
(POV) Santi
Dipagi yang cerah ini, secerah hatiku tuk menatap masa depan yang lebih indah dan bahagia. Menaklukkan segala rintangan dan hambatan yang menghadang dihadapan. Mengendalikan segala emosi dan ambisi yang akan membawaku kejurang kehancuran.
Aku melajukan kendaraanku menuju desa Padang Sawit, melewati jalan berdebu dan berbatu. Sementara hamparan hijau perkebunan sawit dan perkebunan karet yang aku lewati menjadi saksi bisu, atas tumbuhnya semangat baru dalam jiwaku tuk meninggalkan masa laluku yang buruk dan menyongsong kehidupan yang cerah secerah hatiku saat ini.
Tepat pukul sepuluh pagi sampailah aku di kediaman pak Dewanta dan ibu Zahra. Ternyata rumah pak Dewanta sangat ramai. Akupun bertanya kepada salah satu warga yang baru saja ingin meninggalkan rumah pak Dewanta, ada acara apa gerangan disana.
"Kami baru saja menghadiri acara tasmiyah dan aqiqah putra pak Dewanta yang setengah bulan lalu dilahirkan," ujar seorang ibu-ibu yang aku tanya barusan.
Akupun menunggu beberapa saat sampai orang-orang yang menghadiri acara dirumah pak Dewanta pulang. Setelah rumah beliau terlihat sepi. Dengan hati berdebar, aku memberanikan diri untuk mendatangi rumah beliau dengan tujuan hendak meminta maaf.
Setelah pintu diketuk, muncullah seorang ibu setengah baya menatapku penuh tanya.
"Kamu siapa? apa kami telah mengundangmu, " tanya wanita itu.
"Maaf bu kenalkan nama saya Santi. saya kesini ingin bertemu pak Dewanta dan bu Zahra untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah saya lakukan kepada beliau berdua," ucapku seraya tertunduk untuk mengumpulkan keberanian.
__ADS_1
"Silakan duduk nak, tunggu sebentar saya panggilkan anak dan menantu saya," jawabnya sambil berlalu pergi meninggalkanku. Aku pun duduk disofa menunggu kedatangan mereka. Tak lama kemudian pak Dewanta dengan memakai baju koko dan peci warna putih dan bu Zahra dengan memakai baju kebaya panjang warna putih duduk dihadapanku. Mereka tampak sangat serasi. Dengan segenap keberanianku, aku mulai membuka pembicaraan.
"Terimakasih bu Zahra dan pak Dewanta atas waktunya. Saya kesini untuk meminta maaf pada pak Dewanta dan bu Zahra. Karena saat saya bekerja pada pak Dewanta pernah berniat merusak rumah tangga bapak dan ibu. Sungguh sangat memalukan perbuatan saya itu. Untung pak Dewanta laki-laki yang setia kepada istri dan keluarga sehingga tidak terpikat rayuan busuk saya. Saya sangat menyesal telah melakukan perbuatan hina itu. Mulai sekarang saya ingin memulai kehidupan baru untuk menjadi lebih baik. Untuk itulah saya meminta maaf kepada semua orang yang pernah saya sakiti," ucapku sembari tertunduk. Aku menanti jawaban pak Dewanta dan bu Zahra, aku sangat mengharapkan maaf dari beliau berdua. Tapi seandainya beliau berdua tidak mau memaafkan aku, aku harus legowo, menunggu sampai kapan pun pak Dewanta dan bu Zahra memaafkan aku.
"Alhamdulillah akhirnya kamu menyadari kalau perbuatanmu itu hina sekali. Untung aku bukan lelaki murahan yang begitu mudah tergoda oleh perempuan kesepian seperti mu. Walaupun sulit rasanya untuk melupakan perbuatanmu yang begitu menjijikkan, tapi karena kamu sudah menyadari kesalahanmu. Jadi sudah selayaknya saya berusaha untuk memaafkanmu, " ucap pak Dewanta seraya memandang istrinya dengan pandangan yang aku tak mengerti apa maksudnya.
"Syukurlah kamu telah mendapatkan hidayah hingga kamu sadar kalau perbuatanmu itu salah dan merendahkan harkat dan martabatmu sebagai seorang perempuan dan apa yang kamu lakukan juga telah membuat para perempuan disekitar kita merasa malu. Aku memaafkanmu Santi, terus semangat ya, untuk menjadi orang baik agar ridho Allah senantiasa engkau dapatkan," ucap bu Zahra sembari merangkulku dan menggenggam tangan ku.
"Terimakasih pak Dewanta dan bu Zahra, karena kalian telah sudi memaafkan kesalahan ku yang begitu memalukan. Aku berjanji akan berusaha menjadi orang baik, agar tidak ada orang yang tersakiti oleh kehadiranku.
Urusan meminta maaf didesa Mentereng, Padang Sawit, Padang Gatah dan sekitarnya telah selesai. Mereka memang orang baik sehingga sesakit apapun luka yang pernah aku torehkan dihati mereka, tetaplah mereka maafkan.
Hari ini aku akan berangkat ke kota untuk menemui Fira dan Galih juga Juita untuk meminta maaf sekalian aku akan melamar kerja di kota. Aku juga sesekali akan mengunjungi Kiran jika sudah mendapatkan pekerjaan
"Makan dulu Santi ini ibu sudah masak nasi goreng kesukaanmu. kamu jadi hari ini berangkat ke kota," tanya ibu, kalau sudah dapat pekerjaan di kota jangan lupa sesekali pulang dan menjenguk ibu yang sudah tua ini ya nak, ibu mohon jangan lupakan ibu dan ayah hu... hu... " tiba-tiba ibu memelukku dan tangisnya pecah tanpa mampu dia tahan lagi.
"Ibu tidak perlu khawatir, mana mungkin Santi melupakan ibu dan ayah, Santi lho sayang banget sama kalian berdua," ucapku seraya membalas pelukan ibu.
__ADS_1
"Ibu ini terlalu lebay, mana bisa Santi melupakan kita, sejauh apa pun dia merantau meninggalkan kita, dia pasti pulang, dia pasti rindu pelukan ibu, "ujar ayah seraya menepuk-nepuk pundakku.
Selanjutnya kami pun makan Bertiga sambil berbincang ringan di selingi canda dan tawa. Selasai makan aku langsung menyiapkan sepeda motor metik milikku. Biasanya jika aku ke kota aku tidak pernah menggunakan sepeda motor. Jika harus bepergian dikota, aku selalu menggunakan jasa taksi Online. Tapi saat ini. aku tidak perlu gensi menggunakan sepeda motor, karena dengan adanya sepeda motor aku bisa lebih berhemat dan lebih leluasa jika hendak bepergian. Toh sekarang aku ke kota ingin mencari pekerjaan dan tidak ada niat yang aneh-aneh.
Menjelang setengah hari aku sudah sampai dikontrakan tempatku dulu tinggal, sewaktu masih sekolah. Segera aku menemui ibu pemilik kost yang mungkin tak lagi mengenaliku.
"Maaf mbak, ada keperluan apa, kiranya mbak datang kasini, " ujar ibu kost yang sepertinya sudah tidak mengenaliku lagi.
"Saya Santi yang dulu waktu sekolah saya ngontrak disini bu, dulu baju seragam saya yang paling kentat diantara baju seragam anak sekolah yang lain," ujarku mencoba mengingatkan ibu kost. Sejenak ibu kost pun berfikir.
"Kamu Santi yang dulu genit Kan?," sahut ibu kost. Dengan malu-malu aku pun mengiyakan ucapan ibu kost.
"Apa masih ada kamar kosong bu, saya mau kost disini kalau masih ada kamar yang kosong," sengaja aku hanya menyewa sebuah kamar seperti anak sekolah agar lebih hemat, toh aku hanya sendiri.
Kali ini aku beruntung, kamar yang aku inginkan ternyata dalam posisi kosong. Ibu kost pun langsung mengantarkanku kekamar yang aku sewa, setelah itu aku membayarnya untuk kurun waktu tiga bulan. Saat di dalam kamar, segera aku susun beberapa lembar baju yang aku bawa dari kampung. Aku memang hanya membawa baju sedikit karena aku akan hidup sederhana saja.
**********
__ADS_1