
(POV) Dewanta
Aku sangat terkejut dengan cerita Santo, tidak menyangka ada wanita yang begitu tega kepada sesamanya.
"Sebenarnya apa niat kamu mau menemani dia kemana-mana, apakah kamu memang menyukainya.
"Tentu saja tidak, aku sangat mencintai istriku, aku hanya kasian melihat dia. karena menurutku dia seorang janda, punya anak kecil, sementara suaminya meninggalkan dia dan tidak pernah memberikan kabar apapun. Aku hanya ingin berbuat baik namun kebaikanku disalah artikan. Dia fikir aku menyukainya. peristiwa ini adalah pengalaman pahit dan penyesalan terbesar dalam hidupku," cerita santo.
"Kok ada ya perempuan seperti itu, enggak habis pikir aku, apa dia tidak punya hati nurani, paling tidak dia harusnya berfikir, sebuah rumah tangga yang diawali dengan niat baik saja, terkadang banyak hal-hal yang tidak sesuai keinginan kita, apalagi rumah tangga yang dibangun dengan cara menghancurkan rumah tangga orang lain. belum ada penghianatan yang berakhir bahagia, seandainya ada itu hanyalah tampak dari luar saja. betul engga," Edi menimpali.
"Betul banget bro, seperti dalam kasusku ini, mungkin tujuan dia ingin merebut aku dari istri dan anak-anakku. Tapi apa yang terjadi, rumah tanggaku memang berhasil dia hancurkan, tapi tujuan dia untuk bisa memiliki aku Tidak terlaksana. karena aku tidak tertarik dengan wanita tak berahlak seperti dia,walau berulang kali dia mengejarku dan mengatakan cinta."
Aku Setuju dengan pendirian Santo, lebih baik jadi jomblo akut daripada menikah dengan wanita berhati busuk. Karena saat kita menikah dengan pasangan berhati baik pun banyak terjadi perselisihan dan pertengkaran terutama diawal pernikahan, karena diantara keduanya belum memahami karakter mereka masing-masing. Banyak terjadi kesalah pahaman, namun masing-masing mempunyai niat baik untuk menyesuaikan dan saling memahami karakter masing-masing. Selain itu cinta membuat kita terus berusaha memperbaiki diri agar bisa memantaskan diri untuk tetap berada disampingnya.
__ADS_1
Sedangkan jika menikah dengan wanita yang hanya mencari keuntungan saja. Maka tidak ada niat di hatinya untuk memahami karakter dan berusaha memperbaiki diri agar terus pantas menjadi seorang pendamping yang baik. Yang ada di benaknya adalah bagaimana caranya mendapatkan keuntungan dari hubungan yang sedang dijalani, entah itu keuntungan berupa materi maupun non materi.
"Terus sekarang bagaimana, kabar mantan istri dan anak-anakmu Santo? apakah kamu masih memberi nafkah" Zahra tiba-tiba menyela.
"Mereka ada didesa Mentereng bu. Desa dimana tempat kami berdua berasal dan dilahirkan. Kami sekarang sudah sama-sama menerima takdir kami masing-masing. Kalau istri menolak diberi nafkah karena dia merasa tidak berhak menerima nafkah dari saya. Apalagi sekarang dia sudah bisa membiayai hidupnya sendiri dari hasil menulis novel Online. Dia bilang mungkin ini adalah hikmah dari perpisahan kami. Rasa kecewa, marah, sedih dongkol ia curahkan dalam sebuah tulisan hingga akhirnya terfikir untuk membuat novel. Sekarang saya hanya memberi nafkah anak saya dan sisa gaji saya saya tabung untuk masa depan anak-anak. Sebenarnya sudah beberapa kali aku mengajak istriku untuk rujuk kembali. Namun dia masih menolaknya dengan alasan takut anak-anaknya dicelakai oleh wanita itu. Karena alasan dia berpisah adalah karena dia acap kali diteror kalau dia masih menjadi istriku maka anak-anakku akan dicelakainya" ucap Santo sedih. Aku pun berusaha memberikan nasihat kepada anak buahku agar mereka hati-hati berbuat baik kepada lawan jenis karena bisa menimbulkan fitnah. Alangkah baik nya kalau kita menjaga jarak atau interaksi dengan mereka agar tidak membuat hati istri merasa was-was dan cemburu.
"Kamu juga harus hati-hati Sama Juita Kak ,sepertinya dia menyukaimu, jujur aku sangat cemburu melihat cara dia menatap kakak, " Zahra istriku ikut bicara.
"Tuh, pak dengarkan ucapan istri dan pahami perasaannya. Jangan seperti saya. Dulu istri saya seringkali mengingatkan agar jangan terlalu sering bergaul dengan janda tetangga karena tidak baik dilihat orang. Tapi saat itu saya menganggap nasehat istri terlalu berlebihan karena saya hanya berniat membantu dia, tanpa disertai adanya perasaan cinta, apalagi niatan selingkuh. Saya juga tidak paham dengan perasaan istri bahwa saat itu dia sedang cemburu. Sekarang saya sangat menyesal, kenapa dulu tidak menuruti nasihat istriku. Andaikan dulu saya mengikuti nasihat istri saya, mungkin sekarang saya masih hidup bahagia dengan istri dan kedua anak saya" ujar Santo.
"Ini juga berlaku buat kamu Edi, yang masih bujangan, "ucap Santo.
"Lho aku kebagian juga, " ucap Edi sambil bangkit dari duduknya dan berpindah keposisi yang lebih dekat dengan kami.
__ADS_1
"Bukannya kamu kebagian, tapi memang sengaja dibagi, agar kamu kelak tidak mengulang kebodohanku karena namanya belajar tidak harus dari pengalaman hidup sendiri. Melainkan juga bisa dari pengalaman hidup orang lain," ucap Santo, dan dibenarkan oleh semua.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan, waktunya kami berangkat ke kebun untuk bekerja. Aku lihat Zahra dan Zahwa sudah siap akan berangkat kesekolah. Mereka kemudian pamitan padaku dan mencium punggung tanganku. Akupun mencium kening orang-orang tersayangku.
Setelah Zahra dan Zahwa berangkat, aku, Edi dan Santo pun berangkat ke kebun, rencana kami akan mendodos sawit hari ini. Karena Edi tidak membawa kendaraan, diapun ikut membonceng denganku.
Sesampainya dikebun para pekerja sudah menungguku. Mereka sedang menunggu arahan dariku mengenai apa yang akan dikerjakan hari ini. Kulihat Juita berjalan mendekatiku.
"Pak saya minta maaf, karena saya sudah bohong sama bapak, kalau kendaraan saya rusak, sebenarnya tidak ada maksud apa-apa, saya hanya ingin menghemat bensin, maklum lah pak berapa sih penghasilan seorang pembrondol sawit," ucap Juita mengiba.
"Tolong jaga jarak dengan saya Juita, saya ini laki-laki beristri, saya harus menjaga perasaan istri saya, takutnya istri saya cemburu.
"Apa setiap laki-laki beristri selalu lemah dan takut kepada istri. Padahal diakan seorang kepala keluarga, dia yang ngasih duit istri, dia yang kerja keras. Seharusnya seorang suami punya kebebasan untuk bersenang-senang dengan siapapun termasuk dengan wanita lain sebagai imbalan atas kerja kerasnya dalam mencari nafkah," ucap Juita. Kulihat Santo yang berdiri didekatku mulai emosi. Dia ingin bicara, namun segera aku potong.
__ADS_1
"Sudahlah Juita, tidak usah memancing emosi kami kaum adam. Kamu kan belum pernah menikah, jadi tidak tahu rasanya bagaimana kalau suamimu ngobrol dan bergaul dengan wanita lain. Sekarang lebih baik kamu cepat bekerja, biar dapat brondolan banyak jadi penghasilanmu pun meningkat. Dari tadi bukannya mengeluh masalah penghasilan. Dan ingat besok kalau kamu masih ingin bekerja pada saya, sebaiknya jangan memakai pakaian seksi saat bekerja, karena pakaianmu tidak pantas dibawa bekerja. Sudah saya kira itu saja yang saya sampaikan" Juita pun akhirnya pergi meninggalkanku dengan muka merah, sepertinya dia amat marah bercampur malu.
******