Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 35. Keluarga Harmonis.


__ADS_3

(POV) Fira


Hampir saja tawaku lepas namun masih sempat aku tahan, ketika mendengar kata-kata bude Rupiah tentang aku. Mas Galih yang awalnya terlihat emosi pun seketika hampir tersenyum.


Tingkah bude Rupiah benar-benar membuat gemas. Hari ini aku bertemu dengan orang-orang yang dijadikan tempat curhat oleh Santi untuk melampiaskan sakit hatinya kepadaku. Namun aku sangat bersyukur tak satu pun dari mereka percaya dengan ucapan Santi. Rupanya Tuhan sedang menunjukkan kuasanya. Dimana orang-orang yang telah berbuat zalim kepada sesamanya kini tengah menerima balasan yang setimpal.


Tampaknya nasib baik pun tengah berpihak kepadaku. Hari-hariku yang dulu terasa hampa kini terasa indah semenjak berkenalan dengan mas Galih.


"Fira ayo kita pulang, ini sudah jam delapan, kasian mama pasti kangen nungguin kita," ucap mas Galih. Aku segera bersiap-siap untuk pulang.


"Ini oseng belutnya, jangan sampai ketinggalan dan yang sebungkus lagi kue hantaran tatak, kebetulan tadi siang bude buat kue," ucap bude, tangannya menyerahkan dua bungkusan plastik Kepadaku. Dengan senang hati aku menerima dua bungkusan itu. Oseng belut buatan bude Rupiah ternyata rasanya sangat nikmat, rasanya asin, manis, pedas dan gurih, pokoknya bikin nagih. Aku segera menyalami dan mencium punggung tangan bude dan pakde. begitu pun Gilang.


"Gilang!, salam ya buat papa dan mamamu," bilang ya pada mereka bude dan pakde belum bisa main kesana, Soalnya sibuk sekali," ucap bude Rupiah dan dibalas anggukan oleh Mas Galih.


Setelah berpamitan aku dan mas Galih segera pulang.


"Bude Rupiah ternyata lucu juga orangnya ya, aku bersyukur karena keluarga mas Galih tidak percaya cerita Santi, andaikan mereka percaya mungkin aku sudah pulang dari desa ini," ucapku pada mas Galih.


"Seandainya kamu pulang meninggalkan aku, mungkin aku akan menyusulmu. Jika aku telah jatuh cinta maka aku akan memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan," ucap Galih.


"Kenapa waktu kamu jatuh cinta dengan Zahra tidak kamu perjuangkan," cicitku.

__ADS_1


Karena mereka telah mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan dan manusia dalam sebuah pernikahan. Aku tidak mau menjadi penghancur rumah tangga orang. Akan banyak hati yang tersakiti nantinya bila aku nekat melakukan itu.


Ucapan mas Galih membuat aku teringat apa yang telah aku lakukan terhadap keluarga Dewanta. Setelah beberapa lama kami berkendara, akhirnya kami sampai dirumah mas Galih. Saat memasuki ruang tamu, om Warjito dan tante Marni sedang bersantai diruang tamu.


"Assalamualaikum Alaikum," ucapku dan mas Galih secara bersamaan, kami saling memandang dan akhirnya tersenyum bersama. Aku dan mas Galih lalu mencium kedua Tangan orangtua yang ada dihadapanku.


"Wa allakum sallam, wajah kalian kelihatan bahagia sekali, apa perjalanan kalian menyenangkan, jalan kemana aja tadi," ucap tante Marni.


"Kami habis jalan-jalan keliling ma...kerumah kak Yunian, kerumah bude Rupiah, kewisata air panas. Tapi yang membuat Galih sangat bahagia, karena hari ini Galih dan Fira sudah Jadian," ucap Galih dengan penuh semangat.


"selamat ya, anak mama akhirnya punya pacar juga, semoga hubungan kalian bisa berlanjut hingga sampai ke pernikahan, selamat juga ya Fira, tante senang akhirnya kamu menerima cinta anak tante yang tidak seberapa ganteng ini, "ucap tante Marni tidak kalah semangat.


"Kapan papa bisa melamar Fira pada orang tuanya, " Sela pak Warjito yang dari tadi hanya diam.


"Tapi kalau menurut mama sih, kalau bisa jangan terlalu lama kalian meresmikan hubungan kalian. Kasian Fira sudah Lama tidak dipake. Soalnya Fira kan sudah pernah menikah, sudah tau rasanya, dia pasti sudah tidak sabar ingin merasakan kembali, ya enggak FIra?, Tidak seperti Galih yang masih polos dan tidak tahu apa-apa, makanya dia santai," aku tidak menyangka tante Marni akan berucap seperti itu. Aku sangat malu dengan ucapan tante, tapi emang benar sih ucapan wanita dihadapanku ini. Tadi saat Galih memelukku, gairahku sempat bangkit, untung mas Galih tidak melakukan hal yang berlebihan. Seandainya dia memperlakukan aku lebih dari itu, mungkin aku tidak akan sanggup menahannya. Tapi justru dari situlah aku sadar kalau aku telah jatuh cinta kepada mas Galih.


"ya kan Fira?" Tante Marni menyentuh pundakku dan menggoyangnya. Aku terkesiap dan tersenyum malu karena ucapan tante Marni seratus persen betul.


"Tuh kan Galih, Fira langsung teringat sesuatu yang selalu membuatnya ketagihan," ucapan tante Marni semakin membuat wajahku memerah.


"Sudahlah mama, berhenti menggoda Fira, Galih akan usahakan secepatnya menghalalkan Fira, tapi semua itu kan ada aturannya , tidak asal panggil pak penghulu, " ucap mas Galih.

__ADS_1


"Syukurlah akhirnya kamu mengakui, kalau sebenarnya kamu juga sudah tidak tahan, tapi malu mengakui malah mengatas namakan Fira," sahut om Warjito dan disambut gelak tawa mereka sekeluarga. Sungguh suasana yang begitu harmonis, aku tidak pernah merasakan indahnya bercengkerama dengan keluarga. Pantas selama ini mas Galih sering pulang kampung karena rindu dengan keluarga. Tidak seperti aku yang bertemu orang tua entah berapa tahun sekali dan saat bertemu pun suasananya biasa-biasa saja.


Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menjadi bagian dari keluarga ini. Agar aku tak lagi merasa hidup sebatang kara walau sebenarnya masih mempunyai keluarga yang lengkap dan hidup bergelimang harta.


Hidup sederhana namun sering berkumpul seperti keluarga mas Galih ternyata sangat menyenangkan.


"Oh ya, tante besok rencananya Fira mau pulang ke kota karena sudah beberapa hari meninggalkan pekerjaan," ucapku pada papa dan mama mas Galih.


"nggak bisa ditunda beberapa hari lagi, soalnya mama kan masih ingin ngobrol banyak sama kalian," ucap tante marni memohon.


"Tidak bisa ma, kasian Fira terlalu lama meninggalkan pekerjaan. Galih janji kalau nanti Fira ada waktu, Galih akan membawa calon mantu mama ini untuk main ke desa ini," ucap mas Galih sembari memeluk tante Marni dari belakang.


"Kamu tidak boleh iri ya Fira, sama tante kalau Galih peluk-peluk tante, karena biar bagaimana pun tante itu cinta pertama Galih dan kamu hanya cinta kedua. Tapi walaupun kamu cuma cinta kedua Galih, kamu juga yang akan memiliki Galih seutuhnya. Waktu Galih akan lebih banyak bersamamu dan anak-anakmu kelak. Dan tante ikhlas demi kebahagian anak dan keturunan kami, " ucap tante Marni.


Mendengar kata anak, kembali keyakinanku untuk hidup bahagia dengan orang yang aku cintai luruh seketika. Aku hanya tertunduk menahan air mata.


Galih segera menyentuh bahu mama untuk memberinya isyarat.


"Maaf Fira, mama tidak akan menuntut apapun dan tidak akan mempermasalahkan jika suatu saat kalian tidak dikaruniai seorang anak. Karena menurut mama punya anak atau pun tidak, kita harus tetap bahagia. Tidak usah kamu dengar omongan orang yang terkadang menyesatkan.


Memang jika ada pasangan tidak mempunyai anak, sering kali istrilah yang selalu di salahkan, mereka lupa kalau semua itu takdir dari yang kuasa.

__ADS_1


*******


.


__ADS_2