
(POV) Fira
Aku segera bersiap mendengarkan penjelasan pak Ustat dengan hati deg-degan, semoga apa akan disampaikan pak ustat tidak menyakitkan hati kami, karena apa yang terjadi bukan kesalahan Dion karena Dion dijebak menggunakan obat perangsang.
"Begini bapak ibu, dan kalian semua. Anaknya mbak Santi kan statusnya anak diluar pernikahan jadi anak itu seratus persen hak ibunya, dan ayah biologisnya tidak berkewajiban untuk mengakui anak itu sebagai anaknya, serta tidak punya kewajiban untuk menafkahi dia jadi Dion tidak harus bertanggung jawab. Itulah kenapa islam mengharamkan perjinahan karena hukumannya didunia pun sangat berat, apalagi diakherat, tapi dalam kasus ini nak Dion dijebak menggunakan obat perangsang dan dia melakukan itu diluar kesadarannya jadi kesalahan murni dari pihak nak Santi jadi dialah yang seharusnya bertanggung jawab dengan perbuatannya," ucap pak Ustat. Kami semua menarik nafas panjang dan merasa lega.
"Terus bagaimana dengan nasib anak saya pak, dia terus-terusan menanyakan bapaknya, saya tidak tahu harus menjawab apa. Saya sangat menyesal telah melakukan semua itu. Sekarang saya sadar apa yang saya lakukan dulu salah, dulu saya terlalu berambisi untuk memiliki Dion hingga saya nekat menghalakan segala macam cara. Mungkin keberadaan Kiran putri saya adalah hukuman atas semua dosa-dosa saya. ," ucap Santi mulai terisak.
"Apa yang dilakukan nak Santi dimasa lalu harus bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupan kita. Kita harus mengajarkan kepada anak-anak kita, generasi penerus kita tentang jjinah yang membawa kerugian besar bagi pelakunya. Yang jadi korban adalah anak, anak hasil jinah biasanya cenderung minder dimasyarakat karena dia lahir tidak mempunyai ayah seperti anak-anak lainnya. Jika anak itu perempuan maka dia Bernasab kepada ibunya atau tidak punya nasab. Hal ini biasanya akan menjadi masalah saat dia menikah. Karena predikat dia sebagai anak haram, anak hasil zinah, anak yang terlahir diluar pernikahan akan diketahui oleh masyarakat, bagaimana penjelasan saya, apakah bapak dan ibu semua faham," ucap pak Ustat. Tiba-tiba pak Dirgantara angkat bicara.
"Bagini Santi kalau kamu keberatan mengurus anakmu, kamu bisa menyerahkan kepada kami, kami akan mengurus anak itu dengan baik. Tapi kami tidak akan menikahkan kamu dengan Dion karena itu akan menyakitkan banyak pihak. Saya harap kamu mengerti. Kamu boleh menceritakan tentang ayahnya yang tidak dapat bersamanya karena sesuatu hal, atau menurutmu bagaimana Dion?," tanya papa mertua.
"Dion terserah Fira aja papa, bagaimana baiknya," ucap Dion sembari memandang kearahku.
"Kalau menurut Fira, terserah maunya anak itu, kalau dia mau hidup dengan ayahnya, dia bisa ikut kami sebagai anak angkat, kami akan mengadopsinya secara resmi karena memang secara hukum agama dan hukum pemerintah mereka bukanlah anak dan ayahnya. Tapi jika Santi tidak bisa berpisah dengan anaknya, kita bisa membantu memberi biaya hidup tapi untuk anak itu saja, bukan untukmu Santi," aku menekankan kalimat untuk anak itu saja, biar dia tahu diri dan tidak berusaha memeras kami, karena aku tahu dia licik. Sesaat Santi sepertinya terkejut dengan keputusanku, tapi setelah berfikir sejenak akhirnya dia memberikan keputusan.
"Saya tidak mau anak saya diadopsi oleh kalian, saya masih sanggup untuk membiayai dia. Sejak bayi aku sudah merawatnya dengan susah payah, enak saja sekarang kalian ingin mengambilnya.
__ADS_1
Tapi baiklah sepertinya saya memilih opsi kedua, kalian harus mengirim biaya hidup Kiran setiap bulan. Sekarang saya minta lima ratus juta setiap bulan," ucap Santi dengan mantap. Semua yang hadir disitu terkejut mendengar permintaan Santi. Dion menarik napas dan ingin bicara, namun aku segera angkat bicara.
"Bisa kami minta rinciannya, uang lima ratus juta selama sebulan itu untuk apa aja?," ucapku sembari tersenyum. Santi nampak gelagapan mendengar permintaanku.
"Sebenarnya kalian ikhlas enggak sih memberikan tanggung jawab untuk anakku. Pakai harus ada rincian segala, ribet banget tahu!!," ucap Santi dengan nada tinggi.
"Maaf mbak Santi, saya perlu meluruskan ucapan mbak Santi, Dion dan keluarga tidak punya kewajiban untuk bertanggung jawab. Mereka memberikan opsi tersebut hanya kebijakkan mereka untuk meringankan beban mbak Santi. Jadi bukan kewajiban, bahkan kalau mereka mau mereka tidak perlu melakukan apa-apa, bahkan mereka bisa menuntut mbak Santi dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan. Jadi dalam hal ini mohon mbak Santi tidak mengarur beliau-beliau ini," ucap pak Ustat yang membuat Santi diam dan menunduk.
"Sekarang saya rincikan berapa besaran nominal dana yang dikirimkan kepada Santi untuk biaya hidup Kiran. Untuk biaya sekolah Kiran, kita akan bayar langsung kesekolah persatu tahun sekali terhitung mulai tahun ini, tolong share alamat sekolah Kiran. Untuk pakaian dan baju seragam kita akan kasih perenam bulan sekali. Untuk uang jajan Kinan sehari lima puluh ribu, uang makan lima luluh ribu. Jadi totalnya kita akan tranfer uang sejumlah tiga juta rupiah setiap bulan.
"Tapi Kiran perlu jalan-jalan, liburan, uang segitu mana cukup," ucap Santi tampak kesal.
"Hari minggu yang akan datang bolehkah aku membawa Kiran kerumah papa dan mama untuk mengenalkan Kiran sebagai cucu kalian dan juga Dion sebagai papanya," ujar Santi kepada papa dan mama mertua.
"Tentu saja boleh, tapi jangan panggil kami dengan sebutan papa dan mama karena kamu bukan anak atau menantu kami, anak kami hanya Diana dan Dion dan menantu kami hanya Raka dan Fira," ucap mama mertua tegas, semua yang ada disitu pun tersenyum-senyum hanya Santi yang terlihat kesal.
Akhirnya Santi pun pamit pulang setelah sebelumnya meminta maaf atas kacaunya acara resepsi pernikahan kami. Aku dan Dionpun masuk kekamar untuk istirahat.
__ADS_1
"Terima kasih ya sayang atas pengertian dan kesabaranmu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi waktu itu," ucap Dion.
"Itu cuma masa lalumu sayang, sebagai istri sudah seharusnya aku menerima segala kekurangan dan kelebihanmu, begitiu juga kamu yang seharusnya menerima kekurangan dan kelebihanku,"ucapku pada suamiku.
"Iya sayang semoga rumah tangga kita senantiasa diberkahi oleh yang maha kuasa," Doa Dion yang kusahut dengan ucapan Aamiin.
Hari ini adalah hati minggu, hari dimana Santi akan membawa anaknya untuk berkenalan dengan kami selaku keluarganya. Aku dan Dion memilih tinggal diapartemen tidak jauh dari tempatku bekerja.
Setelah menunggu beberapa saat datang lah sebuah taksi berhenti dihalaman rumah kami. Kemudian keluarlah Santi menggandeng seorang anak perempuan berumur sekitar tujuh tahun.
"Assalamu allaikum," ucap Santi dan anaknya secara bersamaan dan dijawab wa allaikum sallam oleh kami sekeluarga. Aku dan mama segera keluar sampai batas teras untuk menyambut kedatangan mereka. Santi segera menyalami aku dan mama mertua kemudian Dion dan papa mertua, begitu juga anak perempuan yang selalu digandeng oleh Santi, menyalami kami satu persatu dan tidak lupa mencium tangan kami semua. Aku segera mempersilakan mereka berdua untuk duduk.
"Kiran, kenalkan ini opa kamu, Santi menunjuk kearah papa mertua, ini oma kamu, ini papa kamu, sambil menunjuk kearah mama mertua dan Dion, dan wanita ini istri papa kamu," ucap Santi pada Kiran.
"Kok wanita itu istri papa, bukannya istri papa itu mama, berarti wanita itu pelakor dong ma!!," ucap Kiran kepada Santi.
***********
__ADS_1
.