Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 22. Meratapi


__ADS_3

(pov ) Fira


Aku sangat bahagia saat ketemu Dewanta setelah sekian tahun tidak bertemu. Rasanya cinta yang dulu telah hilang kini hadir lagi. Aku yakin Dewanta masih sangat mencintaiku. Ini saatnya aku harus memperjuangkan cintaku. Aku tidak mau pasrah begitu saja menerima takdirku, bukankah takdir bisa berubah dan hanya kita sendirilah yang harus berusaha merubah takdir. Aku sudah bosan hidup menderita, aku sudah bosan selalu berada dipihak yang harus mengalah.


Dewanta dan Bu Zahra memang telah mengikrarkan janji suci untuk hidup bersama tapi akan aku pastikan janji suci yang mereka berdua ikrarkan tidak akan menghalangi cintaku pada Dewanta.


Bu Zahra hanya wanita desa yang tidak pernah mempunyai harta berlimpah, tentu dia akan dengan senang hati menerima penikahanku dengan Dewanta jika dia diberi limpahan harta. Aku memang akan menjadi istri yang kedua bagi Dewanta tapi aku yakin, hanya ada aku wanita satu-satunya yang mengisi hatinya.


Aku sangat terkejut saat aku menyampaikan niat baikku dihadapan Dewanta dan bu Fatimah. Jawaban Dewanta jauh dari ekspetasi. Dia justru malah menolak dan menghinaku sebagai wanita yang tidak punya harga diri. Bukankah semua yang aku lakukan karena cintaku yang begitu besar kepadanya.


"Kamu bilang cinta kepadaku Fira, kamu tahu, cinta tidak pernah mengajarkan untuk merusak cinta yang lain dan tidak akan pernah ada kebahagian yang hadir dari hasil mencuri kebahagiaan orang lain," ucap Dewanta dengan muka memerah karena emosi.


Dewanta benar-benar telah berubah, dia dulu begitu lembut dan penyayang. Aku tidak pernah melihat dia semarah itu. Apakah kehidupan rumah tangganya yang tidak bahagia yang membuat dia mudah tersulut omosi.


"Mas aku bermaksud baik ingin membahagiakanmu, aku tahu kamu tidak bahagia hidup bersama wanita yang tidak kamu cintai. Aku datang ingin memberikan kebahagian. Kenapa kamu malah bersikap begitu, apa kamu menolak untuk bahagia," ucapku sambil menahan rasa sesak didada.


"Assallamu allaikum abi, Umi, lihat Zahwa dibelikan boneka sama nenek," ujar Zahwa sambil memeluk sebuah boneka Panda, sementara dibelakang seorang bu berumur sekitar lima puluh tahun berjalan mengiringi langkah Zahwa. Zahra segera menyalami dan mencium punggung tangan ibu itu, begitu juga ibu itu membalas dengan mencium kening Zahra. Dewanta juga melakukan hal serupa.


"Maaf ada tamu rupanya, ucap ibu itu yang kemudian menyalamiku. Aku juga membalas dengan mencium punggung tangan ibu itu seperti yang dilakukan oleh bu Zahra dan Dewanta.


"Kenalkan bu, saya Fira mantannya mas Dewanta waktu masih bekerja di kota dulu," ucap Fira.

__ADS_1


"Oh iya kalau saya ibunya Dewanta, silakan ngobrol-ngobrol dulu nak Fira saya tinggal kebelakang dulu ngurus cucu, dibikin santai saja," ucap bu wajirah. Ayo cucu nenek, kita main didalam saja umi dan abimu lagi ada tamu, Zahwa tidak boleh mengganggu ya, Zahra ingin mengikuti mertuanya kebelakang, tapi mertuanya segera memberi kode agar dia duduk menemani Dewanta saja.


"Kamu disini saja, jangan tinggalkan suamimu," bisik ibu Wajirah. Zahra pun akhirnya duduk kembali.


"Kamu sekarang sudah pahamkan Fira, aku tidak bisa menikah denganmu karena aku sudah menikah dengan Zahra. Aku bukanlah orang yang mampu berpoligami. Sebaiknya kamu pulang. Mungkin dirumahmu kamu bisa kembali berfikir jernih, Dewanta masuk meninggalkan Fira dan Zahra.


"Maaf ya bu Fira sepertinya suamiku tidak bisa memenuhi keinginan ibu dan saya sebagai istri juga tidak mau jika suami saya menikah lagi. Seandainya ibu diposisi saya, ibu pasti akan berfikir seperti saya.


"Mungkin saya akan menggunakan cara lain untuk memiliki kembali cinta yang hilang. Permisi!!," aku langsung berlalu pergi membawa sejuta rasa kecewa.


Aku kemudikan mobilku menuju villa tempat tinggalku. Sepanjang jalan pulang aku terus teringat bagaimana sifat angkuh Dewanta. Padahal saat kemarin aku bertemu dia diacara pengantin, sikapnya begitu manis, sorot matanya masih seperti dulu, sorot mata penuh cinta. Apa mungkin Zahra dan keluarganya telah mengancam dan mempengaruhi dia atau Zahra telah mengarang cerita buruk tentangku pada Dewanta.


Kira-kira, bagaimana ya kabar Dion sekarang, kemana sebenarnya dia merantau. Kalau aku fikir-fikir orang-orang yang menyakitiku sekarang menderita, mereka yang memaksakan kehendaknya seperti mama dan papa mertua yang menginginkan Dion menikah dengan Santi tidak kesampaian justru sekarang Dion meninggalkan mereka. Dion yang ingin memiliki dua istri, kini tak satu istripun dimiliki, aku yang menceraikannya Dion dan Santi yang dia ceraikan oleh Dion karena merasa hampa ditinggal olehku wanita yang dicintainya. Santipun demikian dia kehilangan Dion sekaligus kehilangan rupiah yang tiap bulan kami tranfer kerekeningnya sebagai bantuan biaya hidup Kinan.


Kalau melihat kisah mereka sepertinya kata-kata Dewanta benar, kalau tidak ada kebahagiaan yang didapat dari hasil mencuri kebahagiaan orang lain. Karena jika kita berusaha mencuri kebahagiaan orang lain bukan kebahagiaan yang dapat malainkan kehancuran yang akan kita alami.


Aku terus menimbang-nimbang langkah apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Terus berjuang untuk merebut kembali cinta Dewanta atau menerima takdir yang Tuhan berikan.


Tak terasa kini aku sampai disebuah jalan aspal yang sepi. Disini ada sebuah warung yang pengunjungnya semua laki-laki, sedangkan yang jualan ABG berpakaian seksi. Aku merasa haus dan akhirnya aku mampir untuk menikmati beberapa teguk minuman bersoda.


"Kemana saja jan, tidak pernah kelihatan," ujar laki-laki yang dari tadi dipanggil Eko.

__ADS_1


"Aku dapat job menculik anak orang.kaya, lumayan bayarannya," jawab laki-laki bertato yang dipanggil ijan.


"untuk apa anak orang kaya diculik, apa sekalian sama bunuh-bunuhnya,"tanya Eko.


"Jadi begini ceritanya, ada suami istri kaya raya bercerai. Jadi sang suami menculik anak istrinya dari suaminya terdahulu yang telah meninggal untuk dijadikan sandra, agar istrinya mau memberi harta gono-gini. Sebenar laki-laki itu tidak berhak mendapatkan harta gono-gini karena harta ysng dimiliki sang istri adalah warisan dari almarhum suaminya. Demi menyelamatkan anaknya yang disandra wanita itu akhirnya mau membagi hartanya," ujar ijan bercerita dan ternyata cerita ijan menginspirasiku.


"Nanti kalo dapat job lagi ajak aku dong. Aku juga pingin dapat duit besar," ujar Eko.


Tak lama kemudian setelah menghabiskan secangkir kopi susu, aku mengendarai mobilku, sepanjang jalan terdapat hamparan kebun sawit disebelah kanan dan kirinya. Tiba-tiba aku sampai disebuah persimpangan. Aku coba baca plang yang ada dipinggir jalan, jalan kearah kanan menuju kearah desa Padang Sawit, jalan kekiri menuju desa Padang Gatah. Aku ingat koran yang memberitakan tentang mertua Dewanta yang mati suri. Dari alamatnya dulu tertera alamat desa Padang Gatah. Rupanya jarak antara desa Padang Gatah dan Padang Sawit tidak terlalu jauh bahkan masih tetanggaan. Aku segera membelokkan mobilku menuju desa Padang Gatah. Hari ini aku ingin berpetualang menyusuri jalan-jalan sepi didesa ini untuk membangkit imajinasiku.


Sekitar jarak sepuluh meter dihadapanku ada seorang nenek menggendong karung yang isinya setengah dan kakek memanggul karung juga berisi setengah. Aku segera menepikan mobilku untuk meyapa nenek dan kakek itu.


"Nek, kek kalian membawa apa, kelihatannya berat sekali, tanyaku.


"Kita membawa brondolan sawit nak, kami berdua habis brondol, lumayan buat kebutuhan sehari-hari.


"bagaimana kalau kalian ikut saya biar saya antar," ucapku menawarkan diri.


"Tidak usah nak, nanti mobilmu kotor, kami sudah terbiasa melakukan pekerjaan seperti ini," nenek dan kakek itu menolaknya tapi karena aku terus memaksanya akhirnya mereka bersedia aku antar. Beberapa saat kemudian sampailah kami disebuah rumah panggung sederhana sekitar ukuran sepuluh kali lima meter, berdinding kayu dan beratap seng. Sepanjang jalan kami asyik ngobrol ternyata mereka adalah sepasang suami istri yang bernama nenek Sumilah dan kakek Warjo. Mereka tidak mempunyai keturunan sehingga mereka menghabiskan sisa hari tua hanya berdua saja. Setelah sampai dirumah kekek Warjo dan nenek Sumilah aku langsung pamit pulang karena hari sudah sore.


*******

__ADS_1


__ADS_2