Cintaku Terhalang Janji Suci

Cintaku Terhalang Janji Suci
Bab. 67. Ke Kota


__ADS_3

(POV) Juita


Hari ini aku berangkat kekota untuk melamar pekerjaan dirumah ibu Fira yang alamatnya sudah aku dapatkan dari Santi sahabatku. Setelah menaiki angkutan umum, sekarang aku telah sampai diterminal, kemudian dengan menggunakan ojek online aku menuju alamat rumah bu Fira dan pak Galih.


Aku sudah sampai dialamat yang dikirimkan oleh Santi,sebuah rumah lumayan mewah dengan gaya minimalis tampak begitu indah dipandang mata. Semoga perjuanganku berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti sehingga kelak aku bisa memiliki rumah ini. Itulah impianku saat ini, datang dari desa pergi ke kota untuk merubah nasib, ingin menjadi istri pak Galih, seorang pria kaya yang baru saja menikah. Dia mempunyai banyak restoran yang didirikan dari hasil kerja kerasnya. Sungguh sudah menjadi impianku, mempunyai suami seorang pria yang mempunyai harta berlimpah. Walaupun pak Galih sudah memiliki istri, tak menyurutkan keinginanku untuk menjadi istrinya. Bagiku menjadi istri kedua pun tak mengapa. Karena menjadi istri kedua itu cuma sementara. Kebanyakan dari wanita bersuami, mereka tidaklah sudi dimadu. Mereka akan segera menggugat cerai kala tahu suaminya telah berselingkuh ataupun telah menikah lagi. Itu menjadi angin segar bagi aku kelak sebagai istri kedua karena predikat istri kedua yang sering bergelar pelakor akan segera lenyap dan digantikan dengan predikat istri satu-satunya. Yang dulu istri sirih jadi istri resmi, yang dulu cuma tinggal dipaviliun akan pindah kerumah utama. Saat itu semua orang akan menghujat istri kedua atau pelakor sebagai wanita yang tak punya hati nurani, tak punya belas kasih, terus mereka bilang otaknya ditaruh ditaruh dimana? Namun hujatan itu hanya sebentar, lambat laun masyarakat atau keluarga pun akan menerima kedatangan istri kedua walau telah membuat istri pertama pergi.


Apakah yang aku lakukan dengan merebut suami orang itu jahat, banyak orang mengatakan !! Ya....karena banyak hati yang terluka, banyak anak tak berdosa menangis kehilangan ayahnya. Namun berbeda denganku. Kalau aku berpendapat, hidup adalah perjuangan jadi milik siapa pun kalau masih bisa diperjuangkan ya...sikat aja!!!


Biar bagaimana pun aku lebih cantik, bodyku lebih menarik, aku rajin merawat diri, rajin senam kegel, rajin mengikuti kelas-kelas yang melatih hubungan **** dengan berbagai gaya agar bisa lebih memuaskan pasangan secara garis besar aku lebih potensial. Tidak seperti para istri pada umumnya, mereka selalu bilang, " ah sudah laku juga". Sehingga hal itu membuat mereka terlena dan malas untuk merawat diri, apalagi kalau harus senam kegel, katanya tidak sempat dengan alasan anak adalah prioritas. Padahal itu adalah salah satu cara untuk menyenangkan suami ditempat tidur. Tapi ya sudahlah...kita tidak perlu menghujat kekurangan mereka. Bukankah kekurangan mereka para istri sah adalah peluang untuk kita para pelakor.


"Maaf mbak ada yang bisa saya bantu, mbak mau bertemu ibu Fira atau pak Galih," Seorang wanita berumur kurang lebih lima puluh tahun datang menghampiriku yang sedang susah payah berusaha membuka gerbang.

__ADS_1


"Maaf mau ketemu ibu, ibu Firanya ada, saya sedang butuh pekerjaan, saya ingin melamar menjadi asisten rumah tangga," ujarku dengan terbata-bata. Kulihat ibu tadi mengambil sesuatu dari saku dasternya. Sebuah remot kecil seukuran korek api, kemudian dia pencet dan diarahkan ke pintu gerbang.


Sreeeeeet......


Gerbang pun terbuka dengan sendirinya. Sekarang aku baru sadar. Patas saja saat gerbang aku dorong dengan sekuat tenaga, gerbang itu tak bergeser sama sekali, membukanya pakai remot. Nanti kalau aku diterima kerja disini, aku harus belajar membuka gerbang pakai remot, jadi kalau suamiku datang, aku sendirilah yang akan membukakan gerbang, biar dia makin cinta kepadaku.


"Silakan masuk mbak, ibu Fira dan pak Galih kebetulan ada didalam, kenapa mbak senyum-senyum sendiri, apa ada yang lucu, atau baju saya ada yang sobek barang kali," ucap asisten bu Fira. Akupun hanya diam dan menunduk saja, mengikuti nya melangkah menuju ruang tamu. Kemudian dia mempersilahkan aku duduk di sofa ruang tamu yang sangat mewah menurutku, soalnya dikampung tidak ada sofa semewah itu.


Sambil menunggu calon majikanku sekaligus calon suamiku, semoga saja la yah... Aku duduk disofa sambil membayang beradegan mesra dengan pak Galih.


"Bi, beritahu Juita dimana kamarnya dan tolong bibi bimbing dia untuk membantu tugas bibi, biar bibi tidak kerepotan," ujar bu Fira. Bi Rasmi pun segera membawaku menuju kamar belakang didekat dapur, bersebelahan dengan kamarnya.

__ADS_1


"Mbak sebaiknya mbak istirahat saja dulu, besok baru mulai bekerja, nanti malam aku jelaskan, pekerjaan apa saja yang harus mbak kerjakan," ucap bi Rasmi yang kemudian dia pamit pergi untuk mengerjakan pekerjaannya di dapur. Aku pun segera merebahkan tubuhku diranjang yang terasa empuk walaupun ukurannya sempit. Tapi setidaknya itu lebih nyaman daripada ranjangku dirumah.


Tak terasa aku terlelap cukup lama, rasanya tubuhku cukup lelah setelah perjalanan jauh dari desa ke kota. Untung saja aku langsung diterima kerja dirumah pak Galih, seandainya tidak, mungkin aku sekarang sedang sibuk mencari penginapan, belum lagi aku harus mengatur keuanganku agar jangan sampai aku kelaparan selama di kota. Rupanya keberuntungan sedang berpihak kepadaku dan semoga selanjutnya pun aku terus beruntung hingga menjadi istri pak Galih dan menyingkirkan bu Fira dari rumah ini.


Hari sudah menunjukan pukul empat siang, aku.segera kedapur menemui bi Rasmi yang sedang memasak di dapur. Ternyata dapur pak Galih terlihat begitu mewah, tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan dapurku dikampung. Sambil membantu bi Rasmi memasak, aku mencoba mengorek keterangan mengenai kebiasaan keluarga kecil yang baru saja menikah ini.


"Bi memangnya bu Fira tidak pernah masak," ucapku sambil mengiris bawang merah dan bawang putih yang akan dibuat bawang goreng untuk stok.


"Bu Fira biasanya masaknya kalau pagi saja, soalnya kalau sore dia pulangnya sering telat, karena bu Fira kan mengurus perusahaan orang tuanya. Tidak seperti pak Galih yang selalu pulang sebelum jam lima. Soalnya pak Galih kan ngurusin restoran. Sedangkan masing-masing restoran sudah ada asistennya," kalau mendengar cerita bi Rasmi, aku punya kesempatan untuk mendekati pak Galih setelah pulang kerja, dia pasti lelah, membutuhkan pelayanan dari seorang istri. Aku akan mencoba mengambil alih tugas bu Fira secara perlahan-lahan.


"Bi tadi aku kan baru aja diterima kerja disini, tadi belum sempat ngomongin gaji, soalnya memang aku nggak berani menyinggung masalah itu. Takut bu Fira dan pak Galih berubah fikiran kemudian menolakku dengan alasan terlalu banyak mau"

__ADS_1


"Kalau pak Galih dan bu Fira orangnya konsisten, kalau sudah diterima ya diterima aja, nggak bakal berubah fikiran. Kalau soalnya gaji, kamu beruntung bekerja sama bu Fira dan pak Galih, beliau memang membayar kita sesuai standar upah minimum, tapi kita sering dapat bonus, ada bonus harian. Bonus mingguan dan bonus bulanan yang jumlahnya melebihi gaji pokok, Aku benar-benar puas mendengar keterangan bi Rasmi.


*******


__ADS_2