Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 115. Menuju Rumah Fira


__ADS_3

(POV) Marni


Setelah beberapa hari aku menginap dirumah mewah Dion dan Yunian. Hari ini atas dukungan kami semua, Dion dan Pak Dirgantara berangkat menemui bu Retno. Banyak nasihat yang telah kami berikan agar Dion tak lagi membenci mamanya, karena walau bagaimana pun, berkat adanya bu Retno jualah Dion lahir kedunia dan menjadi suami putriku. Jika tidak ada bu Retno, tidak ada Dion dan Yunian belum tentu hidupnya semakmur ini. Itulah sebabnya sebisa mungkin aku dan suamiku berusaha menyatukan kembali keluarga pak Dirgantara yang sudah tercerai berai.


Suamiku juga menasehati pak Dirgantara, sebagai orang sudah lanjut usia, anak-anak telah dewasa dan hidup bersama pasangannya. Begitu juga perhatiannya yang cenderung lebih fokus kepada anak-anak dan pasangannya. Kita-kita yang sudah tua lebih nyaman hidup bersama pasangan, bisa sama-sama saling perhatian, saling tolong menolong, saling melengkapi kekurangan masing-masing.


Hari ini serasa berlalu begitu lambat, kami sedang menantikan Dion dan pak Dirgantara yang sedang pergi kerumah bu Retno. Ada beberapa rencana yang akan mereka lakukan, mengajak diskusi dari hati kehati dengan bu Retno dengan mengingat kembali kenangan indah dimasa silam antara pak Dirgantara dan bu Retno. Masa indah saat hadirnya anak-anak dalam pernikahan mereka. Ada susah, ada senang, ada duka dan derita, ada kalanya mereka sakit. Semua mereka lalui bersama dalam kurun waktu puluhan tahun lamanya. Haruskan semua itu terhapus oleh ego, dan amarah yang berlangsung sekejap. Mencari benang merah yang membuat sikap dan sifat bu Retno berubah. Andai bu Retno tak mampu lagi tersentuh hatinya. Mungkin mereka akan membawa bu Retno ke psikiater.


Sebelum makan siang, terdengar suara mobil Dion menantuku memasuki halaman rumah. Satpam pun memberi tahu lewat jalur interkom, mengabarkan kalau pak Dion dan pak Dirgantara telah kembali membawa serta ibu Retno. Aku mengelus dada dan berucap syukur, karena mereka telah berhasil membawa bu Retno kerumah ini. Jadi kami semua bisa mengingatkan bu Retno dengan penuh kasih akan indahnya hidup rukun dan penuh rasa syukur atas apa yang sudah kita miliki dan jangan pernah menginginkan sesuatu yang bukan milik kita karena itu akan menyakitkan hati bagi pemiliknya.


"Yunian dan anak-anaknya seketika berlari menyambut datangnya mertua yang telah menyakiti hatinya. Namun ku lihat dia menyayangi ibu dari suaminya dengan setulus hati, tak ada kesal apalagi dendam terlihat dari sorot matanya. Aku, suamiku dan Tini pun mengikuti dibelakangnya. Usai mereka melepas rindu antara mantu dan mertua serta cucu mereka.


Lagi-lagi aku merasa terharu dan bersyukur atas anugerah dari sang pencipta segalanya. Bu Retno dengan berbesar hati, mengalahkan semua ego di dalam dada, meminta maaf pada Yunian, aku dan suamiku atas apa yang telah diperbuatnya selama ini. Sudah barang tentu kami memaafkannya dengan hati bahagia. Tini juga meminta maaf pada bu Retno atas apa yang telah dilakukan Santi dimasa Silam. Akhirnya diteras rumah ini dengan rasa bahagia yang tiada terkira, kami semua saling memaafkan. Teriknya sinar sang mentari menjadi saksi bisu atas apa yang terjadi hari ini disini.

__ADS_1


Setelahnya kami semua masuk, aku dan Yunian menggandeng kedua tangan bu Retno, berjalan beriringan sambil mendengar celotehan dua cucu yang begitu menggemaskan.


Kami makan hidangan yang sengaja kami sediakan menunggu kedatangan Dion dan pak Dirgantara. Sore harinya kami berjalan dijalanan komplek memetik jeruk yang ditanam pihak developer yang sengaja disediakan untuk warga komplek. Semua merasa bahagia, begitu juga bu Retno yang selalu di dampingi oleh pak Dirgantara sambil bercanda mesra.


Keesokkan harinya kami semua berangkat menuju rumah Fira dan Galih. Awalnya hanya aku dan suamiku yang akan berkunjung kerumah Fira dan Galih, karena itu memang sudah rencanaku dari rumah, ingin mengunjungi kedua anakku dan menantu.


"Aku ikut ya bu Marni, rencananya aku ingin meminta maaf sama Fira dan Galih. Karena perbuatanku menginginkan Fira kembali jadi menantuku, sungguh memalukan sekali. Aku seperti tidak tahu diri, seenaknya saja aku telah menyakiti hatinya, dan seenaknya saja aku menginginkan kembali, setelah dia menjadi milik orang lain. Sungguh aku begitu bodoh, mungkin saat itu mata hatiku sudah tertutup ambisi, sehingga tidak bisa merasakan betapa sakitnya hati Galih andai kenyataan itu terjadi. Dan bu Marni adalah orang yang seharusnya paling murka karena rasa sakit yang akan aku torehkan pada hati kedua anak ibu, namun sungguh hati ibu begitu mulya, dengan mudahnya ibu memaafkan saya dan membimbing saya menjadi pribadi yang lebih baik.


Pagi-pagi sekali kami semua, dengan menggunakan dua buah mobil yaitu mobil suami yang di dalamnya ada aku dan suamiku serta Tini, kiran dan Jordan. Sedangkan mobil satunya adalah mobil Dion dikemudikan oleh Dion sendiri, Yunian yang ada sampingnya, sementara di deretan kursi nomor dua ada pak Dirgantara dan bu Retno yang selalu mesra.


Aku keluar dari mobil kami yang sudah terparkir carport rumah Fira dan Galih. Melangkah menuju teras dan langsung memencet bel yang ada di samping sebelah atas dari pintu yang terbuat dari kayu jati.


Sudah tiga kali, ku pencet bel, namun belum ada tanda mereka meresponnya. Mungkin mereka masih tidur karena kecapean habis lembur malam tadi, dalam hati.

__ADS_1


"Ada apa ma.... Mencet bel dari tadi belum juga direspon, tapi mama malah senyam-senyum sendiri, hati-hati kalau kesurupan," ujar suamiku yang sedang berjalan mendekat ke arahku.


"Mereka masih tidur pa...sepertinya mereka kelelahan sehabis lembur malam tadi, aku jadi ingat dulu waktu kita baru nikah, selalu bangun kesiangan karena papa minta lagi setelah shalat subuh," jawabku seraya tersipu.


"Mama ini ada-ada aja fikirannya. Semoga mereka kehidupannya juga bahagia seperti kita dulu ya ma," ujar suamiku sembari tersenyum manis. Aku pun berinisiatif untuk menelepon Galih.


"ya...mama, ada apa pagi-pagi udah nelpon," suara serak Galih terdengar menyapaku. Fix!!....dia masih tidur dan bangun saat mendengar hand phonenya berbunyi.


"Buka pintu Galih, mama di depan rumah kamu ini," ucapku


"Ya.. Ampun mama pagi-pagi sudah dirumah Galih. Ada apa ma? Apa mama bertengkar dengan papa, kalau ada masalah dalam rumah tangga diselesaikan dengan kepala dingin dan bicara baik-baik, jangan main kabur aja," ucap Galih dengan nada ketus, sepertinya dia sedang merasa terganggu dengan kehadiranku, mungkin lagi nanggung atau entah lagi apa. Biar saja sekali-kali iseng gangguin anak sama mantu.


Setelah menunggu beberapa saat, pintu pun terbuka, terlihatlah Galih putraku yang masih memakui piama tidur dan sedang berusaha merapikan rambutnya yang acak-acakkan. Sementara Fira pun memakai pakaian tidur juga dengan rambut yang rapi dan muka yang sudah dicuci.

__ADS_1


*******


__ADS_2