
(POV) Santi
"Papaaaa....Kiran kangen papa. Papa kenapa enggak pernah menjenguk Kiran, Kiran tuh!! kangen banget sama papa. Papa jangan marah lagi yah sama mama, mama sekarang sudah jadi orang baik, mama enggak bakal jahatin papa lagi kok. oh...ya papa kesini sama tante Yunian, papa temenan ya sama dia," Kiran memeluk Dion dengan penuh rindu, dia menumpahkan segala unek-unek yang selama ini disimpannya. kemudian dia pun melepaskan pelukannya dan memandang kearah wanita yang ada di samping Dion. Ternyata dia mengenal wanita itu, dia adalah tantenya sendiri.
"Oh ini tante kamu yah.... papa baru tahu!!, sekarang papa kasih tahu yah, kalau Kiran ingin disayang sama papa, kiran harus mengerti kondisi papa, gimana? kamu mau kan? ucap Dion sambil membelai rambut panjang Kiran.
"Tentu papa, apapun yang papa minta pada Kiran, Kiran akan patuhi asalkan Kiran bisa hidup bareng papa atau papa sering jenguk Kiran disini, " ucap Kiran.
"Begini nak, papa dan mamamu sudah berpisah, papa dan mama sudah tidak bisa hidup bersama lagi. Papa dan tante Yunian telah menikah, kami saling mencintai dan saling menyayangi. Kami se karang hidup bersama, Tante Yunian sekarang adalah ibu sambung Kiran, dia juga sayang sama Kiran seperti papa menyayangi Kiran. Jordan adalah anak papa dengan tante Yunian, berarti dia adik Kiran, dia sayang banget lho sama Kiran, dia ingin sekali bisa main bareng Kiran. Kiran maukan sayang sama tante Yunian dan Jordan," Tanya Dion pada putri semata wayangnya.
"Iya papa, Kiran mau sayang mereka," jawab Kiran manja. Yang lain pun sangat kagum dengan cara Dion menjelaskan keluarga barunya pada Kiran.
"Kiran papa dan mama kan sudah berpisah nih, kamu sekarang boleh pilih, mau ikut papa, atau ikut mama. kalau ikut papa, ada mama sambung kamu yaitu mama Yunian, ada Jordan, ada opa dan oma sedangkan kalau ikut mama kamu, ada nenek dan kakek. Kiran mau ikut siapa? ikut papa atau mama. Kalau maunya papa tentu papa ingin Kiran ikut papa, " Ucapan mas Dion begitu membuat aku shock. Setega itu dia ingin memisahkan aku dan anakku. Aku yang hamil dia, sendirian tanpa di dampingi oleh seorang suami, melahirkan pun tanpa suami. Seenaknya saja dia ingin mengambil Kiran dariku.
"Kiran pikirkan baik-baik ucapan papa, papa tunggu jawabanmu. Sekarang Kiran masuk dulu ya... jangan lupa jawabannya Kiran mau ikut siapa. papa tunggu kurang lebih satu jam lagi...Okey, " ucap Dion seraya tersenyum.
__ADS_1
"Oke... papa, " Kiran pun masuk kedalam dengan hati gembira.
"Kamu duduk Santi dan tolong baca ini, " mas Dion menyerah amplop besar berisi pernyataan hak asuh Kiran yang jatuh ditangan Dion. Seketika sekujur tubuh Santi lemah sekali. Akupun duduk perlahan sambil membaca lembaran kertas tersebut.
"Kamu jangan khawatir Santi, aku tidak akan memaksa, semua tergantung Kiran mau ikut papanya atau mamanya. Walaupun ibu dan ayahmu lebih mendukung kalau Kiran ikut kami, " ucap Dion. Aku memandang kearah Ayah dan ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan ibu nak, bukan maksud ibu ingin memisahkan kamu dengan anakmu, namun jika Kiran ikut papanya masa depannya lebih terjamin. Ibu percaya Yunian dan Dion mampu mendidik Kiran agar kelak bisa menjadi wanita baik-baik dan terhormat. Agar dia bisa mengangkat derajat keluarganya tidak membuat malu keluarga. Kamu lihat dirimu, mendidik dirimu sendiri saja kamu belum mampu bagaimana kamu bisa mendidik anakmu," ucapan ibu sungguh sangat menyakitkan dan memojokkanku.
"Tapi bu, Santi belum sanggup berpisah dengan Kiran. Hanya Kiran yang selalu setia menemani Santi saat Santi senang maupun susah, " ucapku sembari terisak. kedua orangtuaku saja tidak percaya kalau aku bisa mendidik Kiran dengan benar. Kenyataan ini sangat menyakitkan.
"Papa, mama, Kiran sudah punya keputusan, Kiran mau ikut papa. Tapi sesekali boleh yah.. kalau aku ingin mengunjungi mama dan teman-temen di desa ini," ucap Kiran sambil memeluk mas Dion. Kalau Kiran setiap hari dekat dengan papanya, Mungkin nggak yah.... lambat laun dia akan melupakanku. Menyakitkan sekali jika itu sampai terjadi.
"Sayang.... Kiran minta izin dulu sama mama, boleh enggak ikut papa sama mama Yunian," titah Dion pada Kiran. Kiran pun segera berlari dan memelukku.
"Ma..boleh yah... Kiran ikut papa? Kiran sayang kok sama mama, sayang banget malahan. Tapi Kiran ingin tinggal sama papa, Kiran ingin main sama Jordan setiap hari," ucapan Kiran benar-benar menyentuh perasaanku. Rasanya aku tidak tega kalau harus menolak permintaan Kiran. Apalagi ibu, ayah dan yang lain mendukung Kiran ikut dengannya. Dengan berat hati akhirnya aku mengizinkan Kiran tinggal dengan papanya.
__ADS_1
"Terimakasih mama, mama izinkan Kiran tinggal dengan papa dan Jordan. Mama adalah wanita terbaik yang selalu ada dihati Kiran. Nanti Kiran akan sekolah yang tinggi biar jadi orang pinter, pintar cari uang!! biar bisa membiayai hidup mama, biar mama tidak usah kerja lagi, " lagi-lagi ucapan Kiran membuat air mataku meleleh. Aku pun memeluk Kiran lebih erat lagi.
"Ya sudah, kalau gitu mama siapin baju Kiran untuk dibawa ke kota, Kiran temani papa dan mama Yunian. Akupun bergegas masuk ke kamar Kiran untuk menyiapkan segala keperluan kiran. Aku keluar dari dalam kamar Kiran dengan membawa sebuah koper besar berisi pakaian dan segala keperluan Kiran. Yunian segera menyambut koper ditanganku sembari memelukku.
"Sabar ya Santi, kamu harus legowo, ini semua demi kebaikan Kiran, demi masa depannya. Kamu percaya saja sama aku. aku ini bukan orang lain, jadi tidak mungkin aku akan menyakiti Kiran keponakan sekaligus anak sambungku," ujar Yunian.
"Aku titip Kiran Yunian, mas Dion, aku percaya kalian akan memberikan yang terbaik buat Kiran," aku menitipkan Kiran pada mas Dion dan Yunian, Tujuan menjawab dengan sebuah anggukan dan senyuman manis. Sedangkan mas Dion hanya mengangguk saja.
"Ayo sayang pamit sama mama, kakek dan nenekmu, kita harus pulang sekarang takutnya kemalaman di jalan," titah mas Dion pada Kiran. Kiran segera menyalami ibuku.
"Cucu nenek yang cantik, jadi anak baik yah... rajinlah belajar patuhlah pada kedua orang tuamu, opa dan omamu," ibu menasehati Kiran. Kiran lanjut menyalami ayah, ayah pun memeluknya dan mencium keningnya tanpa mengucapkan sepatah katapun, hanya lelehan air mata yang mengiri keberangkatan cucu tersayangnya.
Saat Kiran mendekatiku, aku langsung memeluknya. Tangisku pecah tanpa mampu aku tahan lagi. Tak ada kata yang sanggup terucap, hanya doa yang tulus selalu kulantumkan dalam setiap sujudku, untukmu putri terkasihku.
*********
__ADS_1