Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 16. Kepergian Abah Untuk Sementara


__ADS_3

(POV) Fatimah Azzahra


Aku sangat panik mendengar abah tertimpa pohon karet dan tak sadarkan diri. Aku dan kak Dewanta suamiku langsung melajukan kendaraan kami menuju puskesmas yang ada di desa kami. Hanya ada satu puskemas didesa ini dan hampir semua warga desa mengetahui dimana lokasinya.


Setelah sampai halaman puskesmas aku segera turun dan melangkah dengan cepat menuju pintu masuk puskesmas. Beberapa warga desa langsung menyongsong kedatanganku. Sementara kak Dewanta mengikutiku sembari mengingatkan agar hati-hati dalam berjalan.


"Sabar Zahra, abah masih ditangani dokter, kita tunggu saja disini," Aku pun mengikuti saran amang untuk duduk dengan perasaan khawatir.


"Sabar sayang, berdoa saja, semoga abah baik-baik saja," kak Dewanta terus menasehatiku agar tetap tenang. Dia menyodorkan segelas air mineral dan menyuruhku untuk meminumnya. Sehabis minum perasaanku menjadi sedikit lebih tenang. Aku duduk menyandar disandaran kursi sembari terus melafazkan doa-doa untuk kesembuhan abah.


"Keluarga dari pak Sasmito," dr. Dina yang sedang bertugas dipuskesmas memanggil kami.


"Bagaimana keadaan abah dok, apa beliau baik-baik saja," aku bertanya kepada dr. Dina dengan hati berdebar.


"Maaf Zahra, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan berkehendak lain. Abahmu telah berpulang, kami segenap tim medis dipuskesmas ini mengucapkan turut berduka yang sedalam-dalamnya," ucap dr. Dina kemudian beliau berlalu pergi untuk menangani pasien yang lain.


Seketika badanku lemas, rasanya kakiku tak lagi menginjak bumi, air mataku pun jatuh tak mampu lagi aku tahan. Perlahan tubuhku luruh terduduk dilantai puskesmas. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan suamiku, rasanya hati ini belum siap kalau harus ditinggal abah begitu cepat. Perlahan kak Dewanta memapahku untuk duduk dikursi, sementara beberapa anak buah abah membantu mengurus administrasi dan kepulangan jenazah abah.


Saat aku duduk sambil terus menghapus air mataku yang tak kunjung berhenti. Tiba-tiba mama datang.


"Abah mana Zahra, abah tidak apa-apa kan, kata amang abah baik-baik saja, ucap mama.


"Abah sudah tidak ada ma," ucapku seketika tangisku kembali pecah dihadapan orang yang telah melahirkanku. Kulihat tak ada air mata dimata mama tapi mama malah ambruk tak sadarkan diri.

__ADS_1


Kami membawa mama kemobil. Sedangkan jenazah abah dibawa menggunakan mobil ambulan.


Sekitar jam satu siang kami sampai dirumah mama, disambut oleh para tetangga yang sudah siap menyiapkan acara pemakaman abah. Rencananya pemakaman akan dilaksanakan sehabis ashar. Aku dan mama terus duduk disamping jenazah abah sambil sesekali aku membuka kain yang menutupi wajah abah, surah yasin ditanganku tak henti-hentinya aku baca.


Kak Dewanta sebentar-sebentar mendekatiku untuk menenangkanku dan memberikan nasihat agar aku ikhlas dan merelakan kepergian abah dan berdoa agar abah mendapatkan tempat terbaik disisnya.


Mertuaku datang langsung memelukku dan memberikan beberapa nasihat kepadaku dan mama yang sedari tadi hanya membaca yasin.


Setelah jenazah abah dimandikan dan dishalatkan kemudian dibawa dengan menggunakan mobil ambulan menuju peristirahatan tetakhir yaitu di pemakaman umum desa Padang Gatah.


Kak Dewanta memintaku untuk tidak ikut dalam prosesi pemakaman mengingat keadaanku yang sedang hamil muda. Ibu mertua menemaniku istirahat dirumah. beberapa kali beliau menyuguhkan makanan untuk mengisi perutku, namun aku enggan untuk makan sampai akhirnya ibu mertua menyuapi aku dan membuatku tak kuasa untuk menolak.


"Zahra, tidak baik terlalu meratapi kepergian orang yang sudah meninggal. Kasian anak yang ada di dalam kandunganmu karena kalau ibunya sedih anaknya akan ikut sedih," mendengar nasihat ibu mertua, aku langsung menghapus air mataku dan berjuang keras untuk ikhlas.


Aku dan ibu mertua segera berlari keteras depan untuk melihat apa yang terjadi.


Serombongan orang-orang yang tadi berangkat kepemakaman kini telah kembali. Dari mobil jenazah kuhat kak Dewanta menuntun abah turun dengan hanya menggunakan kain kafan yang dililitkan ditubuhnya. Sedangkan mamaku mengiringi dibelakang.


Mataku kukedipkan beberapa kali. Untuk meyakinkan apakah yang aku lihat ini benar-benar nyata, namun sosok kak Dewanta yang sedang menuntun ayah memang benar-benar ada.


"Kak apa yang terjadi, ayah masih hidup, aku melangkah mendekati kak Dewanta dan Abah. Kemudian aku menyentuh lengan abah, namun abah hanya meneteskan air mata, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


"Tadi pas mau dimasukkan keliang lahat ternyata badan abah bergerak-gerak, setelah kami buka kain kafannya, mata abah terbuka, abah hidup lagi, tapi abah belum bisa diajak bicara," kak Dewanta bercerita dengan begitu antusias. Aku kemudian memeluk abah dan memapahnya masuk kedalam rumah kemudian langsung masuk kekamar

__ADS_1


Sampai didalam kamar abah pun dibaringkan lalu mama duduk disisinya sembari memijit kakinya. aku hanya memperhatikan disebelah mama. Tiba-tiba tangan abah memegang tangan mama dan mengarahkan tangan itu agar memijit bagian pundak dan leher. Mama pun mengikuti kemauan abah. Beberapa saat setelah mama memijat abah, abahpun berusaha bangun, rupanya beliau ingin duduk, aku dengan cekatan segera membantunya. Kak Dewanta menyerahkan minyak urut yang terbuat dari daun kecubung putih kepada mama untuk mengurut abah.


Setelah kurang lebih setengah jam tiba-tiba mulut ayah bergerak seperti ingin bersuara.


"Za...za....


"Abah ingin bicara, pelan-pelan saja bah, mungkin latihan dulu," titahku kepada abah. Setelah beberapa saat latihan akhirnya abah mampu menyebutkan namaku dan mama.


Sampai malam hari ayah terus latihan sambil terus diurut perlahan-lahan oleh mama akhirnya abah mulai lancar bicara.


Setelah abah sudah lancar bicara, abah menceritakan pengalamannya saat beliau mati suri.


"Saat aku dikebun, angin berhembus sangat kencang. Aku melajukan kendaraanku melintasi pohon karet yang hampir tumbang. Aku ingin menghentikan laju kendaraanku, namun tak sempat lagi hingga pohon itu kemudian menimpaku. Aku masih sempat mengambil hp dan memencet nomor terakhir yang aku hubungi dan ternyata nomor itu nomor Dewanta. Namun setelah itu semuanya gelap dan hp pun mati dengan sendirinya.


Aku berhasil menyingkirkan pohon karet yang menimpa tubuhku. Aku terus melangkah dalam kegelapan. Entah sudah berapa kilo meter aku berjalan. Rasanya badanku lelah sekali. Hingga aku menemukan secercah cahaya. Kuraba kantong celanaku untuk mencari hp. Tapi ternyata tak kutemukan, mungkin hpku terjatuh saat aku tertimpa pohon karet. Akhirnya aku putuskan untuk melangkah kembali ketempat dimana ada secercah cahaya.


Aku seperti berada di sebuah pintu goa, didepanku awan putih membentang sejauh mata memandang. Hanya awan yang ada dihadapanku. Aku merasa tubuhku melayang dan terbang diangkasa, aku terbang kesana kemari tapi seperti tak menemukan ujungnya. Tak ada apapun dan siapapun. Hanya aku dan hamparan awan putih. Rasanya aku sudah sangat lelah. Namun tak ada tempat untuk berhenti sejenak sekedar melepas lelah. Hingga kulihat seperti ada puncak gunung yang menjulang diantara awan-awan putih itu. Aku segera mendekati gundukan gunung itu dan berhenti disana. Aku duduk dan beristirahat. Sejenak aku berfikir, dimana aku?, dalam kebingungan akhirnya aku ingat akan Tuhanku. Aku segera mengucapkan kalimat syahadat beberapa kali dan berdoa, dimana aku sekarang ya...Allah. Tolong kembalikan aku kealamku.


Tiba-tiba aku merasa seperti terbangun dari tidur. Saat aku buka mata ternyata tubuhku ada diatas pangkuan Dewanta dan hanya mengenakan kain kafan, ternyata aku mau sedang dimakamkan," begitullah cerita abah dalam petualangannya saat mati suri.


Berita tentang abah yang mati suri menyebar begitu cepat lewat media sosial. Beberapa wartawan pun datang untuk mewawancarai abah mengenai pengalamannya saat mati suri.


******

__ADS_1


__ADS_2