Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 19. Ketemu Mantan


__ADS_3

(POV) Fira


"Seandainya aku ketemu lagi dengan Dewanta, mungkin aku akan bersedia jika dijadikan istri kedua. Dia menikah sama istrinya kan karena dijodohkan. Mungkin dia sekarang tidak bahagia atau pura-pura bahagia dan pura-pura mencintai istrinya demi menyenangkan istri dan orang tuanya. Maka dengan kehadiranku, aku akan mencintai dan membahagiakan dia sepenuh hati. Tapi disisi lain aku juga tidak ingin menyakiti hati istrinya, biar bagaimanapun kami sama-sama wanita," ucapku.


"Iya bener juga sih, tapi sebenarnya sih resiko dia, menikah dengan laki-laki yang tidak dicintai," ucap bu Watinem. Aku melihat bu Zahra salah tingkah, wajahnya terlihat memerah, mungkin dia mempunyai kisah yang sama denganku.


"Tapi ngomong-ngomong kok mantan pacarnya bu Fira sama dengan nama suaminya bu Zahra ya, tapi rasanya nggak mungkin kalau mereka orang yang sama karena suaminya bu Zahra kan asli orang desa Padang Sawit, dia lahir dan dibesarkan di desa Padang Sawit sedangkan mantan pacar bu Fira orang kota," ucap bu Watinem.


Fira merasa kaget dengan keterangan bu Watinem kalau suami bu Zahra bernama Dewanta dan suami bu Zahra yang aku lihat tempo hari juga suaranya mirip Dewanta mantan aku, sayang aku tidak sempat melihat wajahnya. Aku lihat bu Zahra juga salah tingkah, apa ada sesuatu yang dia sembunyikan.


"Oh iya, dalam minggu-minggu ini adik saya kan mau menikah, kebetulan acara resepsinya adalah hari minggu," ucap bu Lastri.


"Terus kalau hari minggu resepsinya kenapa bu Lastri?," tanya bu Watinem.


"Saya mau ngundang semua ibu-ibu wali murid dan semua ibu guru untuk hadir di acara resepsi pernikahan adik saya bu, tapi kalau sebelum hari minggu mau datang yang bagus-bagus aja, untuk bantu masak-masak, sekalian ajak anak dan suaminya ya ibu-ibu, tapi suami sendiri lho bukan suami tetangganya," ucap bu Lastri seraya tersenyum memperlihatkan giginya yang putih.


"Bu Lastri ini bisa saja, mentang-mentang saya enggak punya suami, kalau saya ngajak suami tetangga, bisa-bisa muka saya bonyok duluan tidak jadi ke acara pengantin," ucapku untuk meramaikan suasana.


Hari minggu aku dan Yanti menghadiri acara resepsi perkawainan adik dari ibu Lastri. Aku sangat kagum dengan semangat gotong royong warga Padang Sawit. Bagaimana tidak, acara resepsi perkawinan yang begitu meriah tanpa menggunakan jasa EO. Semua murni dilakukan oleh warga desa Padang Sawit secara gotong royong, mulai dari memasang tenda, memasak aneka masakan, memasak nasi, menyuguhkan makanan hingga cuci piring.

__ADS_1


"Ini persiapannya berapa hari bu," aku bertanya pada bu Hilmah salah satu guru PAUD.


"Sekitar tiga hari sebelumnya bu, jadi sekitar tiga hari berturut - turut sebelum dilaksanakan acara para ibu-ibu dan bapak berduyun-duyun datang ketempat orang yang punya hazat untuk membantu segala pekerjaan. Para bapak-bapak mendirikan tenda, dan pekerjaan laki-laki lainnya. Sementara ibu-ibu memasak nasi, kue sayur lauk dan lain-lainnya. Memang kemarin bu Fira tidak kesini," ucap ibu guru Hilmah.


"Tidak bu saya masih kurang paham adat istiadat didesa ini," jawabku.


"Lain kali kalau ada acara kawinan datang bu sebelum hari H. Namanya melawat, biasanya kita membawa buah tangan untuk membantu memenuhi kebutihan yang sedang punya acara bu, seperti gula, teh telor atau beras seikhlasnya saja, seru kok bu, nanti bareng sama saya," ucap ibu Guru Hilmah. Aku pun mengangguk0


setuju.


"Ayo kita makan bu, kita ke stand makanan," bu guru Hilmah mengajakku mengambil makanan. Ternyata terdapat banyak pilihan makanan khas daerah sini yang belum pernah aku coba. Aku baca papan nama makanan didepanku"gangan umbut" aku ingin mencobanya, saat aku mengambil gangan umbut ternyata seorang pria tampan mau mengambil gangan umbut juga dan secara tidak sengaja tangannya menabrak tanganku sehingga gangan umbutku tumpah mengotori gaun yang aku pakai.


"Maaf bu, saya tidak sengaja," aku segera memalingkan muka kearah suara pria yang sepertinya tak asing bagiku.


"Iya, kamu ada disini Fira, bagaimana kabarmu, kenalkan ini anakku Zahwa dan ini istriku Zahra, sayang kenalkan ini Fira," tangan mas Dewanta menarik tangan Bu Zahra guru PAUD disekolah Dianti. Aku dan bu Zahra pun bersalaman dan saling bertegur sapa. Rupanya merekalah keluarga harmonis yang aku lihat saat pertama kali aku mengantarkan Dianti ke sekolah.


"Bu Fira sama kak Dewanta sudah saling kenal," tanya Zahra. Zara dan Dewanta mengajak aku ngobrol sambil makan dikursi kosong yang tidak jauh dari kami berdiri.


"Iya sayang dia mantan aku yang dulu pernah aku ceritakan ke kamu. Tapi itu cuma masa lalu sayang. Sekarang aku sudah punya kamu dan Zahwa, Fira juga mungkin sudah punya seseorang yang dia cinta," iya kan Fira," ucap Dewanta yang hanya kubalas dengan tersenyum getir.

__ADS_1


"Selamat ya mas, ternyata langkahmu untuk berpisah denganku dan menerima jodoh yang dipilih orang tuamu adalah langkah yang benar, sekarang hidupmu begitu harmonis, finansialmu juga sepertinya mapan," ucapku sambil susah payah menelan saliva karena kerongkonganku terasa kering. Dewanta tersenyum, senyum yang dulu begitu menggetarkan hatiku hingga sekarang. Angan-anganku melayang mengingat kebersamaan kami dulu.


"Dulu aku dan Zahwa menikah tanpa ada rasa saling cinta, bahkan kami merasa asing satu sama lain, ya kan sayang," tangan Dewanta menggenggam tangan istrinya.


"Kami berdua sama-sama punya niat menikah karena ibadah, menikah karena Allah. Aku dan Fira sama-sama tahu kewajiban dan kita sebagai suami istri. akhirnya rasa cinta itu tumbuh," ucap Dewanta.


"Kamu bagaimana Fira, apa kamu sudah menikah," tanya Dewanta.


"Aku sudah bercerai empat tahun yang silam," ucapku sedih.


"Maaf pertanyaanku membuatmu sedih. aku doakan semoga kelak kamu secepatnya ketemu jodoh,"ucap Dewanta.


"Ibu...Dianti sudah selesai makan, ibu kok makan disini, enggak bareng kita," Dianti memanggilku. Ini kesempatan aku untuk pergi dari sini, rasanya aku tidak tahan dengan kemesraan mereka. Aku langsung pamit pada Dewanta dan istrinya.


Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam saja, rasanya hatiku sakit sekali menyaksikan pemandangan tadi. Aku tidak menyangka Dewanta begitu mudah jatuh hati pada perempuan lain. Tapi perempuan itu istrinya, wajar kalau dia mencintainya.


Beberapa tahun ini aku sudah melupakan Dewanta, bahkan saat menikah dengan Dion. Tapi kenapa akhir-akhir ini cintaku pada Dewanta seolah hadir lagi, berusaha tumbuh walau ditempat yang tidak tepat.


Apa yang harus aku lakukan dengan perasaanku ini. jika aku memendamnya dan mendiamkan begitu saja, maka hatiku teramat sakit. Jika aku mengungkapkannya, akan banyak hati yang tersakiti, Fatimah, Zahwa dan kedua orang tua Dewanta dan Fatimah.

__ADS_1


Saat ini aku hanya mampu memendam perasaanku dan mengungkapkan dalam doa. Sampai kapan aku harus bertahan dengan rasa sakit ini.


"Bu sudah sampai ayo turun, ibu kenapa diam aja, ibu sakit," tanya Yanti sembari turun dari mobil yang dikemudikan oleh Diono sambil menggendong Dianti yang tertidur nyenyak, akupun ikut turun mengekor dibelakangnya.


__ADS_2