Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 110. Curhat


__ADS_3

(POV) Marni


"Enggak biasanya kamu bertamu pagi-pagi sekali kerumahku Tini, apa kamu habis berantem sama Tono?, mukamu terlihat tidak bersemangat begitu seperti kurang tidur," sapaku melihat wajah kusut Tini.


"Aku memang kurang tidur mbak. Mbak Marni kan tahu, dari dulu kalau aku banyak fikiran suka susah tidur," sahut Tini adikku. Jawaban Tini membuatku penasaran apa gerangan yang membuatnya banyak fikiran dan tak bisa tidur. Apakah Santi membuat ulah lagi, sebaiknya aku tanyakan saja, siapa tahu aku bisa bantu dia.


"Apa Santi buat ulah lagi de, nanti biar aku hubungi Galih buat memberi teguran kepada anakmu," ucapku.


"Bukan Santi mbak,, kalau Santi aman, dia kan sudah bekerja direstoran Galih, sekarang dia sedang giat-giatnya bekerja karena ingin mendapatkan bonus dari Galih. Aku cuma penasaran apa sebenarnya yang terjadi dengan keluarga Dion. Kemarin Kiran menelpon katanya mereka pergi dari rumah pak Dirgantara, Mereka menginap di hotel dan hari ini katanya mau pindah kerumah baru. Kalau menurut Kiran sih Dion bertengkar dengan bu Retno dan pak Dirgantara juga ikut Dion dan Yunian sekeluarga pergi dari rumah," terang Tini. Sejenak aku berfikir, apa ini ada kaitannya dengan Fira, karena sepertinya bu Retno amat menyesal Dion cerai dengan Fira setelah mengetahui Fira hamil. Kenapa firasat aku kok kesana.


"Mbak.....menurut mbak Marni bagaimana, aku cuma mengkhawatirkan keadaan Kiran, kalau terjadi perpecahan di keluarga mereka," perasaan Tini mungkin sama denganku, dia khawatir dengan nasib cucunya sedangkan aku khawatir dengan Yunian anak perempuanku satu-satunya.


"Aku belum ada dengar kabar apa-apa de, Yunian belum ada telepon aku. Apa sebaiknya aku telepon Yunian saja ya, supaya tahu bagaimana kabar mereka. Aku juga sama kaya kamu, kepikiran anak dan cucuku," sahutku sembari melangkah masuk kedalam kamar untuk mengambil ponselku.

__ADS_1


Assalamuallaikum mama, mama apa kabar," jawab Yunian putriku dalam panggilan vidio call yang sedang kami lakukan.


"Mama baik-baik saja nak, mama cuma khawatir sama kamu. Kiran kemarin telpon bule Tini,katanya kalian pergi dari rumah pak Dirgantara, ada masalah apa nak, cerita sama mama, siapa tahu mama bisa kasih kamu saran, terus terang mama kepikiran kamu sama Jordan terus, takut kalian dalam masalah," aku langsung bertanya pada Yunian.


"Iya ma, mama mertuaku ingin mas Dion mendekati Fira, agar Fira dan Galih bercerai dan mama mertua menginginkan mas Dion menikahi Fira setelah Fira berpisah dengan Galih. Mas Dion menolak karena dia sudah bahagia menjadi suamiku, mas Dion tidak mau menyakitiku selain itu dia tahu Fira sudah bahagia dengan Galih, rasa cinta untuk Fira dihati Mas Dion telah lama sirna setelah menikah denganku. Akhirnya mas Dion memilih membawaku dan anak-anak pergi dari rumah agar ucapan mama tidak menyakiti hati kami. Papa pun memutuskan untuk berpisah dengan mama karena merasa gagal mendidik mama, papa ingin menghabiskan hari tuanya bersama anak, cucu dan menantunya," pemaparan Yunian membuatku shock, aku tidak menyangka bu Retno punya keinginan yang sangat tidak masuk akal. Apa dia tidak malu, Fira yang dulu sudah dia campakkan sekarang ingin dia pungut kembali setelah Fira bahagia dengan orang yang begitu mencintainya. Segitu percaya dirinya dia kalau rencananya akan berhasil. Apa dia fikir Fira itu bodoh, sehingga mau melepaskan Galih lelaki paling berharga setelah papa dan saudaranya.


"Ya ampuun!!... Bu Retno kok kelakuannya kaya gitu banget. Ya enggak mungkin Fira masih mau sama Dion, Dia lho sekarang cinta mati sama Galih. Bu Retno benar-benar cari-cari masalah," selorohkui. setelah menyaksikan panggilan vidio call antara aku dan keluarga Yunian.


"Kamu harus tabah menjalani ujian hidup dalam rumah tanggamu ya nak!! Apa yang mama mertua kamu lakukan jangan membuatmu lantas membenci mama mertuamu. Kamu harus berbakti kepada mama mertuamu seperti baktimu pada mama. Nasihati suamimu nak, mungkin beliau sedang khilaf," paparku pada Yunian. Yunian pun menuruti apa yang aku ucapkan.


"Rupanya seperti itu ya de keadaan keluarga pak Dirgantara. Kita sebagai manusia cuma bisa melirihkan doa agar keluarga anakku dan besanku kembali harmonis seperti sedia kala, semoga mereka kuat menghadapi ujian berat ini.


"Betul sekali mbak, tapi ada baiknya mbak telepon Galih dan Fira untuk menyampaikan kabar ini, agar Fira dan Galih berhati-hati. Siapa tahu bu Retno mengirim orang bayaran untuk mengganggu rumah tangga Galih dan Fira. Maklumlah mereka kan orang banyak duit bisa melakukan apa saja yang di inginkan," aku pun membenarkan ucapan Tini dan mengikuti sarannya untuk menelpon Galih dan Fira, mumpung masih pagi, kemungkinan mereka belum berangkat kerja.

__ADS_1


"Assallamuallaikum, hallo mama..., mama pagi-pagi telepon ada kabar apa ma," sapa Fira dilayar hand phone, rupanya dia sedang menikmati segelas susu hangat. Sementara disampingnya Galih dengan rambut basah seperti baru saja selesai mandi.


"Kabar mama baik-baik saja nak. Semoga kalian berdua juga begitu. Akupun menceritakan tentang apa yang terjadi dengan keluarga Dion dan Rencana gila bu Retno.


"Mama tidak perlu khawatir dan banyak Fikiran. Tidak semudah itu bu Retno mengatur kami sedemikian rupa. Diantara Fira dan Dion sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi, Dion hanya mencintai kak Yunian, dia tidak mungkin mengulang kebodohan untuk yang ke dua kali dan Fira juga sudah cinta mati sama Mas Galih, jadi tidak mudah untuk memisahkan hubungan kami berdua yang senantiasa penuh cinta dan bahagia." ujar Galih.


"Syukurlah kalau begitu. Mama jadi lebih tenang sekarang. Semoga kebahagian selalu menyertai rumah tangga kalian berdua anak dan menantuku," doaku untuk Galih dan Fira.


"Ada apa ma, pagi-pagi tidak biasanya menelpon Fira sama Galih, ini lagi Tini pagi-pagi sudah ngajak ngerumpi," ujar suamiku yang tiba-tiba sudah ada di dekatku. Aku segera menceritakan masalah yang terjadi dalam keluarga pak Dirgantara dan keliarga Dion. Aku juga bercerita kalo aku barusan memberi tahu Fira dan Galih lewat panggilan jarak jauh dan bagaimana reaksi mereka menyikapi masalah ini. Papa Galih pun manggut-manggut mendengar kisahku.


"Ujian hidup memang selalu ada dalam rumah tangga. Itu semua terjadi agar kita semakin dewasa. Kita sebagai orang tua hanya bisa memberi support dan doa yang terbaik untuk mereka ma," ujar suamiku yang mencoba menyikapi dengan bijaksana.


"Bagaimana kalau besok kita pergi ke kota untuk menjenguk mereka pa, Dion dan Yunian kan sudah punya rumah sendiri, jadi kita tidak perlu sungkan," ujarku pada papa Galih suamiku. Ternyata suamiku pun sependapat denganku.

__ADS_1


"Aku ikut mbak..aku juga kangen sama Kiran," sahut Tini. Akhirnya kami pun sepakat kalau besok pagi akan pergi ke kota untuk bertemu anak dan cucu kami.


*******


__ADS_2