Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 94. Penyesalan


__ADS_3

(POV) Retno


Pagi-pagi sekali aku sangat terkejut saat mengetahui bu Marni menelponku. Hal yang sama sekali tidak pernah dia lakukan selama dia menjadi besanku. Aku sangat terkejut dan hampir-hampir tidak percaya kalau Fira sekarang hamil, setahuku selama setahun dia menjadi istri Dion, dia tak bisa hamil bukankah itu artinya dia mandul.


Kalau memang dugaanku salah bahwa Fira mandul berarti aku telah salah langkah membuat Fira menggugat cerai Dion.


Seandainya waktu bisa diputar kembali, mungkin aku akan tetap mempertahankan Fira sebagai menantuku. Seandainya aku tidak buru-buru menyuruh Dion menikahi Santi sampai Fira benar-benar hamil mungkin saat ini aku masih berbesan dengan bu Dinda dan pak Langit seorang pebisnis terkaya nomor empat dipropinsi ini. Sungguh kami akan menjadi keluarga terpandang dan disegani oleh para kolega. Bagaimana orang tidak segan, seorang Dirgantara pebisnis handal berbesan dengan Langit Perkasa orang kaya raya yang bisnisnya tengah naik daun dikota ini.


Tidak seperti menantuku Yunian yang hanya seorang anak pedagang sayur dikampung, tidak terkenal sama sekali, dulu waktu dia baru datang kerumah ini aku sempat menyukainya dan bersyukur punya menantu seperti dia. Tapi setelah tahu dia sama sekali tidak bisa diandalkan di perusahaan, aku menjadi kurang simpati kepadanya. Tidak seperti Fira yang begitu lihai dan cerdas mengurus perusahaan karena dia keturunan orang ternama. Itulah sebabnya aku enggan kalau harus sering-sering bergabung dengan mereka, rasanya kok nggak level.


Tapi diacara syukuran tujuh bulanan Fira nanti aku pasti akan hadir. Pak Langit pasti akan menggelar acara putrinya dengan sangat mewah, akan ada banyak wartawan disana. Paling tidak dunia tahu kalau kami masih berhubungan baik walau tak lagi menjadi besan.


"Mama, tadi terima telepon dari siapa? " tanya suamiku yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk kecil ditangannya.


"Dari bu Marni pa, besan kita, dia mengundang kita untuk hadir dicara syukuran tujuh bulanan Fira," ujarku mendekati suamiku dan menyerahkan pakaian kerjanya yang sudah aku siapkan sedari tadi. Aku membantu mengenakan kemeja dan dasinya.


"Jadi Fira sekarang hamil, syukurlah kalau begitu, semoga bayi dan ibunya sehat hingga lahiran nanti, ikut bahagia papa mendengar berita ini." ujar Dirgantara suamiku sambil mengenakan celana bahan dan memasukan ujung kemejanya kedalam celana bahan.

__ADS_1


"Ayo kita makan," Setelah suamiku berpakaian rapi, dia menggandeng tanganku menuju meja makan.


"Dion dan Yunian mana, apa mereka sudah berangkat," tanya suamiku lagi.


"Mereka sudah berangkat kekantor pagi-pagi sekali. Mereka berencana secepatnya menyelesaikan pekerjaan kantor agar bisa berangkat lebih awal menuju desa Mentereng. Katanya sih Jordan sama Kiran kangen sama neneknya.


"Kadang aku kesel pada takdir kita pa!!... tidak ada satupun besan kita yang selevel dengan kita. Apalagi Yunian, cuma anak tukang Sayur dan kedua nenek dan kakek dari cucu kita Jordan dan Kiran juga cuma orang kampung. Kadang mama malu kalau teman-teman sosialita menanyakan tentang mereka. Dulu kita pernah punya besan orang tajir, yaitu pak Langit perkasa, tapi Fira putrinya yang jadi menantu kita tak juga kunjung hamil. Waktu itu mama ditanya terus sama teman-teman mama, akhirnya mama buru-buru menyuruh Dion menikahi Santi, agar dia cepat punya keturunan dan akhirnya berakhir tak sesuai rencana," ujarku sedih.


"Kini saat Fira tak lagi menjadi menantu kita, bahkan dia sudah menikah lagi, kok dia malah hamil. Harusnya Fira tuh.....hamil anak Dion, cucu kita. Bukannya hamil anak Galih, pemuda dari kampung yang tidak pantas menjadi menantu pak Langit Perkasa," sambungku lagi.


"Mama jangan seperti itu ma... dulu kan mama yang bersikeras meminta Dion menikah dengan Santi dan berakhir dengan kehancuran dikeluarga kita. Sekarang Dion sudah bahagia dengan Yunian dan Fira juga sudah bahagia dengan pasangannya. Seharusnya mama bersyukur karena sekarang tidak ada lagi yang sakit hati akibat perbuatan mama," ujar suamiku. Jawaban laki-laki yang telah puluhan tahun mendampingiku sungguh membuatku kesal. Bukannya dia mencari solusi dari apa yang terjadi saat ini, eh.... malah menyuruhku bersyukur.


"Mama ini ada-ada aja, daripada mikir yang enggak karuan, mending kita nikmati hari tua ini bersama anak dan cucu kita. Fira sudah bahagia jangan disesali kenapa dia dulu cerai sama Dion, itu karena keegoisan mama," ucap papa Dion dengan nada tinggi.


"Papa kenapa selalu menyalahkan mama, sebagai seorang ibu mama selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mama, " ucapku tak kalah ngegas.


"Enggak usah ngegas ma... dulu mama di ingatkan sama papa ngegas juga, sekarang mama menyesali perbuatan mama dengan cara ngegas juga. Ingat ma.. wajar seorang ibu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya tapi yang tidak wajar adalah perbuatan ibu yang mengorbankan perasaan orang lain demi kebaikan anak-anaknya, dan yang terbaik menurut mama belum tentu yang terbaik menurut anak kita. Mama telah menyakiti hati Fira hanya karena mama tidak sabar menunggu Fira hamil, padahal Fira hamil atau tidak itu diluar kemampuan Fira, dia cuma bisa menjalani saja. Sedangkan Tuhanlah yang menentukan semuanya. Sekarang atas kuasa Tuhan jualah Fira bisa hamil," ucap suamiku lagi.

__ADS_1


"Terus menurut papa sekarang apa yang harus mama lakukan, " aku mencoba melemah agar pertengkaran tak terus terjadi.


"Mama tidak perlu melakukan apa-apa karena tanpa mama melakukan apapun mereka baik-baik saja. Mama hanya perlu mensyukuri karena anak kita sudah menemukan kebahagiaannya masing-masing dan kita masih diberi umur panjang dan badan yang sehat," bicara dengan suamiku ternyata tak bisa merubah apapun. Aku pun segera masuk ke kamar dengan langkah kaki yang sengaja kuhentak-hentakkan.


Hari ini aku dan suamiku pun bersiap-siap untuk berangkat Ke desa Mentereng guna menghadiri acara syukuran tujuh bulanan kehamilan Fira. Dion dan Yunian sudah berangkat ke desa Mentereng, mereka akan menginap dirumah besanku.


"Papa, acaranya kan besok pagi, terus malam ini kita nginap dimana ya sebaiknya? " tanyaku pada suamiku.


"Ya nginap di tempat besanlah, mau dimana lagi, di situ tidak ada hotel," jawab suamiku.


"Apa tidak sebaiknya nginap tempat Dion saja didesa Padang Gatah, " ujarku berusaha memberikan pilihan pada papa Dion, sebenarnya aku males kalau harus tidur di rumah besan bercampur dengan banyak orang yang tidak selevel denganku.


"Ya.. Gimana mau menginap dirumah Dion, mereka saja nginap tempat besan, kita tadi tidak sempat pinjam kuncinya," sahut suamiku.


"Tapi di sana orangnya kan banyak, pasti kamarnya penuh, nanti kita tidur dimana pa, lagian setiap pagi aku kan selalu mandi air panas, dirumah besan pasti tidak ada air panas," ucapku.


" Mama!!.... sekali saja tidak mandi air hangat juga tidak apa-apa kan, " sahut suamiku yang nampak kesal.

__ADS_1


*******


__ADS_2