
Rumah itu terasa hening, tak ada suara, namun lampu teplok sepertinya menyala disalah satu ruangan dirumah tersebut. sebagai pertanda bahwa rumah itu memang berpenghuni. Dengan perlahan Dewanta dan yang lainnya menuju kesamping rumah, dimana sepertinya ada salah satu ruangan yang lebih terang dari ruangan yang lain.
Mereka memusatkan fikiran untuk mendengarkan apa yang terjadi didalam rumah tersebut.
"Nek, Zahwa kangen abi dan umi, kapan nenek antar Zahwa pulang," suara anak gadis kecil terdengar didalam rumah tersebut.
"Za...," Dewanta nyaris berteriak memanggil nama Zahwa, untunglah, ayahnya segera membekap mulutnya. Ayahnya memberi kode agar dia diam.
Hati Dewanta sangat bahagia mendengar suara Sang anak ada didalam rumah itu. Kemudian dia dan beberapa polisi segera melangkah menuju pintu depan lalu mengetuk pintu. Selang beberapa saat kemudian pintu terbuka. Nampaklah sesosok tubuh kakek renta berdiri didepan mereka.
"Zahwa, abi datang nak, Dewanta sudah tak sanggup lagi menahan diri. dia langsung berteriak memanggil nama putri kesayangannya. Zahwa yang ada di dalam rumah tengah terlelap pun mendengar suara ayahnya. Dia langsung bangun dan berlari keluar, namun langkahnya ditahan oleh kakek renta tadi.
"Sabar Zahwa, ikut kakek dulu sebentar," ucap kakek tadi yang langsung menggendong Zahwa menuju kebelakang. sementara dibelakang dua orang lelaki bertato menyambut sang kakek dan langsung menggendong Zahwa secara paksa. Dia membawa lari Zahwa melewati halaman samping menuju mobil Katana warna hitam yang tidak diketahui kapan datangnya.
Sementara Zahwa terus menangis histeris Dalam gendongan laki -laki bertato tadi. sampai dimobil laki-laki bertato tadi langsung membuka pintu mobil dan hendak memasukan tubuh Zahwa kedalam mobil. sementara Dewanta berlari Menghadang laki - laki tadi dan langsung merebut Zahwa yang hendak dimasukkan ke dalam mobil. Tubuh Zahwa sekarang sudah ada dalam gendongan Dewanta. Namun tiba-tiba dari arah belakang seorang laki-laki berbadan tinggi besar merebut Zahwa dan membawa lari masuk ke dalam perkebunan sawit. aksi kejar-kejaran pun terjadi antara pihak polisi dan Dewanta dengan para penculik. polisi sudah menembakan pistolnya keudara beberapa kali.
Penculik Yang membawa Zahwa berlari sangat cepat menembus gelapnya malam, suara Zahwa pun tak terdengar lagi. Kini polisi pun kehilangan jejak. setelah sekian lama melakukan pencarian akhirnya mereka memutuskan kembali kerumah panggung dimana mereka datang untuk menyusun rencana selanjutnya.
Dewanta melangkah gontai seperti orang linglung, hatinya begitu hancur. Bagaimana tidak, anak yang hilang dan sudah ditemukan, bahkan telah ada dalam gendongannya kini harus hilang lagi dirampas para penculik. Dia menyesali kenapa sampai lengah. Sementara pak Sukarta ayahnya menepuK-nepuk punggung Dewanta untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Sabar nak, anakmu pasti akan segera ditemukan, kita tidak boleh menyerah, kita harus tetap semangat untuk mengejar para penculik itu," ujar ayah Dewanta.
Setelah sampai dirumah panggung dimana Zahwa ditemukan, polisi tengah memborgol dan mengintrogasi kakek dan nenek yang tadi bersama Zahwa.
"Katakan dimana komplotan para penculik itu bersembunyi," ujar pak polisi.
"Maaf pak kami sama sekali tidak mengenal para lelaki bertato tadi, kami tidak bermaksud menyerahkan Zahwa kepadanya. Saya tadi bermaksud melindungi Zahwa dari Abinya yang katanya jahat," ucap kakek itu pada polisi.
"Apa maksud kalian mengatakan saya jahat, " ucap Dewanta sambil mencengkeram kerah baju sang kakek. Polisi segera menenangkan Dewanta dan meminta kakek tadi untuk menceritakan kronologis pertemuannya dengan Zahwa.
"Saat saya sedang membrondol sawit (mencari sawit yang sudah terlepas dari tangkainya dan biasanya dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya) dengan istri saya, ada seorang wanita cantik menghampiri kami, sepertinya dia orang kaya.Dia mengatakan kalau nanti kami bertemu dengan anak kecil bernama Zahwa, dia minta tolong agar kami menjaganya. Karena anak itu sedang dicari-cari abinya yang akan dijadikan sandera agar dia mendapatkan harta gono-gini dari istrinya yang sedang menuntut cerai," ucap kakek itu. Dewanta mengamati wajah kakek dan nenek itu, ada ketulusan dari sorot matanya.
"Kalau namanya saya tidak tahu, tapi ciri - cirinya dia cantik, tinggi sekitar seratus enam puluh sentimeter, rambutnya hitam dan lurus, menggunakan mobil mewah," kakek itu menjelaskan.
Dewanta terkejut mendengarkan penjelasan kakek itu, karena itu merupakan ciri - ciri Fira dan yang selalu menggunakan mobil mewah di desa ini juga cuma Fira.
"Kalau memang itu Fira, apa maksud Fira melakukan semua ini?." Dewanta terus bertanya dalam hati. kemudian dia mengambil ponsel dalam saku celananya dan berselancar dimedia sosial untuk mencari akun milik Fira, setelah beberapa saat dia berselancar di media sosial akhirnya dia menemukan foto Fira.
"Apa orangnya seperti ini kek," Dewanta menyodorkan ponselnya pada sang kakek untuk memperlihatkan foto Fira yang dia dapat di media sosial. Seketika kakek itu langsung menganggukkan kepala. Polisi langsung melihat kearah ponsel Dewanta.
__ADS_1
"Siapa dia pak Dewanta," ucap salah satu polisi tadi.
"Dia mantan saya sebelum menikah dengan istri saya. beberapa waktu yang lalu dia datang ke rumah meminta saya menikahinya untuk menjadi istri kedua saya. Tapi saya menolak karena saya tidak ingin menyakiti hati istri saya," ucapku pada polisi. Sebagian polisi membawa kakek dan nenek tadi yang ternyata bernama nenek Sumilah dan kakek Warjo ke kantor polisi guna penyelidikan lebih lanjut.
Sedangkan aku, ayah dan beberapa polisi yang lain menuju ke villa yang terletak dipinggiran desa Padang Sawit yaitu tempat dimana Fira tinggal.
Saat kami semua siap melajukan kendaraan kami menuju kediaman Fira. dari arah kegelapan muncullah sebuah mobil mewah yang semua orang Tau kalau itu adalah mobil milik Fira seorang pengusaha Sawit yang sukses dari kota.
Mobil berhenti tepat dihadapan kami, beberapa detik kemudian pintu mobil bagian depan terbuka dan keluarlah Fira yang sedang menggendong Zahwa dan dia langsung menurunkan Zahwa. Zahwa langsung berlari menuju kerahku, kami langsung berpelukan, tangis Zahwa pecah dalam pelukanku.
"Abi, Zahwa kangen abi, Zahwa takut sama om jahat yang lengan dan lehernya ada gambarnya. Dia mau menangkap Zahwa untung ada tante Fira yang menolong Zahwa. Abi kenalkan ini namanya tante Fira, tante Fira kenalkan ini abiku,"ucap Zahwa sembari Menuntun Dewanta menuju kearah Fira.
"Fira, apa maksud kamu melakukan semua ini, kenapa kamu sekarang banyak berubah? apa ambisimu untuk memilikiku sudah membuat kamu jadi gelap mata," ucap Dewanta sangat marah, tangannya mengepal, wajahnya memerah, ingin rasanya menampar muka Fira, namun ia tidak ingin berbuat kasar pada wanita.
"Abi jangan marahi tante Fira, dia orang baik, dia sudah menolong Zahwa," Zahwa berteriak histeris sambil menarik-narik tangan Dewanta. Dewanta pun segera berjongkok untuk menyamai tinggi Zahwa.
"Nak, abi bukan lagi marah sama tante Fira, tapi kami sedang ngobrol dan beginilah cara orang dewasa ngobrol karena lama Tidak bertemu," Dewanta menjelaskan pada putrinya, dan dibalas anggukan olah Zahwa sebagai pertanda kalau dia faham akan maksud abinya.
"Sekarang Zahwa pulang ikut kakek ya, kasian umi sangat sedih karena kehilangan Zahwa. Sekarang kita temui Umi," kata pak Sukarta dan langsung menggendong Zahwa.
__ADS_1
"Dewanta, sebaiknya kamu urus aja semuanya. biar Zahwa ayah bawa pulang dengan dikawal beberapa orang polisi," ujar pak Sukarta.