
(POV) Marni
Pagi-pagi sekali saat aku datang Fira dan Galih masih terlelap mungkin karena kelelahan setelah Galih selesai melakukan serangan fajar usai shalat subuh. Dengan tergopoh-gopoh Galih melangkah menuju ruang tamu sembari merapikan rambutnya yang berantakan. Sedangkan Fira sepertinya pergi kekamar mandi terlebih dahulu untuk cuci muka dan merapikan rambutnya
"Mama....mama apa kabar ma, papa, dan....eh ternyata banyak tamu," Galih menyapaku dan papanya. Kemudian dia mengarahkan pandangannya kedepan. Saat melihat ternyata banyak tamu yang datang sepertinya dia merasa malu, mungkin karena baru bangun tidur saat kami datang. Sesaat dia menarik nafas panjang seraya tersenyum. pelukan hangat penuh rindu dia berikan untukku, lalu mencium punggung tanganku.
"Galih senang mama datang, Galih sayang mama," sembari melangkah menjauh dariku dan mendekati papanya kemudian melakukan hal serupa seperti yang dilakukan padaku. Galih pun menyalami semua tamu yang datang dengan rona bahagia. Apa yang dilakukan Galih pun dilakukan juga oleh Fira istrinya, menantuku tersayang ini tersipu malu saat menatapku seolah sedang tertangkap basah tengah melakukan sesuatu dengan putraku. Akupun tersenyum manis dan mengelus perutnya yang membuncit. Tak sabar rasanya menunggu kelahiran cucu keduaku ini.
__ADS_1
Galih dan Fira mempersilakan kami semua untuk masuk keruang tamu. Beberapa ART menyuguhkan minuman dan beberapa cemilan. Kedua anak Dion tertawa menggemaskan kala berebut cemilan yang ada di meja ruang tamu. Saat semua duduk santai dan asyik menikmati makanan ringan, tiba-tiba bu Retno bangkit berdiri mendekati Fira dan Galih yang sedang duduk berdampingan.
"Galih, Fira, mama minta maaf atas semua kesalahan mama, maafkan mama karena masih menginginkan kamu kembali berumah tangga dengan Dion. Kamu tentu sudah tahu bukan?. Tidak seharusnya mama mempunyai keinginan demikian, karena kalian sudah sama-sama bahagia dengan pasangan kalian masing-masing. Mama baru menyadari kalau yang mama inginkan akan menyakiti hati Galih dan Yunian," ujar bu Retno.
"Sebenarnya aku sangat kecewa dengan keinginan mama, tapi bagi Fira itu hal biasa, bukankah mama sudah biasa menyakiti hati Fira saat dengan tidak punya hati mama meminta Dion menikah lagi, kala Dion masih menjadi suami Fira. Apa mama tidak berfikir betapa hancurnya hati mama andai papa Dirgantara menikahi wanita lain. Perlu waktu bertahun-tahun bagi Fira untuk menyembuhkan luka yang pernah Dion torehkan akibat perbuatan mama, hingga Fira sempat terjerumus melakukan perbuatan hina hendak merusak rumah tangga orang lain sebagai pelampiasan dari rasa sakit yang Fira alami," ujar Fira dengan raut wajah datar, sepertinya tidak mudah untuk mendapatkan maafnya. Aku memaklumi perasaannya.
"Dan sekarang kala luka dihati Fira telah sembuh dan terobati, dengan tidak punya hati juga mama akan kembali menorehkan luka kembali dihati Fira. Masih pantaskah orang seperti mama layak mendapatkan maaf Fira. Fira bukan malaikat apalagi Tuhan yang mampu memaafkan segala kesalahan dengan mudah. Fira cuma manusia biasa, yang butuh proses untuk melunakan hati dan menyembuhkan luka yang sudah terlanjur parah dan begitu pedih," sambung Fira lagi. Kulihat Galih yang dari tadi gelisah seperti menahan kesal pun ikut bicara. Bulir-bulir kristal mulai mengalir melewati kedua pipi bu Retno yang sudah mulai timbul kerutan.
__ADS_1
"Kesalahan mama memang begitu besar pada kalian semua. Itu semua terjadi karena mama merasa mempunyai harta yang banyak sehingga mama lupa kalau orang lain pun punya perasaan sakit, kala kita menyakitinya. Saat itu mama begitu menggampangkan seolah segala sesuatunya bisa berjalan sesuai keinginanku selama ada uang. Ternyata uang telah menjerumuskan mama menjadi lupa diri, uang membuat mama terus berambisi agar apa yang mama inginkan harus mama dapatkan, tak pernah terlintas di hati mama kalau itu menyakitkan bagi kalian," dengan suara serak, bu Retno terus bicara hingga tangisnya pecah tak mampu dia tahan. Dia menyesali semua perbuatannya dimasa lampau.
"Tolong katakan nak, apa yang harus mama lakukan untuk mendapatkan maaf kalian, mama tahu itu tidaklah mudah, tapi mama mohon!!....ingin sekali mama hidup tentram tanpa dikejar-kejar rasa bersalah hingga menyebabkan mimpi buruk dalam setiap mama tertidur. Ingin sekali mama hidup sederhana dengan hati damai seperti kalian. Beberapa hari tinggal dirumah Dion dan Yunian, bergaul dengan keluarganya. Mama baru menyadari betapa indahnya kehidupan kalian, penuh canda tawa, tak pernah ada ambisi dan selalu menikmati hidup dengan penuh rasa syukur," itulah pemaparan bu Retno sembari terisak.
"Mama tidak perlu melakukan apapun untuk mendapatkan maaf kami. Mama cukup berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi seperti dulu. Mama masih ingatkan, dulu mama minta maaf untuk ikhlas melapaskan Fira untuk pergi dan berhenti jadi mantu mama, mama berjanji tidak akan berbuat sesuatu yang menyakitkan hati Fira. Jadi Fira akan memaafkan mama selama mama mampu memperbaiki diri menjadi orang baik dan peka terhadap perasaan orang lain sehingga tidak seenaknya saja menyakiti hati orang. Ingat mama, kematian kita tidak pernah tahu, kapan akan datang menjemput kita. Coba mama fikir, bagaimana kalau ajal keburu menjemput mama saat orang yang pernah mama sakiti belum bisa memaafkan mama," tiba-tiba tangis bu Retno pecah tak tertahankan lagi.
"Mama berjanji Fira, kali ini mama tidak akan mengulangi perbuatan mama seperti yang sudah-sudah. Mama akan selalu dekat dengan kalian semua agar mama mendapatkan bimbingan dan mengerti bagaimana cara menjalani hidup agar hati senantiasa merasa tentram dan nyaman. Mama akan berhenti beegaul dengan kaum soaialita. Agar tidak ada yang mempengaruhi mama lagi," ujar bu Retno. Mendengar pemaparan bu Retno, Fira pun berdiri melangkah mendekati bu Rerno dan membantunya berdiri, kemudian memeluknya dengan Erat. Begitupun Galih, mereka bertiga berpelukan dan akhirnya terucap maaf dari dari bibir pasangan Galih Fira?.
__ADS_1
Semua yang ada diruangan itu pun berucap syukur sembari menitikkan air mata bahagia. Semoga apa yang terjadi pada kami bisa menjadi pelajaran bagi kehidupan kita dimasa mendatang, agar tidak semaunya mengatur kehidupan orang lain. Karena pada dasarnya setiap orang punya rencana dan cita-cita untuk masa depannya. Sebagai orang tua, kita hanya berhak mengarahkan andai yang muda salah langkah, tanpa harus mengatur mereka semau hingga membuat ada beberapa pihak yang tersakiti.
TAMAT