Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 37. Bahagia


__ADS_3

(POV) Marni.


Saat ini hatiku Benar-benar merasa sangat bahagia, karena putraku yang selama ini jomblo akut kini telah mempunyai seorang kekasih. Dulu aku dan papanya Galih sering merasa was-was dan sedih, takut kalau Galih tak lagi tertarik pada wanita. Karena setelah Zahra, wanita yang ditaksirnya menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya, Galih tak pernah sekalipun bergaul dan bahkan menjauh dari wanita, dia hanya fokus pada bekerja dan bekerja.


"Bude, Santi minta maaf ya karena telah banyak membuat masalah," Santi menyalamiku untuk meminta maaf sembari mencium punggung tanganku dengan air mata yang terus mengalir melewati pipinya.


"Bude maafkan kamu Santi, bude berharap kau bisa mendapatkan hidayah untuk Hijrah kejalan yang benar dan jalan yang diridhoi Allah, jalan yang mampu membuatmu bangkit dari keterpurukan. Setiap orang punya salah dan semoga kamu bisa menjadikan kesalahanmu sebagai pelajaran yang sangat berharga agar kedepannya kamu lebih hati-hati dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bimbinglah Kiran putri semata wayangmu menjadi anak yang solehah agar berguna bagi bangsa dan agama agar kelak mampu mengangkat derajat keluarganya," ucapku menasihati Santi. Kulihat Santipun menyalami Papa Galih dan juga Galih.


"Mba aku minta maaf karena telah percaya begitu saja omongan Santi, aku ini benar-benar bodoh begitu saja menelan mentah-mentah apa yang diucapkan anakku tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu. Selama ini aku tidak pernah percaya omongan orang lain tentang Santi. Saya merasa apa yang dilakukan Santi wajar-wajar saja. Tapi mulai sekarang aku akan mendidik dan menasihati Santi agar menjadi anak yang baik, begitupun pada Kiran cucuku. Kalau mbak melihat Santi berbuat yang tidak baik tolong ditegur ya mbak atau beritahu saya biar saya tegur, " ucap de Tini sambil terisak.


Setelah kami semua saling maaf dan memaafkan, satu persatu warga yang hadirpun pamit pulang, begitu juga Santi dan de Tini.


"Fira maafkan bule ya, telah menuduh kamu dengan tuduhan yang tidak benar. Semoga hubunganmu dengan Galih langgeng sampai kepelaminan dan semoga rumah tangga kalian kelak sakinah, mawadah warohmah dan diberi keturunan putra dan putri yang Soleh solehah, kalau begitu bule dan Santi pulang dulu ya, kami tunggu kedatanganmu kembali kedesa ini, biar kita bisa jalan -jalan bareng," ucap Tini pada Fira. Fira hanya mengangguk dan mengaminkan semua doa-doa Tini.


Hari telah menunjukan jam setengah satu siang, aku mengajak Galih dan Fira makan dulu sebelum berangkat ke kota. Selesai makan mereka pun pamit berangkat kekota.

__ADS_1


"Fira, nanti kalau mama dan papa kamu pulang dari Paris kasih tahu ya kalau papa dan mama Galih ingin melamar kamu," ucapku pada Fira calon menantuku.


"Iya tante nanti Fira kabari, Fira pamit pulang tante, makasih karena selama disini Fira diterima dan diperlakukan dengan sangat baik," ucap Fira sembari mencium punggung tanganku.


Setelah Fira dan Galih berpamitan kepadaku dan suamiku, mereka pun berangkat meninggalkan rumah ini.


"Sepi lagi ma... rumah kita, Galih pulang cuma sebentar, rasanya kangenku belum habis. Coba seandainya anak-anak kita tinggal didekat kita, mungkin setiap hari akan ada cucu kita yang datang kerumah," ucap suamiku.


"Rasanya kok tidak mungkin kalau Galih dan Fira mau tinggal di desa ini. Galih mempunyai beberapa restoran dikota yang harus dikelolanya. Sedangkan Fira harus mengelola perusahaan milik orang tuanya. Tapi ada yang mengganjal dihati mama pa. Fira selama menikah dengan suami pertama tidak pernah mempunyai anak. Bagaimana kalau dia menikah dengan Galih dan mereka tidak dikaruniai anak. Mama takut pa," ucap mama Galih merasa khawatir.


Mendengar penuturan suamiku, kini aku merasa tenang, benar apa kata papa Galih, kita harus siap menerima ujian apapun yang Allah berikan kepada kita. Karena memang tak ada kehidupan yang tak ada ujiannya.


"Apa tidak sebaiknya Yunian dan suaminya kita pindahkan kerumah kita. Kalau mama fikir-fikir suami Yunian kerjanya kan jauh dan jarang pulang, kasian juga mereka cuma tinggal berdua," usulku pada papa Galih.


" Ide bagus itu mah, besok kita sama-sama mengunjungi Yunian sekalian nengok cucu," jawab suamiku.

__ADS_1


Keesokan harinya setelah selesai sarapan pagi, aku dan papa Galih bersiap-siap pergi kerumah Yunian didesa Padang Gatah. Papa Galih sibuk menyiapkan mobil, kebetulan hari ini adalah jadwalnya kami libur tidak jualan sayur. Aku sibuk menyiapkan masakan dan beberapa macam kue kesukaan Jordan cucuku semata wayang.


"Permisi pak, apa benar ini rumah juragan sayur yang bernama pak Warjito , " Seorang wanita berparas cantik dan berpakaian seksi kulihat datang menghampiri dan menyapa suamiku. Aku terus mendengar dan memperhatikan dari balik jendela ruang tamu.


"Benar bu, ada perlu apa ya, " jawab suamiku.


"Begini lho pak eh.. maaf mas saya ingin ikut Berlangganan sayur sama bapak, kira-kira sayurnya datangnya kapan ya?, saya setiap pagi jualan dipasar tungging didesa Padang Sawit mas," ucap perempuan itu, sambil tersenyum dan sesekali membusungkan dadanya memperlihatkan dadanya yang montok.


"Bisa bu, ibu datang saja kios saya dipasar induk diarea central sayur setiap jam empat dini hari, tanya saja dipasar kios pak Warjito semua orang yang jualan sayur disitu kenal sama saya, " ucap suamiku.


"Tapi begini pak saya kan seorang perempuan, saya takut kalau saya keluar rumah dalam keadaan masih gelap, bagaimana kalo saya pesan dulu nanti bapak siapkan dan akan saya ambil jika sudah pagi. Dan itu mas.. . modal saya kan sedikit, bagaimana kalau saya ngutang dulu," ucap wanita itu sambil menggoyangkan buah dadanya yang bergelantungan dan kemudian tersenyum genit.


"Maaf bu, saya memang mengutangkan sayur saya, tapi hanya pada pelanggan yang sudah terbukti loyal sama saya. Terus saya tidak bisa menerima pesanan, karena biasanya pembeli memilih sendiri sayurnya sesuai yang mereka inginkan. soalnya masing-masing pedagang berbeda kebutuhan sayurnya tergantung dimana mereka berjualan. Dan setiap hari sayur yang datang pun berbeda - beda ukuran dan kualitasnya, jadi mereka menyesuaikan sendiri karena beda great dan ukuran maka beda harga. Kalau ibu pesan dulu minta dipilihkan saya tidak bisa bu, takut pilihan saya tidak sesuai dengan keinginan ibu.


Sungguh darahku mendidih melihat tingkah laku perempuan ini, terlihat sekali kalau dia sedang menggoda suamiku. Akupun dengan tergesa-gesa meninggalkan semua pekerjaanku untuk menghampiri perempuan berbaju seksi itu.

__ADS_1


*******


__ADS_2