Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 6. Malam Pertama 1


__ADS_3

(POV) Dewanta


Hari ini adalah hari pernikahan aku dan Zahra. Hari pernikahan adalah hari yang dinanti-nanti oleh sepasang insan yang saling mencintai. Bagitu juga bagiku, hari ini aku merasa sangat bahagia, tak sabar rasanya aku menyandang gelar sebagai suami wanita bernama Fatimah Azzahra. Wanita cantik bermata teduh, walaupun diantara kami belum ada saling mencintai.


Sejak pertama kali aku bertemu gadis bermata teduh di area persawahan hingga pertemuanku dengan Zahra calon istri yang dijodohkan kedua orang tua kami yang ternyata dia adalah gadis bermata teduh itu. Sejak saat itu perasaan sakit yang teramat sangat karena perpisahanku dengan mantan kekasihku Fira Anastasya perlahan-lahan sirna. Bahkan nama Fira yang selama ini bertahta menjadi ratu dihatiku perlahan namun pasti tergeser oleh kehadiran Fatimah Azzahra.


Kini hanya nama Zahra yang mengisi seluruh ruang di hatiku. Mungkin saat.ini benih-benih cintaku terhadap Fatimah mulai tumbuh dan bersemi. Aku berharap Fatimah juga mempunyai perasaan yang sama denganku.


Hari ini aku mematut diri dicermin dengan kemeja warna putih dilapisi jas warna hitam dan celana panjang warna senada siap menuju rumah Zahra calon istriku. Dengan menggunakan beberapa mobil aku dan rombongan keluargaku berangkat menuju rumah Zahra. Selang sekitar dua puluh menit kemudian rombongan kami sampai ditempat mempelai wanita.


Suara sholawat berkumandang menyambut kedatangan kami. Setelah semuanya duduk aku dan abah Zahra siap mengucapkan ijab qabul. Aku memberikan seperangkat alat shalat dan sepuluh hektar kebun karet yang kebetulan berlokasi di desa Padang Gatah sebagai mahar pernikahan.


Saat janji suci telah ku ikrarkan yang artinya aku dan Zahra telah resmi menjadi sepasang suami istri. Zahra datang di iringi beberapa ibu-ibu menemuiku, dia menyalami dan mencium punggung tanganku. Sentuhan bibir Zahra dipermukaan kulit tanganku seketika membuat jantungku berdesir. Aku segera membalasnya dengan memberikan ciuman dikeningnya kemudian memeluknya.


Hal serupa memang sering kali aku lakukan pada mantan kekasihku Fira. Namun kali ini rasanya sangat berbeda, ada rasa tenang dan tentram yang begitu nyaman.


Aku segera menggenggam tangan Zahra berjalan menuju sepasang suami istri yang sekarang resmi bergelar mertua. Kami bersimpuh dan memohon restu. Berbagai pesan dan nasehat diberikan oleh mertuaku.


Kemudian kami menuju ketempat dimana kedua orang tuaku duduk.


"Selamat ya anak ayah, kebanggaan ayah, sekarang kamu sudah menjadi seorang suami. Kamu mempunyai tanggung jawab terhadap istrimu maka tunaikanlah tanggung jawabmu. Sekarang kamu menjadi imam dikeluarga kecilmu sudah seharusnya kamu bisa menjadi panutan bagi mereka. Semoga kalian dikaruniai cinta yang berlimpah," ucap ayah sembari menyapu sudut matanya yang basah. Kemudian ibu memegang bahuku.


"Nak sekarang sudah ada yang mendampingimu, melayanimu dan menemanimu dalam setiap langkahmu. Jagalah dan sayangilah istrimu seperti kami menjaga dan menyayangimu," ucap ibuku dengan suara serak diiringi isak tangis bahagia. Usai acara pernikahan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.


Aku dan Zahra duduk dipelaminan dalam balutan busana adat daerah kami. Aku tak pernah melepaskan genggaman tangan istriku. Satu persatu undangan berdatangan, mereka berasal dari warga sekitar. Suara alunan musik kuda lumping ala modern menggema keseluruh penjuru desa.


"kok kuda lumpingnya dari tadi cuma tarian saja, tidak ada yang kesurupan," ucap salah satu undangan yang akan menyalami kami pada temannya.

__ADS_1


" Itu namanya kuda lumping modern, jadi acaranya ada berbagai macam tarian kuda lumping dan berbagai atraksi," jawab undangan yang lain.


Jam menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Para tamu undangan sudah tak ada lagi, sebagian kursi dan pelaminan sudah dibongkar. Para ibu-ibu sibuk mengumpulkan makanan yang tersisa, ada daging, ayam, sayur, kue dan lain-lain. Kemudian dimasukan kedalam kantong plastik dan dibagikan kepada tetangga.


Mama mengantar aku dan Zahra kekamar Zahra yang sekarang sudah dihias menjadi kamar pengantin.


"Kak aku mandi duluan yah," ucap istriku," tangannya sibuk melepaskan asesoris yang ada dikepalanya dan beberapa juga dibajunya.


"Kita mandi bareng," ucapku sembari menaik turunkan alisku beberapa kali. Istriku hanya tersipu. Aku mendekatinya dan memeluknya, untuk pertama kalinya, aku meraba perutnya yang rata. Kucoba menurunkan telapak tanganku kearea bawah pusat. Aku memejamkan mata sembari menikmati sensasi yang membuat dadaku kembali berdebar.


"Aku mandi dulu kak...


Jebrettt....


Aku terkejut, kala istriku melepaskan pelukanku dan berlari kekamar mandi lalu menutup pintu kamar mandi dengan tergesa-gesa. Namun aku hanya tersenyum melihat kelakuan istriku yang begitu menggemaskan.


Sudah sekitar setengah jam aku berbaring menunggu istriku mandi yang tak kunjung selesai.


Cekreek...


"Kak tolong ambilkan handuk dilemari paling bawah," ucap istriku yang terlihat kepalanya menyembul dari balik pintu. Aku segera mengambilkan handuk ditempat yang ditunjukkan istriku dan melangkah perlahan memuju kamar mandi.


Tok....


Tok...


Tok...

__ADS_1


"Sayang ini handuknya," ucapku sembari mengetuk pintu kamar mandi.


Ceklek...


Kepala istriku lagi-lagi menyembul setelah pintu kamar mandi dibuka, tangannya hendak mengambil handuk yang ada ditanganku. Namun dengan cepat aku menyembunyikan dibelakang pinggangku, puas rasanya melihat mukanya cemberut, sungguh membuatku geli. Kamu tidak membawa handuk karena mencoba menghindariku bukan!!, jadi karena kamu sudah berani mengerjai suamimu yang ganteng ini, maka kamu harus dihukum dan hukumannya adalah mandi bareng," ucapku.


"Okey..mana handuknya,"Zahra langsung mengambil handuk ditanganku dan menutup kembali pintu kamar mandi.


Jebreet...


Saat pintu dibuka, aku segera mendorong pintu kamar mandi dan menerobos masuk dengan diiringi tawa penuh kemenangan.


Aku langsung melepaskan seluruh pakaianku sambil memperhatikan istriku Zahra yang hanya menggunakan handuk sampai sebatas dada dan terlihat buah dadanya menyembul keluar. Sementara bagian bawahnya hanya sebatas paha memperlihatkan dua batang pahanya yang kencang dan putih bersih. Aku langsung menelan saliva, melihat apa yang ku lakukan Zahra langsung balik badan.


"Kenapa balik badan, ayo lihat aku, ini halal lho, sudah waktunya kamu mengenal anatomi tubuh laki-laki," ucapku sembari tertawa dan melanjutkan mandi dengan segera. Aku mengenakan handuk sebatas pinggang dan memeluk Zahra dari belakang, mencoba menekankan tubuhku pada tubuhnya dan memeluknya lebih erat.


Hening...


Hanya terdengar bunyi detak jantung kita yang saling bersahutan. Aku mencium telinga dan leher istriku. Kulihat mata istriku terpejam menikmati. Zahra berteriak saat tiba-tiba aku mengangkat tubuhnya keluar dari kamar mandi menuju ketempat tidur dan menurunkannya disana.


Kami segera berpakaian dan menunaikan shalat isya dan shalat sunnah dua rakaat. Untuk pertama kali aku menjadi imam dan istriku menjadi makmum. Ini merupakan pengalaman pertama yang mendebarkan.


Selesai shalat aku memandang kebelakang dimana ada Zahra yang sedang menjadi makmumku. Tangannya terulur menyalamiku dan mencium punggung tanganku, aku langsung membalas dengan mencium keningnya sembari berdoa.


"Mudah-mudahan pernikahan aku dengan wanita bernama Fatimah Azzahra binti Sasmito diberkahi dan mendapat ridho dari Allah SWT. Mudah-mudahan kami diberi anak yang soleh soleha berguna bagi bangsa dan agama. Berkahilah cinta yang berlimpah dihati dan keluarga kami. Aku meniup ubun-ubunnya tiga kali. Selesai shalat Zahra langsung merapikan mukena dan sajadah yang barusan kami pakai dan meletakkannya di dalam lemari.


Perlahan aku mendekati istriku mendekapnya erat dan kupejamkan mataku, menghirup bau harum tubuhnya.

__ADS_1


"Zahra bagaimana perasaanmu sekarang, apa kau sudah jatuh cinta padaku," aku berbisik dengan tetap memejamkan mataku


*******


__ADS_2