
(POV) Dirgantara.
Pusing rasanya aku mendengar rencana gila istriku. Aku diam saja dan mencoba memejamkan mata hingga akhirnya akupun terlelap.
Pagi ini kami semua berkumpul diruang makan hendak mulai menyantap sarapan pagi. Semua akan memulai aktifitasnya. Hanya aku dan istriku yang selalu dirumah saja menikmati hari tua, sesekali datang kekantor untuk memeriksa kondisi keuangan perusahaan. Dion dan Yunian akan pergi ke kantor sedangkan kedua cucuku Kiran dan Jordan akan pergi ke sekolah.
"Cucu opa yang ganteng dan cantik, makan yang banyak yah....biar badan kalian senantiasa sehat," ucapku pada kedua cucuku.
"Memang kalo makannya sedikit bisa sakit ya opa," tanya Jordan cucuku yang selalu aktif.
"Iya sayang, ayo cepat habiskan makanannya nanti keburu siang," ucapku pada putra semata wayang Dion Dan Yunian.
"Mama, Kiran mau paha ayamnya dong," ujar Kiran pada Yunian. Yunian sangat perhatian kepada anak sambungnya, sehingga merupakan hal yang wajar kalau dia sangat kerasan dan senang tinggal disini. Sudah beberapa bulan dia disini, tak sekalipun dia merengek meminta bertemu Santi ibu kandungnya.
"Iya sayang, ini mama ambilin yang paling besar, spesial untuk putri tercantik mama," ujar Yunian seraya tersenyum dan meletakkan sepotong paha ayam di piring Kiran.
"Makasih mama sayang, mama Yunian memang terbaik," jawab Kiran sambil tersenyum menggemaskan.
__ADS_1
"Dion, mama mau tanya, kapan kamu mulai pendekatan sama Fira. Pepet terus nak, biar Galih cemburu nanti lama-lama dia akan menyadari kalau Fira terlahir di dunia ini hanya untukmu. Mama sangat berharap Fira bisa jadi istri kedua kamu, agar keluarga kita semakin tersohor karena kembali berbesan dengan pak Langit Perkasa yang usahanya semakin maju.
"Stop mama, jangan atur- atur Dion lagi, Dion sudah dewasa, punya anak dan istri, Dion sangat menyayangi mereka, kami sekeluarga sudah bahagia. Begitu pun Fira dan Galih yang sedang menantikan anak pertama mereka. Sekali lagi Dion tegaskan pada mama, Dion masih waras dan tidak mungkin menuruti ide gila mama, tolong jangan ganggu kebahagiaan kami atau kami sekeluarga akan pindah dari rumah ini," jawab Dion tegas, dia seketika menghentikan makannya.
"Tega kamu membentak mama Dion, apa kamu sudah tidak sayang dan sudah tidak mau menghargai mama lagi. Ingat Dion, mama yang telah melahirkan dan mengandungmu, surgamu berada di kakiku. Sudah seharusnya kamu patuh dan menuruti kehendak mama atau kamu akan durhaka," jawab istriku tak kalah garang. Suasana ruang makan seketika mencekam. Aku segera memanggil supir untuk segera mengantar Kiran dan Jordan. Aku tidak mau kedua cucuku melihat pemandangan yang belum semestinya dia lihat.
"Kiran, Jordan, kalian berangkat sekolah dulu yah. Diantar om supir, biar enggak terlambat kesekolahnya," ucapku sambil menuntun kedua cucuku dan menyerahkan pada supir, orang yang bekerja selama puluhan tahun di keluarga ini.
"Oma...jangan marahi papa Jordan ya kasian, papa sudah cape bekerja untuk masa depan Jordan dan kak Kiran, oma bicaranya yang baik- baik, papa juga enggak boleh bentak-bentak orang tua, kalian harus akur, jangan berantem, nanti Allah bisa marah. Kami berangkat dulu yah da....dah...," ucap Jordan sebelum berlalu meninggalkan kami semua untuk berangkat kesekolah. Aku sangat terharu mendengar ucapan cucuku. Semoga kelak dia bisa menjadi seorang pemimpin yang bijaksana.
"Mama, seorang anak tidak wajib patuh kepada ibunya, jika ibunya menyuruh untuk berbuat Zalim, jadi aku tidak akan durhaka kalau tidak menuruti kehendak mama. Aku justru berdosa kepada banyak orang kalau menuruti ide gila mama," jawab Dion dengan nada bicara lebih rendah dibanding tadi, mungkin dia sudah mulai bisa mengendalikan perasaannya dan berusaha memberi pengertian kepada mama tercintanya.
Kulihat mata Yunian mulai berkaca-kaca. Dionpun menggenggam tangan istrinya untuk menenangkannya.
"Maaf ma...aku sangat mencintai Yunian, aku tidak akan menikah lagi, aku tidak bisa melihatnya bersedih. Mama harus tahu, tidak ada satu istri pun di dunia ini yang rela berbagi cinta dengan perempuan lain kecuali terpaksa.
Lagian diantara aku dan Fira sudah tidak ada perasaan cinta. Fira telah berhenti mencintai aku sejak aku menuruti ide gila mama menikahi Santi wanita yang tidak pernah aku cintai. Dan aku sudah berhenti mencintai Fira saat Yunian resmi menjadi istriku. Jadi mama tidak usah punya ide yang aneh-aneh.
__ADS_1
"Mas Dion benar ma, aku sangat mencintai mas Dion, aku tidak mampu berbagi suami dengan wanita lain, walau mama menyerahkan seluruh harta mama sekalipun. Yunian rela hidup miskin asal bisa bersama terus sama mas Dion tanpa kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga kami," ucap Yunian sembari menahan air mata.
"Kamu tidak usah sok tidak perlu harta Yunian, tanpa harta manusia bisa apa hah?. Kamu seharusnya bersyukur bisa masuk kedalam keluarga ini dengan menjadi istri Dion. Kalau tidak, mungkin sekarang kamu cuma wanita miskin yang hanya berpakaian seadanya, kemana-kemana cuma pakai sepeda motor. Lihat dirimu, berapa harga pakaianmu, perhiasanmu, tasmu, mobil yang kamu pakai dan semua yang ada pada dirimu. Apakah kamu sudah siap kehilangan semua itu kalau tidak merestui Dion dengan Fira," ujar istriku dengan pndangan sengit kepada menantu yang selama ini berbakti kepadanya.
"Sudah ma, jangan ikuti ambisi mama, jangan ikuti rayuan setan yang akan membawa kita semua ke jurang perpecahan seperti dulu. Ingat ma, sejak muda kita selalu bekerja keras untuk siapa? Untuk membahagiakan anak, menantu dan keturunan kita, tapi rencana mama barusan hanya akan menyakiti dan menghancurkan hati anak, menantu dan cucu kita dan itu berarti sia-sialah perjuangan kita selama ini.
"Mama sudah berapa kali bicara sama papa, tidaaak ussaaah ikut campur!!...biar semuanya mama yang urus, papa terima beres saja, okey," ujar istriku.
Sebagai seorang suami dan kepala keluarga aku sangat tersinggung dengan ucapan istriku. Jika kalimat itu dilontarkan saat kami hanya berdua, mungkin tak jadi masalah bagiku. Tapi ini dia ucapkan di depan anak dan mantuku. Hancur rasanya wibawaku dimata mereka.
"Hentikan ma, sekarang aku sebagai suami mama, orang yang wajib mama patuhi dan taati. Aku memerintahkan mama, hentikan ide gila mama, jangan usik kehidupan dan kebahagiaan keluarga anak kita. Biarkan mereka bahagia," aku sudah mulai naik pitam.
"Terima kasih papa, papa sudah membela kami, mama harus ikuti kata-kata papa, lelaki yang sudah puluhan tahun mendampingi mama," sahut Dion.
"Tidak!!...semua harus menurut pada perintahku. Yunian kalau kamu tidak setuju dengan keinginan mama, kamu boleh tinggalkan rumah ini, Dion segera ceraikan istrimu yang pembangkang itu, kalau tidak kamu pun sebaiknya pergi dari sini," ucapan istriku sontak membuat aku shock.
"Baik mama, kami sekeluarga akan meninggalkan rumah ini," ucap Dion mantap. Tak ada sedikit pun keraguan dalam setiap kata yang dia ucapkan
__ADS_1
********