
Selesai melaksanakan akad nikah seluruh anggota keluarga yang hadir dipersilakan untuk istirahat. Acara pernikahan dihadiri oleh seluruh keluarga Fira dan Dion serta masyarakat sekitar villa. Kini seluruh masyarakat yang hadir pulang ke rumahnya masing-masing dan akan hadir kembali besok untuk acara resepsi pernikahan. Sementara seluruh keluarga menempati kamarnya masing-masing. Villa pak Dirgantara sangat besar dan mewah, didalamnya terdapat lebih dari dua puluh kamar, sehingga mampu menampung seluruh anggota keluarga yang hadir.
Dion dan Fira melangkah memasuki kamar pengantin dengan di antar oleh beberapa bridesmaid atau pengiring pengantin. Setelah Dion dan Fira masuk kedalam kamar pengantin. Para bridesmaid pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Dion segera menuntun istrinya menuju ranjang pengantin. Fira terlihat gugup dan salah tingkah, dia hanya menunduk mengikuti arah langkah Dion.
"Fira sayang, kali ini aku akan menepati janjiku padamu yaitu ingin menyuntikmu dengan menggunakan jarum yang besar yang konon rasanya enak sekali dan bikin ketagihan," ucap Dion seraya tersenyum untuk menghilangkan rasa gugup.
"Iya Dion, aku sudah sangat penasaran bagaimana sih rasanya," ucap Fira yang juga tidak kalah gugupnya dengan Dion.
Sebelum Dion menyuntik Fira dengan jarum yang besar, terlebih dahulu mereka melepaskan gaun pengantin dan berganti gaun yang terlihat santai. Kemudian mereka melaksanakan shalat Zuhur dan shalat sunah.
Fira menyalami dan mencium punggung tangan Dion dan dibalas pelukan dan ciuman bertubi-tubi oleh Dion, kemudian Dion membacakan doa dan meniup ubun-ubun istrinya sebanyak tiga kali.
Fira terkesiap saat Dion mengangkat tubuh Fira dan membawanya ke pembaringan.
"Apaan sih kamu Dion, buat aku kaget aja," ujar Fira dengan gaya manjanya. Tangannya langsung dikalungkan keleher Dion.
"Mulai sekarang panggil aku sayang dong, jangan panggil nama, biar aku serasa jadi suami seutuhnya, bukan suami tetangga," ucap Dion yang membuat tawa Fira pun pecah berderai.
"Iya...iya deh!!...duuuh...yang merasa tak dianggap, maaf yah sayang," jawab Fira sembari terus mengeratkan pelukannya. Dion kemudian membaringkan tubuh Fira diatas ranjang yang mewah bertaburkan mahkota bunga mawar yang wanginya begitu semerbak.
__ADS_1
"Udah siap mau disuntik," tanya Dion dengan raut wajah yang sulit diartikan. Tangannya dengan sigap melucuti pakaiannya sendiri. Fira hanya bengong mendengar pertanyaan dan melihat tingkah laku suaminya.
"Jarum besarnya mana sayang," untuk menghilangkan rasa penasarannya akhirnya Fira pun bertanya. Namun jawaban Dion hanya sebuah senyuman dan tangannya menunjuk kearah juniornya.
Dengan tersipu malu Fira akhirnya menyadari kepolosannya, dia menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, tawanya pun pecah tanpa bisa dia tahan. Namun Dion segera memeluknya dan sembari berbisik.
"Ayo kita mulai mencetak Qiani dan Qiano," tangan Dion terus menyingkirkan seluruh kain yang menutup tubuh Fira. Sang pengantin kini hanyut dalam lautan madu-madu perkawinan yang telah lama mereka nantikan. Tak perduli diluar keluarga mereka saling bercengkerama, saling bertukar kabar dan asyik menikmati hidangan yang begitu lezat. Entah mereka sadari atau tidak, dikamar mewah sepasang suami istri yang baru saja mengikrarkan janji suci, sedang menjalankan tugas pertamanya untuk memberikan kenikmatan surga dunia yang selama ini membuat penasaran tentang bagaimana rasanya.
Setelah sekitar satu jam mereka menuntaskan hasrat yang begitu nikmat. Sebuah kenikmatan yang selalu ingin diulang lagi dan lagi.
"Terimakasih sayang, bagaimana rasanya disuntik dengan jarum yang besar, enak engga?, pasti kamu pingin lagi deh!!," ucap Dion sembari memeluknya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Fira lagi dan lagi hanya tersenyum dengan muka merah padam. Dia ingat jelas dengan apa yang telah dilakukan Dion kepadanya, yang membuat darahnya berdesir hansrat kembali memuncak. Dia peluk suaminya dengan erat, menekan bagian dadanya yang motok dan menggeseknya perlahan. Tangannya tak mampu lagi dikondsikan. Terus meraba mencari titik-titik sensitif yang ada ditubuh lelaki tercintainya. Petualangan cinta pun terus berlanjut.
Tok....
Tok....
"Ayo sayang cepet, kasian mama kelamaan menunggu. Ucap Fira sedikit panik, Sebenarnya Fira pun enggan mengakhiri permainan mereka yang sudah mendekati puncak. Tapi dia sungkan karena mama mertuanya terus memanggilnya.
"Abaikan saja sayang nanggung," Dion terus melanjutkan aktivitasnya tanpa memperdulikan ketukan pintu dan panggilan sang mama. Setelah beberapa saat akhirnya pendakian pun telah mencapai puncak. Tubuh Dion terbaring disamping Fira dengan peluh masih membanjiri sekujur tubuhnya. Mendengar ketukan pintu kembali terdengar, Dion buru - buru melilitkan handuknya sebatas pinggang.
cekrekk...
__ADS_1
Awaskrekk...
"Mama, maaf ma!!," Dion membuka pintu dan melihat mamanya dan pelayan membawa makanan.
"Maaf ya mama ganggu kalian, tapi kalian sudah hampir terlambat makan siang, jadi mama nekat saja mengetuk pintu," ucap mama Dion dengan gugup. Kemudian Dion membuka pintu mempersilakan mereka untuk masuk dan menaruh makanan diatas meja.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu untuk makan siang, nanti baru lanjut lagi, tapi ingat ya Fira jangan diporsir tenaganya. Masih ada acara resepsi, nanti kalian engga bisa hadir kan lucu. Resepsi perkawinan tapi pengantinnya tidak bisa hadir," titah mama, sembari tersenyum penuh arti. Dion dan Fira hanya menunduk malu mendengar celotehan mama.
Setelah mama dan pelayan meninggalkan kamar, Dion dan Fira segera mandi dan menikmati makan siang. Sore hingga malam kami hanya beristirahat dan mengobrol ringan bersama keluarga besar. Berjalan santai di sekitar villa.
pagi ini semua keluarga besar Dion dan Fira sibuk bersiap-siap untuk menghadiri pesta kebun yang dilaksanakan ditaman belakang Villa. Tenda yang menjulang tinggi, meja kursi yang dihias rapi, hidangan prasmanan dan lain sebagainya telah siap. Satu persatu para tamu undangan berdatangan. Mereka adalah para kerabat, sahabat, rekan bisnis dari keluarga besar pak Langit dan pak Dirgantara serta tetangga disekitar villa. Alunan musik romantis mengalun dengan pelan dan begitu nyaman didengar.
Tak ada pelaminan, sang mempelai ikut membaur bersama tamu undangan. Dia mendatangi masing-masing meja tamu, menyapanya dan memohon restu. Acara berlangsung begitu kondusif.
Saat para keluarga dari kedua belah pihak dan para undangan tengah asyik menikmati jalannya pesta kebun. Datanglah seorang wanita menggunakan rok mini dan menggunakan atasan berupa blezer berwarna hitam. Dia menerobos masuk tanpa bisa dicegah oleh satpam.
"Fira, mana Fira, saya harus bicara dengan Fira," ucap wanita itu yang ternyata diketahui bernama Santi. Sementara dibelakangnya seorang satpam mengikuti berusaha menarik lengan Santi.
"Bu tolong ibu keluar, jangan mengganggu jalannya pesta," ucap seorang satpam sambil menarik lengan Santi, namun segera ditepis oleh Santi dengan kasar.
"Firaaaa. .. Kemari kamu Fira..berani-beraninya kamu menikah dengan Dion kekasihku. Dasar perempuan tidak tau malu, tidak tau diri kamu. Dion, kamu juga kesini hadapi aku, kamu harus bertanggung jawab untuk menikahi aku karena kamu sudah tidur denganku Dion!!.
__ADS_1