Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 97. Puncak Acara.


__ADS_3

(POV) Fira


Lama Tidak bertemu dengan mantan mama mertua, ternyata beliau tak pernah berubah, arogan dan cenderung memaksakan kehendak kepada orang lain. Tapi yang membuat aku tak enak hati pada Yunian kakak iparku adalah saat beliau menyatakan menyesal telah menyuruh Dion menikahi Santi hingga berakhir dengan perpisahan diantara kami. Beliau berharap aku dan Dion bisa berumah tangga lagi. Sungguh tak ada rasa bersalah sedikitpun dihati bu Retno saat mengatakan itu. Tidak sadarkah dia kalau semua sudah berubah, aku dan Dion telah bahagia dengan pasangan kita masing-masing. Tidak sadarkah dia kalau apa yang diucapkannya telah melukai hati menantunya sendiri. Menantu yang baik, yang selalu perhatian kepadanya. Harusnya beliau bersyukur mempunyai menantu seperti kak Yunian. Yang selalu sabar menerima perilakuan dan ucapan yang terkadang menyakitkan. Seperti pagi ini kulihat kak Yunian merebus air untuk mama mertua, demi agar beliau tetap nyaman berada dirumahnya. Aku pun sudah seharusnya bersyukur mempunyai suami penyayang seperti mas Galih lengkap dengan mertua yang selalu pengertian dan memanjakan aku dan bayi yang masih dalam kandunganku. Sepertinya itu adalah hadiah terindah dari Tuhan untukku sebagai buah dari kesabaranku menjalani ujiannya.


Semoga kakak iparku Yunian selalu diberi kesabaran dan umur panjang agar terus bisa hidup berdampingan dengan mertuanya yang entah kapan akan bisa menyadari dan bersyukur atas semua yang telah terjadi.


Hari ini aku dan suamiku sudah dirias layaknya seorang yang aka menjalani acara syukuran tujuh bulanan. Aku sengaja mengadakan dikampung suamiku karena disini adat dan istiadatnya masih sangat kental. Acara dilakukan dengan mengikuti adat suamiku yaitu diisi dengan acara sungkeman, siraman pecah telur dan serangkaian acara lainnya.


Sekitar jam sembilan acarapun dimulai, aku melihat semua tamu undangan telah hadir, ada Zahra dan suaminya, pak Sukarta dan istri, mama dan abah Zahra, Santi, ayah dan ibunya, bude Rupiah dan pakde Dodo, Juita dan calon suaminya dan banyak lagi keluarga kami yang lainnya.


Zahra datang menyalamiku sambil mengelus perutku. Sementara mas Dewanta dan keluarga yang lain hanya menyalamiku dan tersenyum. Meletakkan berbagai macam kado dan hadiah yang sengaja dibawanya.


"Selamat ya bu Fira, semoga selalu sehat ibu dan bayinya, ngomong-ngomong ini sudah diketahui belum jenis kelaminnya, " sapa Zahra. Aku pun mengucapkan Aamiin dan terimakasih kasih atas doa yang dia panjatkan.

__ADS_1


"Bayinya laki-laki bu Zahra seperti anak kedua bu Zahra, mudahan anak yang kedua nanti perempuan biar sepasang, tapi kalau laki-laki lagi ya enggak papa, yang penting kan dia sehat, bisa jadi anak Soleh dan solehah," jawabku ramah, seraya mencium anak kedua bu Zahra.


Selanjutnya acara pun diawali dengan sungkeman. Pertama aku melakukan sungkem pada mas Galih suamiku tercinta, ayah dari anak yang ada dalam kandunganku. Setelah aku sungkeman dengan suamiku, kami berdua pun melangkah bersama untuk sungkem kepada kedua orangtua kami berdua. Konon sungkem ini bertujuan untuk memohon doa restu agar diberi kelancaran saat hamil dan melahirkan serta bayi yang dikandung sehat.


Selanjutnya kami melakukan acara siraman yaitu proses dimana calon ibu dan ayah bayi dimandikan oleh orang tua kami, tujuannya untuk membersihkan diri baik fisik maupun jiwanya. Acara terus berlanjut hingga berlangsung kurang lebih satu jam lamanya.


"Ibu hamil wajahnya tampak semakin mempesona, " ucap mertuaku sembari mengeringkan rambutku dengan handuk yang ada ditangannya usai acara siraman.


"Sebenarnya yang anak mama aku apa Fira sih ma!!...dari tadi Galih lihat yang di perhatikan Fira terus, jalan di gandenglah, sekarang rambutnya dikeringkan. Galih kan mau juga rambutnya dikeringkan sama mama, " ucap suamiku pura-pura meraju membuat semua orang tertawa.


"Nasib-nasib kalau ada perilaku anak yang kurang baik pasti mirip papanya, ikut-ikutan papanya, tapi kalau yang baik-baik pasti niru mamanya, berkat didikan namanya, " ujar papa mertua bersungut-sungut.


"Tapi jujur nih yah, aku sebagai orang tua Fira merasa sangat bersyukur karena Fira mempunyai mertua yang sangat perhatian kepada putriku. Mungkin inilah hikmah dari kesabarannya setelah beberapa kegagalan dalam hal asmaranya,makasih ya besan kamu sudah memperlakukan anak perempuanku dengan baik." ucap mama Dinda sambil merangkul mama mertuaku.

__ADS_1


"Maksud bu Dinda, dulu waktu aku jadi mertua Fira tidak perhatian gitu!..kalau memang ibu menganggap seperti itu oke lah saya terima, tapi sekarang saya telah memperbaiki diri, saya akan menyayangi dan memperhatikan Fira seperti yang dilakukan oleh bu Marni kalau Fira mau balikan sama Dion dan kembali membina rumah tangga seperti dulu, " ucapan bu Retno yang sontak membuat terperangah seluruh keluarga dan undangan yang masih bertahan.


"Jadi ibu fikir anak saya itu kucing yang seenaknya saja diceraikan karena dianggap tidak bisa hamil dan kemudian di nikahi kembali setelah bisa hamil dan menghasilkan keturunan. Bu...ibu harus ingat, ucapan ibu itu bisa menyebabkan banyak hati yang terluka. Kasian Yunian istri Dion kalau ibu masih berharap Fira jadi mantu ibu lagi, dia juga punya perasaan seperti ibu," ucap mama yang mendapatkan isyarat dari papa agar tidak meladeni ucapan bu Retno.


"Jujur ya tante, Galih juga merasa tidak dihargai sebagai suami Fira. Karena tante seenaknya saja berharap Fira kembali pada mas Dion. Fira tuh sudah enggak cinta sama Dion, dia cintanya sama saya. Begitu juga mas Dion dia sangat mencintai kakakku, jadi jangan seenaknya saja menjodohkan istri orang dengan suami orang, mentang-mentang aku sudah bisa menghamili Fira. Tante tidak tahu bagaimana suka dan dukanya perjuangan aku agar Fira bisa hamil, itu semua berkat kerja keras aku tante, mas Dion pun tidak mampu melakukannya," ucap mas Galih yang membuat semuanya mengulum senyum.


"Ya sudah kalau begitu, aku juga enggak maksa Kan!!..lagian aku kan cuma berharap, apa salahnya sih berharap sesuatu sama Tuhan yang maha segala-galanya.


"Tapi harapan bu Retno bisa melukai hati kedua anak-anak saya bu, sebaiknya ibu harus lebih berhati-hati dengan lisan ibu," sahut mertuaku dengan nada bicara yang dibuat sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaan mantan mama mertuaku. Sedangkan tangan papa mertuaku terus menepuk-nepuk bahu mama mertua untuk menenangkannya.


"Betul itu mama, kita ini sudah tua, anak-anak kita sudah bahagia, kita wajib bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Jangan pernah berharap sesuatu yang tidak mungkin terjadi hingga melukai perasaan anak dan mantu mama yang begitu menyayangi mama. Lihat Yunian ma... apa kurangnya dia dari Fira, dia sangat perhatian sama mama, dia sudah melahirkan cucu mama yang sehat dan cerdas, " pak Dirgantara yang dari tadi hanya menyimak akhirnya angkat bicara demi memberi pengertian pada wanita yang menjadi tanggung jawabnya karena telah dinikahi selama puluhan tahun lamanya.


*******

__ADS_1


"


__ADS_2