
(POV) Dirgantara
Sudah satu minggu aku hidup dengan anak , cucu dan menantuku. Ada rasa berbeda yang selalu mengganjal dihatiku. Berpisah dari Retno, wanita yang sudah menemaniku selama puluhan tahun lamanya tidaklah perkara mudah. Susah senang, kita jalani hidup ini bersama, kadang sakit, kadang sehat, ada duka ada bahagia tak menyurutkan rasa cintaku padanya.
Tapi aku tak habis fikir, semakin tua, kelakuan Retno semakin tidak masuk akal. Berulang kali sudah aku coba untuk menasehati. Namun dia begitu kekeh dengan pendapatnya, lama-lama aku seperti tidak dihargai lagi sebagai seorang suami.
Hari ini aku dan Dion berencana pulang kerumah, ingin melihat keadaan Retno, ada rasa khawatir takut terjadi sesuatu kepadanya.
Tepat pukul sembilan pagi, mobil yang dikemudikan oleh Dion putraku sampai di rumah yang sudah puluhan tahun aku dan Retno tempati. Satpam di depan rumah mempersilakan kami masuk, dia mengatakan kalau ibu selalu dirumah dan tak pernah pergi kemana pun.
Sampai diteras rumah. Kondisi rumah begitu sepi, seorang ART menyambut kedatangan kami dan memanggil ibu mengatakan kalau aku dan Dion datang.
Dengan langkah tergopoh-gopoh Retno melangkah menghampiri aku dan Dion yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Sudah ku duga kalian pasti akan datang, sudah puas kalian menyakiti hati mama, meninggalkan mama seorang diri di rumah. Dan kamu pa...tega sekali kamu ingin menceraikan mama di umur mama yang sudah setua ini. Apa papa sudah bertemu daun muda yang memikat hati, hingga papa tak lagi mengingat betapa mama mencintai papa, betapa cinta kita begitu indah," ujar Retno sambil mendudukan tubuhnya diatas sofa ruang tamu. Kulihat wajahnya pucat.
"Jujur ma... Sebagai seorang suami papa masih sangat mencintai papa, mama adalah wanita terbaik yang ada dikampus kita dulu, hingga papa memutuskan menikahi mama karena takut ada lelaki lain melamar mama, wanita teristimewa dihati papa," kulihat wajah Retno merona mendengar ucapanku. Akupun terus merangkai kalimat untuk meluluhkan kembali hati Retno, wanita yang selalu menempati seluruh ruang dihatiku.
"Semakin tua cintaku pada mama semakin besar, aku tak pernah sedikitpun memandang wanita lain,kutundukan pandanganku demi keutuhan cintaku pada mama, bahkan sedikitku tak pernah aku memikirkan wanita lain. Hanya mama dan anak-anak yang selalu aku perjuangkan kebahagiaannya. Tapi apa yang telah mama lakukan padaku, mama tidak lagi menghargai dan menghormati aku sebagai seorang suami. Mama mempunyai rencana sendiri untuk menyatukan Dion dengan Fira, dimana sudah tidak ada cinta diantara mereka. Keinginan mama telah menyakiti banyak orang. Aku tidak mau mama semakin terjerumus kedalam dosa karena telah memaksa dan menyakiti hati anak dan menantu serta orang lain yang terlibat di dalamnya. Cintaku pada mama telah mendorong jiwa ini menghalangi dan menyelamatkan keluarga kita, keluarga mama agar tidak tercerai-berai. Walaupun aku harus mengorbankan cinta kita. Aku tak ingin Dion dan Yunian berpisah, kasian putra dan putri mereka yang harus menderita karena ke egoisan omanya," Retno tertunduk, setetes air mata merembes dan mengalir melewati pipinya yang mulai ada kerutan halus.
"Iya pa....papa benar, terlalu banyak yang mesti berkorban perasaan kalau mama memaksakan kehendak mama. Tapi bagaimana dengan keinginan mama pa!.. Mama sangat ingin kembali mempunyai menantu Fira yang cantik dan pandai mengurus perusahaan dan berbesan dengan pak Langit. Rasanya keinginan itu begitu besar dan mama tidak mampu untuk mengendalikannya. Kadang logika mama juga membenarkan pendapat kalian. Tapi di sisi lain dari hati mama terus berbisik agar mama mewujudkan impian mama itu, apapun resikonya, ingin rasanya mama terjang," terang mama dengan raut muka sedih. Tangannya terus memilin ujung daster yang dia kenakan. Aku memandang keseluruh bagian dari tubuhnya, tampak sekali kalau bobot tubuhnya berkurang.
"Istigfar ma...., perbanyak berdoa, dekatkan diri pada Allah Tuhan semesta alam yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Memohonlah agar hati mama dilembutkan dan tidak lagi berambisi dan menginginkan sesuatu yang tidak seharusnya. Lawan semua keinginan mama yang tidak masuk akal, ingat anak, menantu dan cucu mama harus bahagia," ucapku terus menyadarkan mama.
"Apa mama mau kembali mengulang kebodohan mama dimasa lalu kehilangan menantu sebaik Yunian seperti dulu mama kehilangan Fira. Mama seharusnya bersyukur Tuhan masih mampu menghadirkan wanita baik untuk menjadi pendampingku, setelah dulu kita telah menyakiti dan menyia-nyiakan Fira," ucap Dion putraku dengan lemah lembut.
"Kalian sih enak bicara seperti itu, tidak tahu bagaimana tertekannya mama yang selalu dicibir oleh teman-teman sosialita mama. Kata mereka, kok mau punya menantu orang kampung. Dulu punya menantu orang hebat malah di cerai. Katanya mama sudah membuang sebuah berlian demi untuk mendapatkan batu pondasi," ujar Retno dengan gigi gemertuk menahan perasaan kesal.
__ADS_1
Sekarang mulai ketarik benang merahnya, apa yang menyebabkan Retno jadi berbuat begini. Dia sudah terbawa pengaruh lingkungan dan gaya hidup yang kurang sehat. Mungkin karena dia banyak berkumpul dengan orang-orang yang berpandangan bahwa harta kekayaan sebagai tolak ukur untuk menentukaan derajat dan standar hidup manusia. Mereka akan selalu membangga-banggakan orang yang mempunyai harta berlimpah dan mereka akan selalu menghina dan melecehkan orang-orang yang tidak mempunyai banyak harta. Mereka tidak pernah memandang siapa dirinya, apalagi berfikir untuk mengoreksi diri. Karena mereka hanya sibuk memikirkan dan mengoreksi diri orang lain. Sungguh miris mengetahui pola fikir orang-orang seperti mereka.
Berarti aku harus menyelamatkan Retno dengan cara menjauhkan Retno dari pergaulan yang tidak sehat ini. Aku harus bisa membawa Retno kelingkungan pergaulan orang-orang baik.
"Mama......kalau boleh papa bertanya sama mama apakah mama masih mencintai papa, apakah mama juga masih sayang dan cinta sama Dion putra kita yang ada dihadapan mama. Coba lihat mama, mungkin cinta mama sama papa bisa luntur karena usia. Sekarang papa sudah renta, papa juga sudah tidak sekuat dan segagah dulu, terutama untuk urusan ranjang, punya papa sering lettoyyy," ucapku yang dipotong oleh Dion secara spontan.
"Yang seperti itu sudah tidak usah dibahas disini papa...malu sama Dion," ujar Dion kesal. Aku hanya tersenyum melihat muka manyun putraku.
"Itu penting Dion, karena papa sadar diri mengenai kondisi papa saat ini," ujarku sembari menatap Dion.
"Intinya begini!!.....seandainya mama tidak cinta lagi sama papa, tidak masalah. Tapi cinta mama pada Dion darah daging mama tidak mungkin akan luntur walau diterpa usia. Apa mama tega melihat Dion dan anak-anaknya. Karena perbuatan mama yang memaksakan kehendak. Dan perlu mama ketahui Fira dan Galih saling mencintai. Tidak mudah memisahkan dan merusak jalinan cinta dan kasih mereka.
*******
__ADS_1
.