanta kembali menangis seperti anak kecil.
Begini Dewanta, kamu tidak perlu sedih chanya karena Zahra harus melahirkan dengan operasi caesar, Di jaman sekarang operasi caesar termasuk oprasi kecil, paling hanya dibius lokal saja. Zahra bisa melahirkan dengan santai karena tidak merasakan sakit. Kamu doakan saja semoga semuanya berjalan sesuai yang kita inginkan. Anak dan istrimu sehat, " nasihatku pada Dewanta menantuku.
__ADS_1
"Iya bah, Dewanta akan selalu berdoa untuk Zahra dan bayi kami semoga mereka selamat," Dewanta masih terlihat sedih. Terima kasih ya karena kamu telah menjadi suami siaga untuk Zahra.
"Abah juga mau minta maaf mengenai perjodohan kamu dan Zahra. Ternyata pengorbananmu begitu besar, kamu harus putus dengan Fira seorang wanita yang sangat kamu cintai hanya Untuk menikahi Zahra putriku yang cuma seorang gadis desa dan tidak mampu. Abah benar-benar bangga padamu, kamu adalah menantu idaman setiap mertua, " ucapku sambil terus memperhatikan Dewanta yang terlihat tidak sesedih tadi.
"Waktu itu Dewanta tidak tega menolak perjodohan ini. Dewanta cuma ingin membahagiakan orang tua. Memang hati Dewanta sempat hancur saat memutuskan berpisah dengan Fira, tapi Dewanta jalani dengan ikhlas abah. Setelah Dewanta dikenalkan dengan Zahra. berangsur-angsur, kesedihan Dewanta karena berpisah dengan Fira sirna. Tanpa Dewanta sadari pertemuan demi pertemuan dengan Zahra membuat kami sama-sama merasa nyaman. Zahra orang yang santai tapi dia dewasa, pengertian, pokoknya Dewanta menyukai apa saja sifat yang ada dalam diri Zahra. Dewanta bahkan tidak menyangka kalau masa-masa pengantin baru kami begitu indah dan hingga sekarang kebahagiaan kami serasa semakin sempurna. Cinta Dewanta kepada Zahra semakin lama semakin besar bahkan kadang Dewanta takut kalau Tuhan murka dan memisahkan kami berdua dengan caranya karena cinta kami yang melebihi cinta pada sang pemilik Nya," Dewanta terus mengungkapkan perasaannya.
"Cinta memang terkadang membuat kita lupa diri dan itu juga merupakan ujian hidup, agar kita tidak larut hanya memikirkan dan mengurus tentang cinta saja. Padahal banyak yang harus kita kerjakan di dunia ini, terutama mencari bekal untuk kehidupan nanti setelah mati. Berbuat baik sebanyak-banyaknya, cinta yang sesuai ajaran agama adalah salah satu faktor pendukung yang memudahkan kita untuk senantiasa melakukan kebaikkan," ucapku pada Dewanta laki-laki yang selalu setia mendampingi putri tersayangku.
"Iya abah, Dewanta perlu belajar banyak dari abah, semoga dihari tua nanti kami berdua bisa seperti abah dan mama menjadi orang tua yang mampu membimbing anak-anaknya dengan baik dan bijaksana," ucap Dewanta dan aku pun menjawab Aamiin. Semoga harapan anak
"Kakekkkk, abiii...kakek sama abi dipanggil umi," Zahwa mendatangi kami untuk menyampaikan pesan dari Zahra sambil membawa senter dan mengarahkan kepala senternya kearah aku dan Dewanta hingga cahaya dari senter itu membuat silau mataku.
Aku mengajak Dewanta untuk beranjak dari area kolam belut dimana kami sejak tadi bersantai sambil mencurahkan isi hati. Lalu melangkah masuk kerumah dan terus menuju ruang makan tempat dimana kami biasa berkumpul.
"Abah, kakak, makan dulu, kalian ngobrolin apa diluar kelihatannya serius banget," tanya Zahra sambil menyusun makanan dimeja makan. Rupanya dia hendak makan.
__ADS_1
"Bukannya tadi kamu baru saja makan bareng kami, kenapa makan lagi apa sudah lapar lagi," ucapku merasa heran karena tadi sudah menghabiskan dua piring nasi.
"Iya bah, rasanya perut Zahra tidak mau kenyang, dikit-dikit lapar," ucap Zahra sembari memandang kearah Suaminya yang duduk disampingnya. Sepertinya dia heran melihat mata suaminya yang sembab.
"Kamu habis nangis kak, apa karena bu Fira sama mas Galih mau menikah, kakak menyesal tidak bisa menikahi bu Fira? dan itu artinya kakak menyesal menikahiku, jawab kakkk?... " tangis Zahra pecah, dia menggoyang-goyang bahu suaminya. Aku segera mendekati dan mencoba menenangkannya.
"Tidak biasanya dia begitu gampang emosi, mungkin karena bawaan bayi ,"fikirku.
"Untuk apa aku memikirkan Fira, dia bukan siapa-siapaku. Kamu kan tahu aku sudah tidak ada hati sama perempuan itu. Aku justru sedang memikirkan keadaanmu Zahra. Aku selalu ingat apa kata Dokter kalau kamu harus lairan dengan caesar," ucap Dewanta menjelaskan. Entah mengapa kali ini aku mencoba diam saja melihat anakku memarahi menantuku, aku ingin tahu bagaimana cara mereka menyelesaikan masalah ini.
"Ya enggak mungkin kak, masa gara-gara istri harus menjalani operasi caesar kamu sampai segitu sedihnya, itu tidak masuk akal kak, kakak fikir aku gampang dibohongi, " balas Zahra lagi.
Kulihat mama Zahra mengintip dari balik pintu sambil memandang Zahwa dan bertanya padaku, ada masalah apa mereka, tapi menggunakan bahasa isyarat. Namun aku hanya menggelengkan kepalaku dengan santai. Kemudian istriku melangkah mendekati meja makan.
"Ada apa kalian malam-malam begini kok ribut, malu sama anak, kalau ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin, dengan cara baik-baik, " ucap istriku dengan lembut.
__ADS_1
*******