Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 56. Hari Yang Ditunggu-tunggu


__ADS_3

(POV) Fira


Satu persatu segala persiapan pernikahan telah selesai. Hari ini adalah hari pernikahanku dan mas Galih. Sudah dua hari yang lalu keluarga mas Galih telah berkumpul dirumah kediaman mas Galih. Rumah yang lumayan sederhana bila dibandingkan dengan rumahku. Namun mas Galih sangat bangga bisa memilikinya. karena rumah itu dihasilkan dari hasil jerih payahnya sendiri. Rencananya disitulah nanti aku dan mas Galih akan tinggal membangun sebuah keluarga kecil yang harmonis penuh cinta dan kasih sayang.


Kini aku baru selesai dihias. Dalam balutan kebaya warna putih dan rambut disanggul ala Raden Ajeng Kartini. Kulihat dicermin wajahku terlihat cantik dan anggun. Terimakasih Tuhan kau telah karuniai aku wajah yang rupawan, semoga dengan wajah cantikku ini, aku mampu membahagiakan suamiku, menyenangkan hati suamiku. Semoga dengan wajah cantikku pulalah suamiku akan senantiasa bertahan dan selalu setia disisiku dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat, miskin maupun kaya dan senang maupun susah, semoga ini adalah pernikahan terakhir bagi aku dan mas Galih, " doaku dalam hati.


"Calon pengantin jangan melamun nanti kerasukan," mbak Rena tiba-tiba masuk membawa sepiring nasi dan segelas air putih.


"Mbak bikin aku terkejut, aku lagi berdoa mbak, bukan lagi melamun," ucapku pada mbak Rena.


"Makan dulu biar mbak suapin, kalau makan sendiri kan susah, lihat tuh henanya belum kering. Ijinkan kakak iparmu ini menyuapimu wahai ratu sehari," celoteh mbak Rena. akhir-akhir ini memang aku dan kakak-kakak iparku semakin akrab. mungkin karena papa dan mama akan pindah domisili di Indonesia. Jadi kami akan lebih sering bertemu.


Sedikit demi sedikit mbak Rena menyuapiku sambil ngobrol ringan dan sesekali terkekeh karena merasa berhasil menggodaku.


"Kamu masih ingat kan Fira, kamu harus mengingat-ingat kembali biar semuanya berjalan lancar dan kondusif, " ucapan mbak Rena membuat aku bingung.

__ADS_1


"Sudah siap apanya mbak, lihat sendiri dari tadi aku duduk disini sudah rapi, sudah cantik siap jadi ratu sebentar, " kekehku.


"Bukan siap itu Fira, tuh kan lupa, sudah lima tahun libur sih, maksud mbak itu siap untuk melakukan malam pertama," ucap mbak Rena seraya tersenyum. aku hanya menggelengkan-gelengkan kepala, tak menyangka mbak Rena akan berfikir sejauh itu.


Selesai makan kami langsung berangkat menuju ke masjid tempat dimana akan dilaksanakan akad nikah. Kami menggunakan beberapa buah mobil dimana mobil yang aku tumpangi berada dibarisan paling depan. Didalam mobil aku ditemani oleh mama dan papa yang duduk disamping kanan dan kiriku.


"Papa, Fira kok merasa gugup sekali ya, ucapku pada papa sembari menggenggam tangan papa.


"Nih makan permen!!, kamu kaya baru nikah pertama kali aja. Masa janda nikah kok gugup, kalo perawan nikah gugup baru itu wajar," ucap papa sambil menyerahkan sebiji permen. Aku langsung mengambil kemudian mengupas dan memakannya.


Kini mobil kami memasuki gerbang masjid, mobil terus meluncur perlahan dan akhirnya supir memarkirkan mobil dihalaman masjid. Aku segera keluar dari mobil dibantu oleh papa, aku berjalan masuk kedalam masjid dengan digandeng oleh papa dan mama. Sedangkan mas Galih, mas Angkasa, mbak Rena dan mbak Ranti dan beberapa keluarga yang lain mengiringiku dibelakang.


Setelah sampai didalam masjid ternyata mas Galih dan seluruh keluarganya telah datang. Mataku menyapukan pandangan melihat semua keluarga mas Galih yang hadir, ada papa dan mama mertua, ada bude Rupiah dan pakde Dodo, ada bule Tini, Dion, Yunian, pak Dirgantara dan bu Retno juga beberapa keluarga yang lain. Namun aku tak melihat Santi dan Kiran. Mungkin mereka sedang berhalangann untuk hadir. Papa dan mama calon mertua langsung menyongsong kedatanganku. Beliau menyalamiku dan keluarga lainnya. Kemudian ibu mertua menuntunku menuju meja ijab dimana mas Galih berada. Dia langsung memalingkan wajahnya untuk memandang kearahku kemudian tersenyum. Mas Galih mengenakan setelan jas warna hitam dan juga peci hitam. Bergetar rasanya dada ini, dia terlihat begitu tampan. Memang sudah beberapa hari ini keluarga melarang kami bertemu. Rasa rindu kini menyelimuti hatiku. Aku lalu duduk disamping mas Galih.


"Sekarang semua sudah siap, mempelai pria, mempelai wanita sudah ada, saksi dan wali nikah juga sudah hadir, berkas pernikahan pun sudah lengkap. Bagaimana kalau kita mulai saja ijab qobulnya, " ucap pak penghulu yang duduk tepat dihadapanku. Kami semua mengangguk setuju. Papa segera bersalaman dengan mas Galih dan mengucapkan kalimat ijab dan di jawab oleh mas Galih dengan kalimat qobul dalam satu kali tarikan nafas.

__ADS_1


"Bagaimana saksi, apakah sah?, serentak semua yang hadir menjawab sah. Pak penghulu mengucapkan kalimat hamdalah, akupun mengucapkannya didalam hati. Kemudian Mas Galih membacakan sighat ta'lik yang berisikan sebuah perlindungan hak-hak istri, lega rasanya dada ini. Mas Galih memandang kearahku sambil tersenyum. Tampak sekali rona bahagia diwajah tampannya. Dia mengulurkan tangannya, aku langsung menyambutnya dan mencium punggung tangannya. Lalu dia balas dengan mencium keningku.


Setelah selesai akad nikah aku dan mas Galih langsung menemui kedua orangtua kami untuk meminta doa restu. Berbagai nasehat dalam berumah tangga pun diberikan oleh kedua orangtuaku dan kedua mertuaku. Tampak sekali kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka. Mudah--mudahan rumah tanggaku langgeng sampai kakek nenek agar aku tak lagi membuat mama dan papaku sedih.


Secara bergantian seluruh anggota keluargaku dan keluarga mas Galih menyalami dan mengucapkan selamat kepada kami berdua.


"Fira kamu harus senantiasa sabar dalam melatih dan mengajari Galih diranjang ya, soalnya diakan belum berpengalaman, beda dengan kamu yang sudah punya jam terbang tinggi untuk urusan bercinta," ucap bude Rupiah sambil menyalamiku dan menyikut lengan mas Galih.


"Bude apaan sih, jangan ngomong yang enggak - enggak bude, " ucap mas Galih sewot. Namun bude rupiah hanya tersenyum miring dan berlalu pergi.


"Tolong jagakan adikku baik-baik Galih, ajari dan didik dia agar senantiasa taat dan patuh kepadamu. Tegur dia secara baik-baik jika ia membuat kesalahan. Sekarang dia adalah tanggung jawabmu, baik buruknya dia kaulah yang akan merasakannya," ucap mas Gading sambil menyalami dan menggenggam tangan mas Galih.


"Iya mas, aku akan mengingat selalu semua pesan mas Gading. Aku tahu Fira wanita yang baik dan berasal dari keluarga baik-baik. Dia pasti sudah tahu bagaimana harus bersikap, apalagi dia sudah pernah berumah tangga, sudah pasti dia lebih berpengalaman, justru aku yang harus belajar banyak dari Fira.


Setelah serangkaian acara akad nikah dimasjid telah selesai, akhirnya kami keluar masjid menuju kemobil untuk segera pulang. Sesuai rencana kami, aku pulang kerumah mas Galih dengan diantar oleh papa dan mama serta keluarga besarku. Mobil keluarga besarku dan keluarga besar mas Galih berjalan beriringan menuju sebuah kompleks elit yang ada di pusat kota. Sekitar setengah jam perjalanan kami memasuki sebuah rumah bergaya minimalis dengan dua lantai. Kami semua turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah melalui pintu ruang tamu, papa dan mama mertuaku mempersilakan kami masuk. Sementara para Asisten sibuk memhidangkan minuman dan makanan ringan. Kami semua, dua keluarga besar yaitu keluargaku dan keluarga Mas Galih duduk santai menikmati makanan ringan sambil ngobrol santai.

__ADS_1


*******


__ADS_2