Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 46. Pertemuan Dinda dan Tini


__ADS_3

(POV) Rupiah


Entah mimpi apa aku malam tadi, hari ini adalah hari yang tak pernah aku duga. Pagi-pagi sekali adik sepupuku Marni menelpon bahwa mama Fira calon besannya yang selama ini tinggal diParis akan datang untuk berkunjung kerumahnya sekalian meninjau tempat untuk acara resepsi perkawinan yang rencananya akan digelar didesa ini.


Marni meminta bantuanku untuk menyambut besannya. karena dia merasa grogi kalau harus menghadapinya sendiri.


"Mba datang ya, temani aku, aku bingung harus ngobrol apa sama calon besan, aku ini kan cuma orang desa tidak punya pengalaman apa-apa untuk bahan obrolan tidak seperti mbak yang besar dikota, apalagi mbak pernah punya teman seorang anak konglomerat," ucap Marni yang sepertinya begitu panik. Tanpa pikir panjang akupun menyetujui keinginannya. Sungguh tidak kusangka ternyata mama Fira adalah sahabatku Dinda anak orang kaya yang baik hati. Ternyata dia tidak Pernah berubah, dia masih Dindaku yang dulu.


Aku senang Dinda tidak pernah melupakan kenangan kita bahkan dia masih sangat menyukai kue hantaran tatak buatanku. Dia curhat panjang lebar tentang kekhawatirannya pada pernikahan Galih dan Fira sembari kami membuat kue hantaran tatak di dapur rumah Marni yang memang kebetulan bahannya lengkap.


Aku membawa kue yang sudah kami buat keruang tamu sambil melihat tamu yang baru datang yang katanya diundang oleh Marni.


"Oh ini ya mamanya Fira yang katanya tinggal diParis, selamat datang bu Dinda didesa kami, kenalkan saya Tini mamanya Santi" sapa tini salah satu kerabatku, sambil menyalami Dinda sahabat kecilku.


"Oh jadi kamu, mama dari anak yang membuat anakku beberapa kali menderita. Tolong kali ini, jangan ganggu hubungan Fira dan Galih Kasian dia, Fira selalu mengalami patah hati dalam setiap percintaannya. saya mohon biarkan kali ini dia bahagia. Kamu juga seorang ibu, kamu pasti merasakan bagaimana hancurnya hati seorang ibu kala menyaksikan suaminya menghianati dia karena ulah orang ketiga, yaitu anakmu. tolong nasihati putrimu agar dia mencari laki-laki lajang saja jangan istri orang karena itu akan menyakiti banyak pihak, " ucap Dinda sambil terisak dan menangis histeris. Aku langsung memeluk Dinda untuk menenangkannya. Sedangkan Tini langsung bersimpuh dan memeluk kaki Dinda.


"Maafkan saya bu, maafkan kelakuan anak saya, saya tahu kesalahan anak saya terlalu besar terhadap Fira, tapi mohon kiranya ibu sudi untuk memaafkan. Saya janji akan mendidik Santi dan cucu saya menjadi lebih baik lagi. Saya janji akan menjaga Santi agar tidak mengganggu rumah tangga Fira lagi, srooot...sroooot" Tini menangis sesenggukan sambil sesekali mengeluarkan cairan dari hidungnya dengan menggunakan ujung dasternya.


"Sudah-sudah saya maafkan kamu, tapi didik dan awasi anakmu jangan sampai mengganggu rumah tangga Fira dan juga rumah tangga orang di luar sana. Aku memaafkanmu bukan semata-mata percaya kalau Santi tidak akan mengganggu rumah tangga Fira. Tapi aku memaafkanmu karena aku jijik melihatmu membuang ingus sembarangan, "ucap bu Dinda sambil bangun dan mencari tempat duduk yang agak jauh dari Tini. Kulihat semua orang yang ada disitu mengulum senyumnya, hampir saja tawaku meledak, untung aku masih bisa menahannya.


Akhirnya kami bersama menikmati kue hantaran tatak buatanku sambil bersenda gurau hingga sore hari.

__ADS_1


Keesokan harinya kami bersama-sama berangkat melihat lokasi yang akan dijadikan tempat resepsi perkawinan Fira dan Galih. Kami menggunakan dua unit mobil. Mobil pertama adalah mobil Dinda, didalamnya ada supir, Dinda dan suaminya, aku dan suamiku serta Fira. Sedangkan mobil kedua adalah mobil Marni yang ikut didalam ada pak Warjito dan Marni, serta Tini.


Lokasi tersebut berada disebuah tempat wisata yaitu Wisata Air Panas, dimana disana pemandangannya sangat Indah sebuah kolam yang luas dengan air terjun sebagai latarnya.


Setelah sampai kami langsung menemui pemilik Wisata Air Panas untuk mengetahui sampai mana persiapan acara tersebut


Semua catering, meja kursi, pelaminan dan lain-lain sudah disiapkan oleh pemilik tempat wisata yang memang menekuni usaha dibidang itu juga. Begitu juga perias pengantin, fotografer dan lain-lain sudah siap semua, pokoknya kita terima beres.


"Rupiah ayo kita balapan renang seperti dulu, "ajak Dinda padaku. Aku terdiam sedikit shock, ternyata Dinda masih hoby berenang seperti waktu anak-anak. Aku sih tidak heran karena dia hidup dikota besar, kolam renang banyak, tinggal pilih saja. Tidak seperti aku yang tinggal dikampung, mana ada kolam renang, yang ada sungai yang sering digunakan orang untuk berbagai macam hal salah satunya adalah untuk MCK. sudah barang tentu ogahlah aku berenang disitu. Akhirnya akupun lupa bagaimana gaya berenang yang indah.


"Ayo Rupiah, kamu bengong aja, pasti enggak bawa baju renang, kita beli aja Biasanya kalau tempat wisata ada kolamnya, dia pasti menjual baju renang juga, " ucap Dinda sok tahu, sambil menarik tanganku hendak menuju tempat menjual perlengkapan renang.


"Bukan begitu Dinda, dengar dulu aku jelaskan," ucapku malu-malu.


"Begini Dinda, dengar dulu penjelasanku, jadi setelah aku pindah kekampung sampai sekarang aku tidak pernah berenang lagi bahkan aku lupa dengan gaya berenang yang dulu aku kuasai," ujarku malu-malu.


"Kok bisa kamu lupa gaya berenang sih Rupiaaah, bukannya dulu kamu pernah berjanji kalau kita akan selalu balapan renang setiap kali kita bertemu.


"Kalau gaya berenang di air dia memang sudah lupa bu, tapi kalau gaya berenang diranjang dia begitu jago bu, makanya saya samakin lama semakin cinta walaupun usia kita tak lagi muda, " seloroh pak Dodo suami Rupiah.


"Bapak jangan membuat ibu semakin malu pak, masa gaya berenang diatas ranjang kok di umbar ditempat umum," ucapku sambil mencubit pinggang suamiku. Dinda dan suaminya hanya senyam-senyum melihat kelakuan absurd kami berdua.

__ADS_1


"Ayooo semuanya mari kita berendam diair panas, biar semua daki dan dosa yang melekat ditubuh dan hati kita rontok semua, " seru pak Warjito. Bu Marni yang tengah duduk dibelakangnya langsung menoyor kepalanya.


"papa ini sudah tua ngomongnya asal, enggak malu sama calon besan, " bu Marni sewot. semua yang ada disanapun tergelak.


akhirnya mereka semua hanya santai melihat orang berendam di air panas, melihat orang berenang dan berbagai objek wisata lainnya hingga menjelang siang.


Puas dengan objek wisata yang ada di sana, kami semua pun menuju kafetaria untuk menikmati menu-menu tradisional yang merupakan menu favorit di tempat wisata ini.


"Disini menunya ada apa aja Rupiah," ujar Dinda sembari mencolek bahuku.


Disini berbagai macam gangan atau sayur, ada gangan asam, gangan umbut, gangan kaladi, ada aseng mandai ada juga oseng belut pedas kesukaan kamu dulu," ujarku sambil mengingat menu yang dijual disini.


"Entah sudah berapa puluh tahun aku tidak makan oseng belut buatan kamu, rasanya kalau ingat oseng belut buatan kamu air liurku mau menetes. Tapi waktu Fira pulang dari rumah Galih dia dibuatkan oleh-oleh oseng belut, katanya enak banget, apa itu kamu yang buat," tanya Dinda.


"Iya kebetulan Fira sama Galih pulang dari jalan-jalan membawa belut, dia minta dimasakkan, ya aku masak oseng-oseng pedas manis, bagaimana kalau aku pesankan kamu belut, nanti aku masakkan," ucapku pada Dinda. Tentu saja Dinda tidak menolak, Dinda memang sangat suka masakkanku.


pulang dari tempat wisata air panas mobil yang membawa aku dan Dinda singgah di desa Padang Gatah sedangkan mobil Warjito dan Marni langsung pulang.


Sekitar jam empat sore mobil Dinda memasuki Gerbang desa Padang Gatah. Selang beberapa menit kemudian kami sudah sampai dirumah pak Sasmito seorang peternak belut yang sudah tersohor didaerah sini.


********

__ADS_1


.


__ADS_2