Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 47. Belut


__ADS_3

(POV) Rupiah


Kedatangan kami Disambut oleh pak Sasmito dan bu Markonah istri pak Sasmito. Karena sebelumnya aku sudah menelpon beliau, kalau aku bersama teman masa kecilku dari Paris akan berkunjung kerumahnya untuk melihat Belut-belut yang sedang dibudidayakan secara langsung sekaligus ingin membeli belut untuk dimasak oseng pedas.


Assalamualaikum pak Sasmito, bagaimana kabarnya, lama sekali kita tidak berjumpa, kamu tampak terlihat semakin tampan dan gagah semenjak mati suri," Dodo suamiku langsung keluar dari mobil menyongsong dan memeluk pak Sasmito yang merupakan sahabat lamanya.


"Kamu bisa aja, mana ada orang bangun dari mati suri jadi lebih muda kembali. Aku kelihatan awet muda berkat cinta istriku yang begitu besar," jawab pak Sasmito sambil melirik dan mengedipkan sebelah matanya kepada sang istri.


"Aku percaya kalau istrimu begitu mencintaimu sampai-sampai dulu dia sering diam-diam mengikuti kita mencari belut, dia pura-pura nyari kangkung," ujar suamiku lagi. Sedangkan bu Markonah tersenyum menahan malu. Aku segera menarik kolor suamiku yang menjuntai." sudah pak, jangan kebanyakan mengungkit masa lalu, nanti kita malah tidak jadi beli belut, keburu malam waktunya habis buat nungguin kalian ngobrol" ucapku pada mereka berdua. Pak Sasmito dan suamiku kalau ketemu memang selalu seperti itu, saling meledek dan saling menggoda.


"Pak Sasmito kenalkan ini teman saya namanya Dinda teman kecil saya dan suaminya pak Langit, dia tinggal diParis, dan yang ini Fira putri mereka, kami kasini mau beli belut untuk di oseng-oseng buat oleh-olah dibawa ke kota," ucapku, singkat tapi padat.


"Kamu hebat sekali Rupiah, bisa punya teman orang Paris. memangnya kamu pernah ke Paris, " pak Sasmito balik bertanya. dari raut wajahnya, aku tahu beliau sedang mengolokku. Wajar sekali kalau beliau tidak percaya aku punya teman orang kaya, jangan kan beliau, suamiku aja dulu tidak percaya. Setelah aku bertemu dengan Dinda, baru dia menyesal kenapa dulu setiap aku ajak kerumah Dinda dia selalu menolak.


"Dia dulunya tinggal di Indonesia pak, bukan saya yang ke Paris. Paris bisa lari kalau didatangi orang seperti saya. Kami berteman saat kami masih kecil sampai lulus SMP waktu ibu saya kerja jadi pembantu," ucapku menjelaskan.


" Oh begitu ceritanya. Soalnya kan enggak masuk akal kalau kamu punya sahabat di Paris, " ucap pak Sasmito kembali meledekku.


"Berarti kalian ini orang kaya yang baik hati, kamu beruntung Rupiah bisa mengenal mereka. Ayo pak bu kalau kalian mau melihat peternakan belut saya, ada dibelakang rumah," ucap pak Sasmito mengajak kami menuju ke balakang rumah nya dengan sangat ramah. Kami semua berjalan mengiringi pak Sasmito dan ibu Markonah menuju kebelakang rumah melalui halaman samping rumah beliau.

__ADS_1


Kini, kita sudah sampai dibelakang rumah, tampaklah hamparan tanah seluas kurang lebih satu hektar yang diatasnya terdapat bak-bak permanen dengan luasnya sekitar empat meter kali empat meter yang didalamnya terdapat belut-belut dengan ukuran seragam yang jumlah secara keseluruhannya entah berapa puluh ton.


Sedangkan ditengah-tengah kolam belut terdapat beberapa buah gazebo yang atapnya terbuat dari daun rumbiah. Setiap Gazebo terdapat beberapa kursi dengan satu meja yang sepertinya biasa digunakan orang untuk bersantai. Aku memang biasa membeli belut ditempat pak Sasmito namun baru kali ini aku melihat langsung proses budidayanya. biasanya suamikulah yang selalu membelikannya.


Aku dan dan suamiku segera duduk menikmati keindahan kolam disore hari yang indah. Dinda dan pak Langit begitu antusias mengelilingi seluruh kolam. Tampaknya dia begitu takjub melihat pemandangan yang begitu sedap dipandang mata dengan di dampingi oleh pak Sasmito dan bu Markonah.


Ada sesuatu yang membuatku heran dengan Fira. Sejak pertama kami datang dirumah pak Sasmito, tak henti-hentinya dia memandang pak Sasmito. Tapi tak sepatah kata pun keluar dari bibir seksinya yang dipoles dengan lipstik berwarna pink. Kini bahkan dia duduk sendiri disebuah gazebo dengan pandangan terus menatap pak Sasmito. Sepertinya aku harus menegur Fira, tak seharusnya dia melakukan hal serendah itu.


"Fira kamu lagi ngapain ngeliatin pak Sasmito, ingat ya kamu itu sudah mau menikah, bude mohon jangan hianati Galih dia sangat mencintaimu. Bude tidak rela kalau kamu menyakitinya," ucapku pada Fira, jujur aku curiga kalau Fira menyukai pak Sasmito terlihat dari tatapan matanya.


"Ya ampun bude ada-ada aja deh, masa saya suka sama pak Sasmito, dia lho sudah kepala lima, jujur yah bude, luar dalam masih gantengan mas Galih," ucap Fira sambil tertawa.


"Bude, pak Sasmito itu yang dulu mati suri kan, sepertinya aku perhatikan mukanya sama dengan yang disurat kabar beberapa tahun yang silam," ucap Fira. Jadi itu yang membuatnya dari tadi memperhatikan pak Sasmito, ternyata aku yang salah menilai. Akhirnya aku kembali ke gazebo tempat dudukku dan suamiku tadi sambil memperhatikan kolam-kolom berisi belut.


Aku memang sudah sering membeli belut tempat pak Sasmito, tapi baru kali ini aku melihat langsung ke lokasi budidayanya. Biasanya suamikulah yang selalu membelikan untukku.


"Wah ini benar-benar, waaooooo banget!!! pemandangan yang sangat menarik, menurut aku, Dinda tampak takjub seperti halnya aku.


"Ini pemasarannya kemana aja pak," pak Langit yang dari tadi hanya diam, kini diapun angkat bicara. sepertinya dia sangat tertarik dengan usaha peternakan belut ini.

__ADS_1


"Biasanya kalau pas panen saya langsung telepon tengkulak-tengkulak langganan saya pak. Mereka akan ambil dan ditimbang kumudian membawanya kepasar-pasar kecil sekitar daerah sini, pemanenannya tidak sekaligus pak melainkan bergilir, satu bulan rata-rata ada dua bak yang bisa kami panen," ujar pak Sasmito.


"Oh, begitu, berarti kalau kita mau beli setiap hari selalu ada terus, gitu kan pak?," tanya pak Langit lagi.


"Tentu pak. pelanggan saya selalu jualan belut setiap hari dan mereka kulakan disini," ucap pak Sasmito.


"Pak dulu saya pernah liat budidaya belut, tapi dikolam-kolam penampungan isinya lumpur aja, belutnya enggak kelihatan, katanya belut silau kalau terkena sinar matahari, tapi ini kok diair bening ya?" tanya Dinda.


"Memang budidaya belut ada yang menggunakan lumpur, mungkin mereka meniru dari habitat asal belut yang suka berada dilumpur. Tapi kalau saya lebih menyukai membudidayakan di air bersih karena kita lebih mudah melihat perkembangannya dan memberi makannya pun lebih mudah," pak Sasmito terus menjelaskan.


Tidak lama kemudian bu Markonah membawa tempat bakul yang isinya belut dengan ukuran sedang.


"sebagai hadiah perkenalan saya dengan pak Langit dan ibu Dinda, saya kasih belut gratis. katanya bapak dan juga ibu suka oseng balut," ucap pak Sasmito seraya mengambil bakul istrinya dan menyerahkan pada ibu Dinda.


"Terimakasih pak, nanti saya promosikan keteman-teman yang punya restoran, siapa tahu ingin nambah menu ikan belut," ucap pak Langit.


Setelah puas melihat budidaya belut dirumah pak Sasmito akhirnya kami semua pamit untuk pulang.


"Assalamualaikum, maaf ternyata abah sedang ada tamu, lho ada bu Fira segala," Seorang wanita muda dengan pakaian muslimah dan jilbabnya yang lebar menyapa kami. Tapi yang aku heran. kenapa dia mengenal Fira yang selama ini selalu tinggal di kota. Mungkin dia teman kuliah Fira atau temannya teman Fira," batinku.

__ADS_1


__ADS_2