Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 104. Malam Yang Berbeda


__ADS_3

(POV) Edi


Hari sudah jam sembilan malam, aku, ibu, ayah, mertuaku dan istriku kami semua berbincang ringan diruang tamu, sesekali kulihat ibuku menguap.


"Bu ayo kita tidur, ayah lihat ibu mengantuk, kami tidur duluan nak, bu Jelita ," ayah pamit kepada kami untuk tidur, sembari menggamit lengan ibu. Tidak lama kemudian mertuaku pun pamit tidur. Kini hanya kami berdua yang ada di ruang tamu. Kulihat istriku begitu serius memperhatikan layar ponselnya.


"Apa yang kamu kerjakan sayang, tidur yu, sudah malam," Aku memeluk pinggang juita yang padat berisi sambil menekankan daguku pada pundaknya.


"Bentar dulu mas, nyelesaikan laporan keuangaan pabrik minggu ini," jawab istriku tanpa menoleh sedikitku padaku. Wajahnya begitu tampak serius, Kulihat dia sedang mengotak-atik angka di dalam table di salah satu aplikasi diponselnya. Aku memperhatikan seluruh lekuk tubuh istriku yang putih bersih dan menonjol di beberapa tempat ditubuhnya.


Malam ini aku sangat bersyukur bisa menikah dengan wanita yang banar,-benar aku cintai tak sabar rasanya ingin merasakan manisnya madu pernikahan. Sesaat kemudian Juita menarik nafas panjang.


"Akhirnya selesai juga ,lega sekali rasanya," ucap istriku sambil merentangkan tangannya," Aku masih menunggu apalagi yang akan dilakukan istriku selanjutnya. Aku tidak ingin melakukan ibadah indah sepasang suami istri dengan tergesa-gesa hingga membuat istriku kurang menikmati.


"Sayang kita makan Yo, rasanya aku lapar, tadi sore aku belum makan, bagaimana kalau kita makan diteras rumah sambil menikmati cahaya bulan, bukankah malam ini sedang bulan purnama," ucap istriku. Dengan sabar aku ikuti saja keinginan istriku. Walaupun sesungguhnya ada yang berontak di dalam sana, namun aku terus meredamnya demi memenuhi keinginan orang terkasihku.


Kami segera kebelakang untuk mengambil dua piring nasi dan teman-temannya serta dua gelas air minum. untuk pertama kalinya sebagai pasangan halal kami makan berdua di bawah sinar sang ratu malam. Kelap-kelip bintang diangkasa menjadi saksi bisu betapa aku sedang menahan sesuatu. Sesuap demi sesuap nasi yang masuk kedalam mulutku serasa amat lamban. Andai istriku tahu kalau aku saat ini sedang tidak ingin makan nasi namun aku ingin memakannya.


Setelah sekitar setengah jam akhirnya kamipun selesai makan, aku langsung mengajak istriku masuk kekamar.


"Tapi biasanya aku baru masuk kamar dan tidur jam sebelas malam mas, apa tidak nanti saja masuk ke kamarnya," terang istriku.

__ADS_1


"Malam ini adalah malam pengantin kita, sudah tentu berbeda dengan -malam sebelumnya. Ada ibadah indah yang wajib kita jalani," ujarku sambil mengerlingkan mataku sembari memeluk tubuh Juita yang sintal, hangat wangi dan menenangkan.


"Oh iya, aku lupa," jawab Juita sambil tersipu malu.


"Lupa apa pura-pura lupa, ngomong-ngomong boleh aku tanya sesuatu sama kamu," ujarku penasaran. Juita pun menjawab dengan sebuah anggukan dan senyum manja.


"Kita masuk ke kamar dulu mas, aku takut ada yang lihat apa yang kita lakukan," titah Juita. Sembari menarik tanganku membawa masuk kedalam rumah. Dia mengunci pintu ruang depan dan berjalan perlahan masuk kedalam kamar, akupun mengikuti langkahnya dengan tangan terus melingkar dipinggangnya yang seksi.


"Sekarang mau tanya apa mas," tanya istriku sembari membaringkan tubuhnya perlahan dengan begitu mempesona menurut pandanganku.


"Apa kau sudah melakukan ritual suami istri sebelumnya," tanyaku. Sebenarnya sedikit banyaknya aku sudah bisa mengira kalau Juita masih perawan, namun aku ingin tahu langsung dari bibir seksinya.


"Kita sama-sama belajar, aku pun belum pernah melakukannya, berarti kita sama-sama amatir," sahutku seraya terkekeh.


"Oh iya.....aku lupa, kita tadi sudah shalat isyakan, berjamaah sama ayah, ibu dan emak, sekarang kita shalat sunat dua rekaat dulu," celana kolor yang sudah aku plorotkan sebatas lutut aku naikkan kembali. Aku tahan hasratku yang sudah mencapai ubun-ubun.


Kami mengambil air wudhu dan shalat berjamaah, setelah mengucap salam aku menegok kebelakang untuk menyalami istriku. Dia mengecup punggung tanganku, sentuhan bibirnya yang menyentuh kulitku seketika membangkitkan gairahku. Akupun langsung mengecup keningnya. Aku berdoa seraya meniup ubun-ubunya tiga kali.


"Semoga istriku Juita mempunyai panjang usia yang diberkahi, semoga dia senantiasa taat kepada suami dan istiqomah dijalan Allah, semoga kami cepat dikaruniai putra dan putri yang soleh solehah, semoga rumah tangga kami terus mendapatkan kebahagiaan hingga tua renta terus bersama," Selesai berdoa, aku langsung melepaskan mukenah istriku dan melepaskan baju koko milikku.


Aku menganggkat tubuh sintal istriku keatas pembaringan, kami terus saling mencumbu mengikuti insting yang timbul secara alamiah. Kami terus melakukannya, perlahan namun pasti, mendaki gunung bersama dalam sepi. Hanya suara deru nafas kami yang saling memburu. Dua insan yang saling mencintai sedang bekerja sama untuk menggapai puncak bahagia. Suara rintihan, *******, hingga jeritan kecil yang semakin membuat hormon testosteron dalam tubuhku semakin aktif. Setelah kurang lebih satu jam kamipun mencapai puncak bersama merasakan indahnya madu-madu cinta sebagai pasangan halal.

__ADS_1


Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh polos kami, keringat masih mengucur membasahi sebagian tubuh kami. Lelah namun terasa nikmat, pantas lah banyak orang berpendapat bahwa hubungan cinta kasih antara sepasang manusia rasanya bagaikan surga dunia. Bahkan demi untuk itu mereka rela mencari jalan pintas dalam merasakan surga dunia, melakukan hubungan haram diluar pernikahan, katanya rasanya lebih nikmat!!.. Tentu saja karena dibantu oleh setan. Namun akibatnya tidaklah senyaman saat melakukannya, bisa merugikan diri sendiri, menjadi aib keluarga dan menyakiti banyak pihak, belum lagi dosa yang harus ditanggung diakherat kelak.


Aku memandang wajah istriku yang nafasnya mulai stabil, artinya lelahnya sudah berkurang.


"Bagaimana rasanya, enak enggak, kamu suka kan," tanyaku pada istriku dengan dada berdebar, ada yang aktif kembali di bagian bawah tubuhku.


"Pertama sih sakit, tapi lama-lama enak, kok bisa pas gitu ya mas ukurannya, padahal kan aku nggak pesan sesuai ukuranku,"ujar Juita istriku dengan mimik muka yang begitu polos. Aku pun tergelak penuh bahagia melihat tingkahnya. Terimakasih Tuhan, engkau kirim seorang wanita yang mampu membuat aku bahagia bagai terbang kelangit yang entah keberapa.


"Apanya yang pas sayang? aku kok gagal faham yah...mungkin karena ada yang minta jatah lagi di dalam sana," ucapku sembari menyingkap selimut yang menutupi tubuh kami.


"Itu lho....SAMPUL nya mas Edi," jawab Juita


"SAMPUL!!.... Apa maksudmu sayang?dalam situasi seperti ini sepertinya kecerdasanku berkurang," terangku kemudian.


"Senjata Tumbul mas, mas Edi ini kurang gaul, masa gitu aja engga tahu," Jawaban istriku membuat tawaku pecah tak tertahankan, untung saja dengan sigap dia membekap mulutku. Jika tidak bisa-bisa para orang tua yang sedang terlelap dalam mimpi indah terbangun.


Aku langsung memeluk kembali tubuh istriku, dan memulai pemanasan menuju ronde berikutnya.


*********


..

__ADS_1


__ADS_2