
(POV) Dinda
Aku sangat bahagia saat Fira menelponku mengabarkan kalau orang tua Galih lelaki yang selama ini dipacari sangat ingin melamarnya. Dia juga bercerita betapa dia sangat bahagia berada ditengah-tengah keluarga kekasihnya. sebuah keluarga sederhana yang kesehariannya senantiasa hangat dan harmonis. Kedua orangtua Galih sangat menyayanginya, begitu juga kakak Galih dan keluarga lainnya menyambut kehadiran Fira dengan penuh bahagia. Walaupun disana dia bertemu Santi wanita yang sudah beberapa kali menghancurkan kebahagiannya. Menurut Fira, Santi sempat beberapa kali menyebarkan Fitnah buruk tentang dirinya dihadapan calon mertua dan beberapa kerabat lainnya, namun tak satupun diantara mereka yang percaya karena memang kelakuan Santi yang tidak baik dimata mereka. Aku sangat bersyukur dengan keberuntungan yang Fira alami setelah berbagai kemalangan yang selama ini dia jalani.
Semua kebahagiaanku mendadak sirna, saat keluarga Galih melamar. Aku sangat terkejut karena Dion sekeluarga ikut serta dalam acara lamaran. Bu Retno dan pak Ditgantara memang mengucapkan permintaan maafnya atas gagalnya jalinan rumah tangga Fira dan Dion. Jika mengingat dulu keluarga Dion pun sangat bahagia kala Dion dan Fira memutuskan untuk menikah.
Beberapa kali pak Dirgantara dan bu Retno menyatakan rasa bangganya mempunyai menantu Fira putri kesayanganku. Aku pun yakin Fira akan bahagia berumah tangga dengan Dion lelaki yang sangat mencintainya saat mereka masih SMA. Ditambah lagi dia mempunyai mertua yang Begitu mendambakannya. Namun pada kenyataannya dengan mudahnya mereka berubah karena pengaruh si gadis murahan bernama Santi.
Aku hanya bisa mendoakan semoga suami Fira kelak bisa menjaga kesetiaanya dan mertuanya pun tidak mudah dihasut oleh siapapun.
"Mama kenapa sih sekarang papa perhatikan semenjak Fira dilamar Galih kok malah murung terus. Bukannya sejak awal mama yang begitu bersemangat pulang ke Indonesia karena ingin menerima lamaran orang tua Galih buat mempersunting Fira anak janda kita," ucap suamiku. Kulihat Fira tampak tidak suka statusnya sebagai seorang janda selalu diungkit-ungkit oleh papanya.
"Papa tidak usah sebut-sebut status Fira sebagai seorang janda kenapa. punya anak janda aja bangga disebut terus, biar semua orang ingat kalau Fira sudah janda," ucap Fira sambil menyuap Fizza dalam ukuran besar. Pak langit hanya tersenyum melihat kelakuan putrinya.
"Mama cuma khawatir kalau apa yang terjadi dalam rumah tangga Fira dengan Dion terulang lagi dengan Galih. Soalnya ternyata keluarga mereka berbesan, apalagi anak mereka yang menikah adalah Dion dan kakaknya Galih. Mama takut Dion masih mengejar Fira dan menghasut Galih untuk meninggalkan Fira, apalagi Santi juga ada dikampung itu, tapi semoga semua yang mama khawatirkan tidak pernah terjadi," ucapku padaFira.
"Khawatir boleh ma, agar kita senantiasa hati-hati. Tapi jangan terlalu berlebihan, nanti mama malah sakit," ucap suamiku.
"Iya ma, mama dan papa Galih orangnya tidak begitu saja percaya dengan hasutan orang, beliau selalu mencari tahu terlebih dahulu sebelum mempercayai suatu imformasi, lagian kalau mama terus-terusan trauma melihat nasib Fira, bisa-bisa Fira akan menjanda terus karena takut menikah dan dikhianati lagi. Kalau Fira menjanda terus yang bangga kan papa," ujar Fira sembari memonyongkan bibirnya kearah papanya. Sontak aku tak kuasa menahan senyum melihat kelakuan putri semata wayangku.
__ADS_1
"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan kekampung Galih untuk melihat lokasi resepsi perkawinan Fira dan Galih sekaligus berkenalan dengan keluarga besar Galih," usul papa Fira.
"Betul usul papa ma, mama belum pernah kan melihat kehidupan orang-orang dikampung nanti mama lihat deh. Tapi perjalanan dari kota ini kekampung mas Galih memerlukan waktu sekitar empat jam sedangkan disana tidak ada hotel jadi mau tidak mau kita harus nginep ditempat mas Galih. enggak papa ma, sekalian mama nanti bisa menilai bagaimana sifat kedua orangtua serta keluarga mas Galih," Fira menimpali.
Aku fikir-fikir usul Fira dan papanya bagus juga, sudah lama juga aku tidak berlibur ketempat-tempat yang jauh dari hingar bingar perkotaan. kemudian akupun menyetujui usul mereka.
"Okey besok kita bertiga berkunjung ke desa Mentereng. Kalau mendengar dari namanya sepertinya disana pemandangannya bagus. Fira sebaiknya kamu hubungi si Roy sekertarismu untuk menggantikan pekerjaanmu selama beberapa hari, dan papa siapkan supir, biar papa tidak perlu nyetir sendiri," titahku. serentak anak dan suamiku menjawab siap dengan ujung telapak tangan kanan ditaruh dipelipis bagian kanan sebagai tanda hormat. Aku langsung tertawa melihat tingkah mereka.
Pagi-pagi sekitar jam delapan kami sudah bersiap-siap untuk berangkat ke desa calon besanku berada. Aku dan Fira, kami masing - masing membawa satu buah koper sedangkan suamiku hanya membawa tas ransel saja. Laki -laki memang cenderung simple jadi tidak perlu banyak bawaan. tidak seperti kami para wanita, mesti membawa mukena, peralatan make Up, baju santai baju tidur dan baju untuk jalan, pokoknya ribet deh, menurut suamiku.
Sepanjang perjalanan aku terus asyik menikmati pemandangan pedesaan yang jauh dari kebisingan. Jalanan terasa lengang. kami hanya berpapasan dengan beberapa pengendara sepeda motor dan beberapa truk pengangkut sawit. Ada juga truk pengangkut lump karet yang baunya begitu menyengat.
Sudah beberapa kali Fira dan papanya menyuruhku untuk tidur saja didalam mobil. Namun rasanya aku sayang melewatkan pamandangan yang menuruku sangat menarik.
"Kalau desa Padang Sawit sama desa Mentereng jaraknya sekitar berapa kilometer atau berapa jam perjalanan Fira," tanyaku pada Fira.
"Mungkin sekitar satu jam bila menggunakan sepeda motor ma, soalnya jalannya melewati perkebunan sawit jadi hanya ada jalan berbatu, dengan kecepatannya sekitar dua puluh sampai tiga puluh kilometer perjam," ucap Fira.
Sekitar empat jam perjalanan, akhirnya kami memasuki pintu gerbang desa, bertuliskan Selamat Datang di desa Mentereng. Mobil kami terus melaju masuk kedalaman desa Mentereng.
__ADS_1
Aku sengaja membuka pintu mobil agar bisa menyapa warga desa yang kebetulan berpapasan. Beberapa warga desa baik berpapasan dan yang sengaja santai disore hari menyapaku dengan anggukan kepala dan tersenyum. Aku pun membalas sapaan mereka dengan melakukan hal yang sama.
"Ramah-ramah sekali penduduk disini Fira, mama jadi ingin berteman dengan mereka, ' aku memberi tahu Fira.
"Semoga saja mama nanti menemukan teman didesa ini, teman lama barang kali" ucap Fira.
"Nggak papa teman lama, asal jangan pacar lama," sahut papa Fira.
" Gak usah cemburuan gitu pa, ingat umur, ingat Cucu, saat kakek-kakek yang lain momong cucu papa malah sibuk cemburu," ucapku yang dibalas gelak tawa Fira dan papanya.
Setelah beberapa saat mobil kami memasuki desa mentereng, akhirnya kami sampai dirumah Galih.
"Papa bangun kita sudah sampai, lihat itu rumah Galih. Mobil kemudian masuk kehalaman rumah yang lumayan sederhana. Namun rumah itu terlihat paling besar dan paling mewah diantara rumah-rumah yang ada disekitar situ.
Pak supir memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Galih. Kami semua keluar dari mobil, hanya pak supir yang tidak mau keluar dari mobil. Aku sudah mengajaknya menemui keluarga Fira, namun dia menolak dengan alasan mau beristirahat.
Aku, Fira dan suamiku berjalan menuju teras rumah, dimana disana beberapa keluarga terdekat Galih sedang menyambut kami.
Kami menyapa dan menyalami mereka satu persatu sembil tersenyum ramah. Tiba-tiba pandanganku mengarah kepada seorang wanita seumuran aku, dia pun menatapku, sepertinya kami saling mengenal, tapi aku lupa dimana, karena sudah lama sekali.
__ADS_1
************