Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 76. Melamar Kerja


__ADS_3

(POV) Edi


Aku sangat senang saat mendengar informasi dari Juita kalau dirumah pak Galih ada lowongan sebagai supir restoran. Sebenarnya tujuan aku ingin bekerja dikota adalah ingin mengenal Juita lebih dekat, apa benar dia sudah hijrah ke jalan yang benar.


Yang aku takutkan dia hanya pura-pura baik untuk mendapatkan simpati dari orang lain. Jika memang Juita sudah berubah menjadi manusia baik, ingin sekali aku memperistrinya. Sudah lama aku menaruh hati padanya. Tapi aku juga tidak tahu apakah ada cinta dihati Juita untukku. Itulah sebabnya aku rela melepaskan pekerjaanku disini dan melamar kerja dikota.


Pagi ini aku masih seperti biasa, berangkat ke kebun pak Dewanta bukan untuk bekerja melainkan untuk mengundurkan diri dan pamit ingin mencoba peruntungan mencari nafkah dikota.


" Semoga di kota apa yang menjadi impianmu akan menjadi kenyataan Edi, aku doakan rezekimu disana meningkat. Terima kasih telah bekerja padaku selama beberapa tahun terakhir ini, andai dikota kamu tidak kerasan dan ingin kembali bekerja disini, tangan saya terbuka lebar untuk menerimamu kembali" ucap pak Dewanta sembari menepuk-nepuk pundaku.


" Sama-sama pak Dewanta, saya juga mengucap terima kasih telah diberi kesempatan dan kepercayaan untuk mencari nafkah diperkebunan milik bapak. Jika dikota impian saya tidak sesuai harapan saya akan kembali bekerja pada bapak," ucapku sembari mengulurkan tangan untuk menyalami pak Dewanta.


Selesai menemui pak Dewanta aku langsung melajukan kendaraanku kembali kerumah, rencananya aku akan berkemas dan berangkat ke kota.

__ADS_1


"Kamu yakin akan menjadikan Juita itu istrimu Edi. Ingat nak, mencari istri tidak cukup hanya cantik saja, karena menikah tidak untuk waktu yang singkat melainkan untuk seumur hidup. Jadi carilah istri yang mengerti agama agar mudah dibimbing untuk taat kepada suami sehingga bisa membawamu kesurga nanti. Selain baik istri juga harus setia, sehingga hidupmu terasa tentram, tidak was-was takut di hianati. Patah hati karena sebuah penghianatan cinta itu rasanya sakitnya tuh disini nak!!" ucap ibuku sambil menunjuk kearah dadanya. Aku hanya terkekeh melihat gaya ibu.


"Makanya itu aku kekota bu, ingin tahu apakah orang yang Edi cintai itu sudah berubah menjadi baik dan layak untuk Edi jadikan istri atau hanya ekting saja. Kalau Edi dekat dengan dia kan Edi bisa menilai, apakah dia layak dijadikan menantu ibu atau tidak. Kalau layak baru Edi melamarnya, kalau tidak ya maaf saja, Edi hanya akan menikah dengan wanita yang baik, mengerti keadaan keluarga kita dan mau diajak hidup susah maupun duka. Oh ya bapak mana bu, Edi mau pamit sama bapak," ucapku sambil memeluk ibuku tercinta.


"Sebentar nak ibu panggilkan bapakmu, dia tadi ada dikandang ayam sedang memberi makan ayam-ayam kesayangannya. Sekarang sebaiknya kamu makan saja dulu yang kenyang. Itu ibu sudah memasak semur jengkol kesukaanmu. Nanti kalau sudah dikota kamu jangan lupakan ibu ya nak, ingat lo masakan ibu enak banget, kamu selalu suka kan," ucap ibuku seraya beranjak meninggalkanku. Ibu menuju kehalaman belakang dimana disana bapak sedang memberi makan ayamnya. Aku langsung menyantap masakan ibu yang menjadi kegemaranku sejak kecil.


Setelah beberapa saat ibu kembali menghampiriku yang sedang menghabiskan makanan yang ada di piringku, dibelakangnya bapak berjalan memakai kaos oblong dan menggunakan sarung.


Akhirnya kamu serius untuk mengejar cintamu kekota Edi. Kalau itu maumu, bapak cuma bisa berdoa semoga wanita yang kamu kejar sesuai harapanmu. Tapi kalau kamu rasa dia tidak sesuai lebih baik tinggalkan saja. Lebih baik gagal diawal daripada nanti setelah kalian menikah dan mempunyai anak. Ingat wanita tidak hanya dia saja, sebenarnya disini banyak gadis-gadis cantik dan baik-baik yang menaruh hati padamu, tapi sepertinya kamu tidak pernah membuka hatimu untuk mereka. Tapi ya gimana lagi, cinta tidak bisa dipaksakan," ucap bapak sambil menepuk pundakku memberi semangat. Setelah aku pamit pada bapak dan ibuku aku langsung menelepon ojek pangkalan didesaku untuk mengantarku menuju jalan besar dimana disana ada bis yang menuju ke kota.


Selesai makan aku langsung menuju sebuah restoran pak Galih dimana aku sudah buat janji untuk bertemu pak Galih tepat jam lima sore. Ojek online yang membawaku melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang mulus dan ramai lancar. Maklumlah aku biasa berkendara dijalan berbatu dan berdebu.


Sekitar setengah jam kemudian aku sudah sampai di restoran pak Galih. Sebuah restoran berlantai dua yang terlihat ramai pengunjung. Mungkin karena letaknya diantara beberapa perkantoran sehingga selalu ramai.

__ADS_1


"Mau makan atau mau bertemu siapa bang," seorang satpam berperawakan tinggi besar menyapaku dengan sangat ramah.


"Saya mau bertemu pak Galih pak , pemilik restoran ini. Kebetulan kami sudah buat janji untuk ketemu jam lima sore. Nama saya Edi dari desa Padang Sawit ingin melamar pekerjaan menjadi supir restoran," aku menjelaskan panjang lebar. Pak satpam pun berlalu pergi menuju kebagian kasir. Mereka ngobrol sebentar dan tak lama kemudian satpam itu kembali menemuiku.


"Masuk saja pak kebetulan pak Galihnya sudah menunggu, mari saya antar," ucap satpam. Akupun melangkah mengikuti satpam melewati pintu khusus karyawan. Berjalan dilorong yang panjang dan lumayan gelap hingga sampailah aku dimuka sebuah ruangan. Pak satpam mengetuk pintu ruangan itu. Terdengar suara seorang laki-laki dari dalam yang menyuruhku langsung masuk.


Perlahan-lahan aku masuk kedalam ruangan dengan suhu yang sejuk. Aku menyapukan pandanganku keseluruh ruangan hingga tatapanku bertemu dengan seorang laki-laki seumuran denganku. Rupanya beliau yang bernama pak Galih yang sedang duduk disebuah meja kerja dengan lap top di hadapannya. Beliau tersenyum sangat ramah dan mempersilakan kepadaku untuk duduk disebuah sofa yang kelihatannya dibeli dengan harga yang mahal. Aku pun mengikuti keinginannya, duduk disebuah sofa yang dia tunjukan, rasanya empuk sekali.


Tak berapa lama pak Galih pun ikut duduk dihadapanku. kami saling memperkenalkan diri, kemudian kuserahkan berkas lamaran yang aku bawa dari kampung. Beliau pun membuka dan membolak-baliknya.


"Namanya Edi, sebelumnya kerja diperkebunan milik Dewanta, ucapnya. Akupun mengangguk membenarkan apa yang telah aku tulis dalam berkas lamaran. Pak Galih pun mengambil hand phone yang ada di dalam tas kerjanya. Kemudian beliau menelpon seseorang.


"Assallamuallaikum Dewanta apa kabar," ucap pak Galih yang me loud speaker panggilannya

__ADS_1


"Baik Galih ada perlu apa menelponku, apa kamu kangen ha....ha...," suara pak Dewanta terdengar diseberang sana. Aku heran kenapa pak Galih menelpon pak Dewanta dan ternyata beliau saling kenal.


**********


__ADS_2