
(POV) Galih
Entah sudah berapa hari Juita, gadis yang dikenalkan Santi di acara resepsi pernikahanku bekerja dirumahku. Sebenarnya berawal dari kecurigaanku pada gerak-gerik Santi dan Juita di acara pestaku waktu itu dan secara tidak sengaja aku mendengar obrolan Juita dan Dewanta yang ternyata mereka saling kenal.
Saat ada kesempatan aku duduk disamping Dewanta, aku pun segera menanyakan perihal Juita kepada Dewanta. Tak menyangka Juita adalah pekerja di kebun Dewanta sebagai pembrondol sawit. Menurut Dewanta, sebenarnya dia ingin memberhentikan Juita karena keberadaannya mengganggu kaum adam yaitu dengan berpakaian seronok dan kerap menggoda lelaki termasuk dirinya hingga membuat istrinya cemburu. Namun dia masih mencari moment yang tepat.
"Dia selalu menyamakan semua pria sama saja seperti pria hidung belang yang sering dia temui. Dia selalu berfikir kalau aku tertarik padanya. Dia fikir aku lelaki murahan yang suka menabur benih dirahim selain istriku, dia fikir aku tertarik dengan gaya berpakaiannya. Aku justru muak dan jijik melihat perempuan yang menistakan harga dirinya demi mendapatkan perhatian lelaki," Dewanta bercerita dengan berapi-api seperti sedang mengeluarkan unek-unek yang lama ter pendam dihatinya. Aku pun kemudian menceritakan kekhawatiranku tentang tingkah laku Santi dan Juita yang sepertinya merencanakan sesuatu. Jujur aku sangat takut mereka mengganggu kebahagiaan rumah tanggaku, mengingat Santi adalah mantan istri Dion yang telah merebut Dion dari Fira. Sepertinya Santi masih menaruh dendam pada Fira.
Akhirnya aku dan Dewanta sepakat untuk saling memberi informasi dan mengawasi gerak-gerik mereka berdua. Beberapa hari kemudian Dewanta mencuri dengar pembicaran Juita dan Santi ditelepon.
Ternyata mereka mempunyai rencana busuk. Santi menggantikan Juita untuk masuk dan menghancurkan rumah tangga Dewanta, dia akan melamar kerja ditempat Dewanta menggantikan Juita yang memang terancam keluar untuk kemudian mencoba merayu dan menarik perhatian Dewanta. Sedangkan Juita akan ke kota melamar pekerjaan dirumahku menjadi asisten rumah tangga. Santi juga membekali Juita dengan obat perangsang untuk menjebakku.
Setelah selesai acara resepsi kami semua pun kembali kekota. Aku menceritakan apa yang aku bicarakan dengan Dewanta mengenai rencana Santi dan Juita.
__ADS_1
Semula aku merencanakan akan menolak, andai nanti Juita melamar kerja dirumahku. Namun menurut Fira sebaiknya diterima saja, kemudian kita kasih pelajaran supaya jera. Usul Fira pun aku bicarakan dengan Dewanta. Akhirnya kami sama-sama menerima Juita dan Santi, namun tetap harus waspada agar tidak kecolongan.
Sudah beberapa kali Juita mencari- kesempatan untuk bisa menggodaku. Terutama saat pulang kerja, karena memang aku selalu pulang lebih awal daripada istriku. Setiap hari bi Rasmi asisten kepercayaan Fira yang puluhan tahun bekarja pada Fira selalu memberikan informasi tentang apa yang mereka bicarakan kepada kami. Sehingga kami juga bisa menyusun rencana untuk menangkis serangan Juita. Setiap sore bi Rasmi selalu memberi informasi kalau Juita tengah menungguku dengan dandanan yang seronok. Itulah sebabnya setiap aku datang langsung masuk kamar dan diam dikamar sampai Fira pulang. Untungnya Juita tidak berani mengetok kamarku. Karena bi Rasmi selalu bilang kalau aku tidak suka diganggu kalau sedang di dalam kamar. Aku kagum dengan sukap bi Rasmi terlihat mempunyai kesetiaan dan loyalitas tinggi terhadap majikan yang telah membayarnya. Tak heran kalau Fira selalu ingin bi Rasmi ikut bersamanya. Bahkan Fira sudah menganggap bi Rasmi seperti orang tuanya sendiri.
Hari ini aku dan Fira sudah berencana ingin mengerjai Juita. Sebenarnya hari ini aku dan Fira pulang sama-sama, namun dia langsung masuk kamar tanpa diketahui oleh Juita. Sedangkan bi Rasmi pun sudah memgetahui rencana ini. Sehingga dia pura-pura tidur dikamar, agar Juita punya kesempatan untuk melancarkan aksinya.
Sekarang kopi susu yang buat oleh Juita untukku telah ku tukar dengar dengan miliknya. Aku tahu ada yang dia masukkan diminumanku. Tapi yang aku lakukan sungguh percuma. Karena tiba-tiba aku merasa sekujur tubuhku terasa panas, ada yang berdiri tegak dibawah sana. Seketika itu juga aku merasa terangsang. Dorongan ingin melakukan hubungan intim begitu kuat. Aku merasa gelisah. Tapi aku melihat tubuh Juita pun merah padam, badannya bergerak-berak tak karuan sepertinya dia pun merasakan apa yang aku rasakan. Ternyata dia memasukan obat perangsang itu kedalam minumannya juga. Hebat!!, rupanya dia sudah memperhitungkan kalau aku bakal menukar minumanku dengan miliknya. Tapi aku lebih hebat, karena aku akan segera menuntaskan hasratku pada istriku tercinta.
"Pak Galih, aku...aku mencintai pak Galih, aku jadi milik bapak, ayo kita lakukan pak," Juita mendekatiku, dia ingin memeluk dan menciumku. Namun aku segera menghindar.
"Ayolah pak, cepat kita lakukan, aku.sudah tidak tahan, aku menginginkan bapak sekarang. Aku ingin jadi milik bapak seutuhnya. Kalau bapak malu melakukan disini. Kita bisa lalukan dikamarku, aku mohon pak, jangan biarkan aku tersiksa pak, puaskan aku, aku akan melayani bapak sepuasnya," Juita terus mendekatiku sembari terus berceloteh, sementara tangannya terus bergerak-gerak melepaskan kancing bajunya satu persatu, kemudian dia melepaskan pakaian yang menutupi tubuhnya satu demi satu. Aku terus bergerak mendekati kamarku untuk menuntaskan hasratku yang sudah si ubun-ubun kepada istriku.
"Hai Juitaaaa!! ...... Kamu apain suamiku. Kamu pikir suamiku laki-laki murahan seperti yang ada difikiranmu. Suamiku laki-laki baik-baik tidak seperti yang ada dalam fikiranmu. Ngapain kamu lepas baju segala, dasar perempuan tidak tahu malu. Kamu fikir kami tidak tahu niat busukmu," ucap Fira sambil memelukku. Aku yang sudah tidak tahan langsung memeluk dan mencium bibir Fira. Dengan badan bergetar karena menahan hasrat yang tak tertahankan, Juita terduduk dan berguling-guling,kelojotan tak karuan.
__ADS_1
"Bi Rasmiiii....bi....tolong bibi urus dia" Bi Rasmi dengan semangat berlari mendatangi kami, dia memandang kearah Juita kemudian tersenyum.
"Kami sudah mengira, kamu akan melakukan semua ini. Sekarang rasakan akibat dari hasil perbuatanmu sendiri"ujar bi Rasmi.
"Ayo sayang kita bersenang-senang sekarang, bi tolong urus perempuan itu, aku mau melayani suamiku tercinta," ucap Fira sambil merangkulku dan memapahku naik kelantai atas menuju ke kamar kami. Aku sudah tidak mampu mengendalikan tubuhku. Tanganku terus bergerak menyentuh seluruh bagian tubuh istriku. Ku dengar Juita masih terus berteriak sambil mendesah memanggil namaku.
Byuur....byuuur.....Rasakan ini perumpuan gatal.....dasar murahan, ayo kekamar mandi, malas aku menyimburmu lagi, kamu fikir mudah mengangkat air seember dari kamar mandi kesini," rupanya bi Rasmi menyimbur Juita dengan seember air.
"Pak Galih tolong aku pak, aku sudah tidak tahan, bu Fira aku mohon biarkan pak Galih memuaskan aku, aku sungguh tersiksa, oooh, paaaak Gaaluliiihhh aku mencitaimu, " teriakan Juita dan bi Rasmi masih terdengar yang semakin lama semakin jauh.
Perjalanan dari ruang makan menuju kamarku terasa sangat lama dan penuh perjuangan, perjuangan menahan hasrat yang begitu membuncah. Untung saja Fira tadi memutuskan ikut, walau dia harus meninggalkan meeting yang begitu penting untuk kemajuan perusahaan. Semua itu tidak sia-sia, karena aku sangat membutuhkannya saat ini.
Akhirnya kami sampai juga dilantai atas, Fira segera melangkah masuk kekamar sambil memelukku dan kemudian mengunci pintu. Tanpa fikir panjang kami langsung tancap gas menuju surga yang indah didunia fana ini. Kami berdua pun larut dalam permainan indah hingga lupa waktu, entah sampai jam berapa.
__ADS_1
*******