Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 33. Jadian


__ADS_3

(POV) Fira


"Mas sebenarnya itu warung apaan sih, kok aneh sekali," tanyaku pada mas Galih sembari naik keatas sepeda motor dan melingkarkan kedua tanganku kepinggang mas Galih.


"Aku fikir tadi warung nasi, ehhh... ternyata warung jablay," ucap mas Galih sambil tertawa. aku pun ikut tertawa, baru kali ini aku tahu yang namanya warung jablay, selama ini aku hanya mendengar tentang warung jablay dari teman-teman yang konon kabarnya tempat singgah para lelaki hidung belang.


Mas Galih langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. setelah berkendara sekitar setengah jam, sampailah kami didepan sebuah gerbang yang bertuliskan "Wisata Air Panas". Mas Galih terus melajukan kendaraannya masuk kedalam gerbang.


Setelah memarkir kendaraannya mas Galih mengajakku kesebuah restoran yang berada diare tempat wisata.


"Mari mas, kalau mau makan silakan masuk, ambil sendiri makanannya, silakan mau makan apa, bayarnya nanti setelah selesai makan," ucap seorang pelayan dengan sangat ramah. Aku dan mas Galih langsung masuk kearea prasmanan. aku mengambil nasi hangat, sayur kelakai nama lain dari paku, pais patin, oseng mandai dan sambal terasi. sedangkan mas Galih mengambil nasi uduk dan lalapan paha ayam dengan sambal lalapannya.


Setelah mengambil makanan, aku dan mas Galih langsung menuju ke meja paling tengah yang kebetulan kosong. Aku makan dengan lahap karena memang aku sudah merasa sangat lapar. Setelah selesai makan mas Galih melangkah menu ju kasir untuk membayar semua makanan yang kami makan barusan. Salesai makan kami langsung melihat-lihat pemandangan disekitar tempat wisata.


Aku mengajak mas Galih untuk melihat wisata air panas. ingin rasanya aku berendam air panas, tapi aku tidak membawa baju ganti. akhirnya aku dan mas Galih hanya merendam kedua kaki kami saja sambil duduk santai dan mengobrol.


"Mas hari ini aku banyak menyaksikan hal-hal baru, orang mencari ikan, orang menoreh, hamparan tanaman padi yang sedang menguning. Menurutku itu sih unik banget. Sejak kecil aku tidak pernah melihat pemandangan seperti itu,"ucapku sambil memainkan jari-jari kakiku didalam air hangat.


"Syukurlah kalau kamu merasa senang. Tidak sia-sia aku mengajakmu hingga tersesat kewarung jablay," ucap mas Galih sambil kembali tertawa cekikikan mengingat pengalaman kami barusan.


"Kok kamu tahu kalau itu warung jablay darimana,"tanyaku.


"Awalnya aku sih nggak nyadar, setelah melihat gaya pembelinya baru ingat kata teman-temanku yang suka singgah kewarung seperti itu, kata mereka kalau singgah diwarung jablay selain harganya mahal, uang ratusan ribu sering kembaliannya diminta. Yang semakin aku yakin kalau itu warung jablay, waktu aku mau pesan nasi ternyata mereka tidak menjual nasi," ucap mas Galih.

__ADS_1


sudah satu jam aku dan mas Galih berendam di wisata air panas akhirnya kami berjalan menyusui jalan setapak. sesekali kami melewati jalan yang menanjak, sesekali juga melewati jalan-jalan yang terjal dan curam. Terkadang mas Galih menuntunku agar tidak terjatuh dan terkadang mas Galih menggendongku.


Semakin lama hatiku semakin merasa nyaman berada didekat mas Galih. Aku tidak bisa membayangkan kalau nantinya harus berpisah dengan mas Galih.


"Apa sebaiknya aku terima saja cinta mas Galih, jujur aku masih sangat takut kalau nantinya aku akan kecewa lagi.


"Sayang, sudah sampai lihat tuh," aku terkejut tiba-tiba Galih memanggilku sayang, bergetar rasanya hati ini, sudah lama sekali aku tidak mendengar panggilan seperti itu.


"Sayang, kok kamu melamun, kamu enggak sedang kesambet kan," ucap Galih sambil melambai-lambaikan tangannya tepat didepan wajahku.


"ihh... kamu apaan sih, jangan terlalu mengadi-ngadi deh. lagian kenapa juga kamu panggil aku sayang bikin Deg-degan aja deh!!," ucapku pura-pura marah.


"Ya memang aku sayang kamu. Aku ingin hari ini menjadi hari bersejarah bagi kita karena hari ini adalah hari jadian kita.


"Males aku nembak kamu, yang ada paling juga kamu bingung, mau diterima masih trauma, mau ditolak sayang. Terus kata mama. kalau seorang perempuan mau diajak kerumah si lelaki dan dikenalkan dengan kedua orangtuanya itu artinya dia ada hati sama kita. Daripada repot, ya sudah kita jadian ya," ucap mas Galih.


"Itu pernyataan atau pertanyaan," sahutku.


"Tentu saja itu adalah sebuah pernyataan, artinya tidak ada penolakan," mas Galih langsung mendekatiku dan memelukku.


"Ya, udah kalau itu maumu, aku pasrah. oh ya, lihat tuh, air terjunnya bagus sekali," aku melihat kearah air terjun dimana banyak anak-anak dan orang dewasa bermain disana. Sedangkan mad Galih masih terus memelukku dari belakang.


"Tante Fira... tante Fira... tante Fira ada disini. Aku segera menyapukan pandanganku kearah suara anak kecil itu berasal, sepertinya aku mengenal suara itu. Ternyata benar aku memang mengenalnya. Dia adalah Zahwa yang datang bersama keluarga mas Dewanta yang terdiri dari Dewanta, Zahra, Zahwa, ayah dan ibu mas Dewanta.

__ADS_1


"Mas Galih...mas Galih ada disini, ternyata kamu kenal sama bu Fira?,"ucap bu Zahra yang sedang digandeng oleh Dewanta.


"Iya sudah sebulan lebih aku mendekati Fira dan hari ini akhirnya kami jadian," ucap Galih.


"Selamat ya mas Galih, bu Fira, semoga kalian berjodoh sampai pelaminan, " ucap bu Zahra.


"Syukurlah kalian jadian, semoga kalian cepat menikah agar tidak mengganggu rumah tangga orang lain," ucap bu Wajirah ibunya mas Dewanta. aku terperangah mendengar ucapan beliau namun aku sengaja tidak meladeninya. Karena perbuatanku dimasa lalu yang salah.


"Hubungan kalian harus cepat diresmikan agar halal, biar tidak berdua-dua ditempat sepi, kalian sama saja dengan berzina," ucap mas Dewanta tanpa ekspresi. Tangannya terus menggandeng tangan bu Zahra dan berlalu pergi menuju kearah air terjun diikuti oleh seluruh anggota keluarganya.


"Ayo kita nikah,"mas Galih berbisik ditelingaku.


"Massss, " aku membalas ucapan mas Galih dengan berbisik juga sembari mencubit pinggangnya. Kami berdua menikmati indahnya air terjun Sambil memperhatikan para pengunjung yang sedang berenang. Kulihat Dewanta dan Zahwa sedang berenang sambil bersenda gurau, sementara tidak jauh dari mereka bu Zahra sedang duduk santai memainkan gawainya ditemani segelas jus alpukat.


"Apakah andai aku nanti menikah dengan mas Galih akan merasakan bahagia seperti yang mereka rasakan saat ini. ataukah hanya rasa sakit yang aku dapatkan seperti pernikahanku yang sebelumnya," batinku.


"Ada apa melamun, apa kamu memikirkan mereka?" tanya mas Galih.


"Aku hanya sedang berharap meminta kepada Tuhan, andaikan aku nanti menikah aku ingin bahagia seperti keluarga kecil lainnya, tapi apa mungkin itu terjadi setelah apa yang aku lakukan pada keluarga kecil mereka, apalagi selama menikah dengan Dion aku tidak mendapatkan keturunan, aku takut kamu akan menikah lagi dengan alasan ingin punya keturunan," ucapku sedih, tak terasa air mataku merembes keluar.


"Prinsip hidup orang itu tidaklah sama. ada orang yang menikah untuk mendapatkan keturunan. memang salah satu tujuan pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan.


Tapi aku mempunyai prinsip yang berbeda dari orang kebanyakan. Bagiku menikah adalah untuk mencari kebahagiaan, mendapatkan ridho Allah, menghindarkan diri dari zina dan menjaga kehormatan. Untuk mendapatkan kebahagiaan kita sebaiknya menikah dengan orang yang kita cintai dan dia pun mencintai kita, mengerti kita, setia kepada kita, mampu meredam emosi kita dan masih banyak yang lainnya. Yang lainnya kita bahas dirumah saja, ayo kita pulang," mas galih berhenti bicara, dia menarik tanganku agar berdiri kemudian menuju parkiran kendaraan roda dua.

__ADS_1


*******


__ADS_2