Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 85. Mencoba Bersabar


__ADS_3

(POV) Tini


Mobil Dion melaju meninggalkan rumah sederhana kami, meninggalkan rasa pilu dihati kami bertiga. Kiran adalah cucu kami satu-satunya. Sebenarnya aku sangat berat jika harus berpisah dengannya, karena hanya dialah yang menghibur dan selalu menjadi teman yang mengisi hari tua kami.


Aku merasa sangat egois kalau membiarkan Kinan hidup bersama kami dengan penuh kesederhanaan sedangkan dikota dia mempunyai papa yang kaya raya, yang mampu memberikan pendidikan yang tinggi, kehidupan yang mewah serta masa depan yang cemerlang.


Aku mendekati Santi putriku yang Baru saja berpisah dengan anak semata wayangnya. Aku memberikan pelukan hangat untuk memberinya semangat melewati hari selanjutnya.


"Tidak usah diratapi nak, dia pergi bukan untuk selamanya. Kamu kan masih bisa menemuinya, mengajaknya jalan-jalan sesekali waktu,"ucapku sambil mengajaknya masuk kedalam rumah.


"Bu... setiap ibu berpisah denganku apa ibu juga merasa sedih sepertiku," tanya Santi.


"Tentu saja nak, tak ada satu pun seorang ibu yang tidak sedih jika harus berpisah dengan buah hatinya. Kalau kamu berpisah dengan anakmu demi kebaikan dia, agar masa depan dia lebih baik dari kita. Karena walau bagaimana pun dia mempunyai keluarga terpandang. Sangat tidak adil rasanya jika dia tinggal dengan kita dengan penuh kesederhanaan. Sementara keluarganya yang disana ingin memberikan kehidupan yang nyaman buat Kiran," ungkapku pada Santi. Aku menyeruput teh yang hampir dingin diruang tamu untuk membasahi kerongkonganku.

__ADS_1


"Kalau kamu berpisah dengan anakmu demi kebaikan dia, setidaknya itu menjadi penyemangatmu. Kalau ibu dulu berpisah denganmu untuk pergi ke kota demi untuk mengejar lelaki kaya yang Tidak setia pada pasangannya. Para tetangga sering datang hanya untuk mengadukan perbuatanmu yang tidak terpuji. Sakit sekali rasanya hati ibu mendengar putri kesayangan ibu menjadi bahan gunjingan para tetangga,' ungkapku lagi sambil terisak mengingat kenangan pahit saat itu.


"Maafkan Santi buu!!, Santi benar-benar tidak berguna, Santi benar-benar menyesal telah berulang kali menyakiti hati ibu, Santi ingin berubah. Bantu dan bimbinglah aku supaya hidupku lebih berkah dan lebih manfaat," Santi terus bicara sambil terisak.


"Ibu sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu meminta maaf, tentu saja ibu mau membimbingmu nak!!, sekarang kamu makanlah dulu. Setelah makan nanti ikut jalan-jalan sama ibu," aku membiarkan Santi makan dulu agar dia bisa berfikir positif.


Sudah lama sekali aku berharap Santi berubah, dia memang selalu bilang akan berubah namun itu hanya sebatas ucapan. Aku tidak tau apakah kali ini Santi serius ingin berubah. Rasanya nyesek sekali setiap ingat kelakuannya yang selalu membuat orang tua malu.


"Kamu kenapa bu, kok nangis sendirian disini, mana Santi, apa dia juga masih sedih. Sudah bu tidak usah terlalu sedih, ibu harus bersyukur karena cucumu masih mempunyai ayah dan ibu sambung yang baik, yang mau merawat dan mendidiknya supaya kelak bisa jadi anak yang dibanggakan. Kalau Kiran sudah sukses dia pasti akan ingat kita, ingat mamanya, ingat kakek dan neneknya, ucap pak Tono ayah Santi.


"Sudah bu sudah!!...ingat, sekecewa apapun kita pada Santi, jangan pernah membuka tentang asal-usulnya. Ingat dulu kita pernah berjanji akan menerima anak itu apa adanya, "jawab pak Tono menasihati istri tercintanya.


"Aku juga manusia biasa yah, berulang kali aku dibuat sakit hati oleh anak yang sudah aku rawat dan aku besarkan dengan susah payah walau diantara aku dan dia tidak ada ikatan darah," ucapku.

__ADS_1


"Apa bu!!, jadi aku bukan anak ibu dan ayah!!" tiba-tiba Santi muncul dari balik pintu dan berteriak histeris mengetahui kenyataan bahwa dia cuma anak angkat kami yang sudah kami rawat sejak bayi.


"Ma...maaf nak, kamu salah dengar, ibu ini sedang membicarakan anak teman ibu, anak angkatnya..ya... anak angkatnya," aku menjawab pertanyaan Santi dengan terbata-bata penuh rasa gugup. Tak kusangka, dari tadi Santi berada dibalik pintu, aku berusaha menjelaskan bahwa yang di dengar itu tidak lah benar. Namun sepertinya dia tidak percaya. Aku pasrah saja menerima bagaimana pun reaksi Santi.


"Jangan bohong bu, Santi sudah mendengar semua yang ibu ucapkan, Santi tidak mungkin salah dengar.


"Sudah bu, semua sudah terlanjur, sebaiknya kita ceritakan saja tentang darimana dia berasal. Kalau nantinya dia membenci kita dan tidak perduli dengan kita tidak apa-apa. Pasrah saja, toh...kita sudah berbuat baik dengan mengurus dan membesarkan dia dengan serius, kalau dia tidak berkenan ya sudah, kalau dia tidak perduli sama kita yang sudah tua ini ikhlaskan saja, mungkin Tuhan punya rencana yang lebih indah untuk masa tua kita, " ucap suamiku. Tiba-tiba Santi memeluk kakiku dan menjerit histeris.


"Maafkan Santi bu, ampuni Santi yang tidak tau diri ini, Santi sangat berdosa pada ibu dan ayah. Santi janji, kali ini Santi benar-benar akan berubah, kali ini Santi serius bu," ucap Santi sambil menangis dengan begitu pilu. Akupun segera memeluknya dengan penuh kasih begitupun suamiku. Sebenarnya aku sangatlah mencintai dan menyayangi dia seperti anakku Sendiri. Malah terkadang aku lupa kalau dia cuma anak angkatku.


"Sudahlah nak berhentilah meminta maaf pada kedua orang tuamu ini. Kami sudah memaafkanmu jauh-jauh hari sebelum engkau memintanya. Kami sangat bersyukur jika kamu mau memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Perlu kamu tahu nak kami sangat menyayangimu melebihi kami menyayangi diri kami sendiri," ucapku sambil menghapus air mataku yang terus mengalir.


"Dengarkan ayahmu ini bicara Santi. Dulu ayah dan ibu sangat bahagia saat ibumu memberikan kamu kepada kami sepasang suami istri yang tidak beruntung karena Tuhan tidak mempercayai kami memiliki seorang buah hati. Kehadiranmu dikehidupan kami bagaikan cahaya yang memberikan penerangan disaat kami berdua dipuncak keputus asaan, hati kami begitu gelap meratapi takdir ini. Dokter menyatakan kondisi alat reproduksi kami sehat namun kenyataannya ibu tak kunjung hamil. Waktu pertama kali ayah menggendongmu dan melafazkan azan di kedua telingamu, kamu menatap kami dengan tatapan yang membuat kami sangat bahagia. Hari-hari kamu tumbuh sehat, cantik, pintar membuat hari-hari kami sangat berarti. Kehadiranmu membuat hari-hari kami penuh cinta, kamu yang telah membuat kami terus bertahan dalam mengarungi mahligai pernikahan, kamu yang membuat ayah dan ibu terus berusaha memenuhi janji suci yang telah kami ikrarkan dihadapan penghulu. Jika tidak ada kamu, entah bagaimana nasib perkawinan kami, ayah tidak mungkin bisa memeluk dan mencumbu ibu sepanjang malam," ucap suamiku, reflek aku langsung mencubit pinggangnya dan membuat dia berteriak. Kami bertiga pun tertawa bersama.

__ADS_1


********


__ADS_2