
Setelah Gania menanyakan CEO pemilik perusahaan.
"Em... saya ingin melamar kerja mba, apa benar disini ada lowongan pekerjaan..!" ucap Gania.
"Tunggu ya mba, saya hubungi manajer kami dulu" balas resepsionis tersebut.
beneran wanita seperti ini melamar kerja disini,
apa mba ini salah alamat kali ya. resepsionis tersebut menatap Gania dari atas hingga bawah tak percaya jika wanita itu bisa di terima oleh manajer mereka.
resepsionis
hallo pak, di lobby bawah ada wanita yang ingin melamar kerjaan, apa ada lowongan buat wanita ini pak?
manajer
"kau suruh dia masuk ke ruangan manajer sekarang",
Vicky yang menjawab sambungan telepon dari resepsionis tersebut menyuruh Gania masuk ke ruang manajer langsung.
resepsionis
Baik pak..!! Tut..Tut...Tut....telepon terputus.
" Anda di suruh keruangan manajer langsung, anda akan di antar oleh satpam kami". ucap resepsionis tersebut.
"Terimakasih" . balas Gania lalu di temani oleh satpam kantor menuju ruangan manajer. Gania mengikuti satpam tersebut dari belakang sembari melihat sekeliling ruangan kantor itu, Gania menatap setiap sudut ruangan, sungguh luar biasa mewahnya interiornya sangat megah, tak pernah di bayangkan olehnya akan memasuki kantor yang sangat besar seperti saat ini.
Selama di dalam lift Gania hanya terdiam membayangkan isi kepalanya di penuhi kebingungan bersamaan ke bahagian akan dapat pekerjaan lagi.
"Nona kita sudah sampai, silahkan masuk kedalam". ucap pak satpam terhadap Gania.
"Eh sudah sampai pak", ujar Gania dengan polosnya. "Maaf saya kira belum sampai pak hehe..." sembari tersenyum lebar.
"Iya nona, anda sudah di tunggu di dalam", balas pak satpam sembari tersenyum, melihat gadis itu tersenyum sangat lucu. pria tersebut kembali pergi keluar meninggalkan Gania di tempat itu.
Gania kebingungan saat di tinggalkan begitu saja di depan pintu, tubuhnya bergetar hebat berusaha menetralisir perasaanya, menarik nafas dalam-dalam, dengan cepat memutar handle pintu itu.
"Permisi tuaann....!!! seru Gania dengan semangat melangkah masuk ke dalam. sontak suaranya membuat semua pria di ruangan itu terdiam.
Gama sedang marah marah pada Andre pun terdiam, di tatap nya gadis mudah di hadapan nya itu dengan tatapan menelisiknya.
Deg
Gania langsung mematung melihat pria di depanya sedang menatapnya, di lihatnya pria gagah, sangat tampan. membuat nya terhipnotis oleh ciptaan tuhan yang sangat indah, tanpa sadar bibirnya sedikit terbuka.
Gama menatap Gania dengan tajam. Akhirnya gadis yang ia tunggu sejak kemarin datang, tatapan matanya beralih di bibir gania yang terbuka, terlihat menggoda untuk nya, Gama berusaha menepis pikiran kotornya itu.
"Hem.... "gama berdehem sangat keras untuk menetralkan suasana tegang di sekitar ruangan. dan kembali duduk dengan tenang.
__ADS_1
"Eh..., em.." gania terkaget langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan mengusapnya, dirinya merasa sangat malu.
sungguh memalukan bibirku ini, tidak bisa di ajak kompromi ya, Aaaaa... malu sekali .gerutu Gania dalam hati.
"Silahkan duduk nona" titah Vicky terhadap Gania, dengan berdiri di samping bosnya.
"Te..terimakasih" jawab Gania dengan gugup, Gania hendak berjalan kearah gama, tapi Gania menghentikan langkah kakinya seketika, saat mendengar suara seseorang.
"Eh eh... tunggu, sepertinya aku pernah melihat mu". ucap Andre menghentikan langkah Gania, sedari tadi Andre hanya diam, andre berdiri mendekati Gania.
" Em... bertemu dimana ya?" Gania yang masih berdiri di dekat pintu menoleh ke arah Andre.
"Kau lupa, aku Andre yang menabrak mu waktu itu", ujar Andre dengan menatap Gania sedang bingung.
"Em.....? oh kak Andre...!!! yang sudah menolongku waktu itu". ujar Gania saat mengingat siapa Andre.
"Iya, bagaimana kabarmu gadis cantik?", ucap Andre dengan menarik tangan Gania untuk bersalaman.
"Baik kak..!" balas Gania menerima uluran tangan Andre untuk bersalaman.
Gama terdiam melihat kedekatan Andre dengan gadisnya merasa geram dan kesal, apalagi sahabatnya itu sudah mengenal dekat gadisnya.
"menabraknya ,menolongnya, sebenarnya ada hubungan apa mereka, dan beraninya Andre menyentuh gadis itu". gumam gama, merasa tidak rela Gadis itu di sentuh pria lain, menurutnya hanya dirinya lah yang berhak memiliki nya.
"Hem. hem..!!! " gama pura pura tersedak untuk mengalihkan perhatian Andre dan gania.
"CK...!! kau itu kenapa ?? cemburu hah.!" Andre berdecak kesal, kembali duduk di sofa menatap gama dengan tajam.
Gama tak memperdulikan ucapan andre, tetap dengan sikap santai dan cuek.
"Kau sudah dari tadi kan di sini" Ucap Gama tanpa menatap Andre. "Vicky...! "teriak gama menatap tajam asistenya.
Vicky yang paham maksud tuanya dengan cepat membawa Andre pergi dari ruangan itu. Andre merasa sangat kesal bisa bisa nya gama mengusirnya dari kantor.
Kini di ruangan hanya meninggalkan Gania dan gama. Gama sedang duduk di kursi kebesaran nya dengan aura dinginnya menatap Gania, Gania yang di tatap oleh gama hanya bisa diam membisu, Gania bingun harus berbuat apa.
"Duduk...!" ucap gama dengan datar agar gania mendekatinya.
"Em...baik pak..!! "jawab Gania gugup, langsung duduk di hadapan gama, tengkuknya merasa merinding saat berhadapan dengan gama.
"Pak pak, sejak kapan aku menikah dengan ibumu.." ujar gama sambil menatap gadis mungil di depanya yang sedang gugup, bibirnya tersenyum tipis sangat tipis.
"Mana saya tau Om, Eh tuan, maksud saya". ujar Gania sambil mendongakkan kepalanya.
Deg
Mata mereka pun bertemu gama menatap bola mata indah Gania, dirinya merasa tertarik begitu dalam, ada keindahan yang tersembunyi di balik bola mata bening itu. Gania yang di tatap oleh gama diam mematung.
"sepertinya aku pernah melihat dia tapi di mana?? " Gania membatin.
__ADS_1
"Hem..." Gania memalingkan wajahnya ke samping menghilangkan kegugupannya.
Gama yang ikut larut dalam suasana mencoba membenahi posisinya. lalu memberikan berkas ke pada Gania.
"Kau sedang butuh pekerjaan bukan, baca isi syarat peraturan kerja nya dengan teliti". gama menyodorkan berkas di hadapan gania.
"Baik tuan" gania mulai membuka berkas tersebut dan membaca dengan teliti, seketika keningnya berkerut.
"Kenapa isinya sangat aneh, dan banyak poin yang merugikan saya tuan". ucap Gania kesal melihat isinya tidak seimbang di kedua belah pihak.
"Apa kau keberatan dengan poinya, koreksi lagi dengan teliti nanti kau melewatkan sesuatu akan menyesal". Balas gama tersenyum miring melipat tangannya di dada. hatinya sangat bahagia melihat ekspresi gadis mungil itu.
"Baiklah akan aku cek lagi", Ucap Gania mulai membaca ulang berkas tersebut.
syarat peraturan perjanjian kerja
1.Pihak kedua harus bekerja di apartemen dan melayani semua kebutuhan pihak pertama dan di larang membantah.
2.Pihak pertama dapat melakukan apapun tanpa larangan.
3.Pihak kedua juga harus menjadi asisten pribadi pihak pertama. dan tidak boleh melakukan kesalahan. jika melakukan kesalahan maka mendapatkan hukuman dari pihak pertama.
4.Pihak kedua langsung mendapatkan uang muka sebesar dua ratus juta.
5.Pihak pertama berhak mengubah isi perjanjian peraturan kerja.dan pihak kedua tidak boleh dekat dengan laki laki lain selain pihak pertama.
"Sangat aneh tuan, tapi saya juga butuh uang". Gania mengeluh sambil menggigit bibir bawahnya. memikirkan isi perjanjian itu harus ia terima atau tolak.
Gama yang melihat Gania menggigit Bibirnya, dadanya berdegup kencang rasanya ingin menyambar bibir itu lagi, mengingat ciuman panas mereka "ah, kenapa bibirnya sangat manis waktu itu, huff" gama berusaha menepis semua pikiran kotornya.
"Bagaimana? apa kau setuju."ucap Gama menatap Gania dari dekat, sedikit membungkukkan tubuhnya agar lebih dekat melihat bibir mungil itu.
"hah...!! em... tuan..." Gania terkaget mendongakkan kepalanya seketika tatapan mereka bertemu dan sangat dekat, Gania bisa merasakan hembusan nafas hangat gama mengenai wajahnya.
"kleetak..!! " gama menyentil kening Gania dengan telunjuknya.
"aw, Sakit tuan..!" Gania mengusap keningnya yang sedikit memerah karena ulah gama.
"Salahmu sendiri melamun, apa kau tergila-gila oleh ketampanan ku ini gadis kecil" ucap Gama dengan gaya coolnya.
"Mana mungkin saya tergila-gila dengan anda tuan, jangan ke geer ran dulu". ujar Gania memalingkan wajahnya, agar tidak terlihat oleh gama dirinya sedang tersipu malu.
"Bagaimana mau di tandatangani tidak berkasnya?? " tanya gama dengan santay.
"Em.... baiklah saya setuju" Gania pun langsung menandatangani suratnya.
"Good..."ucap Gama seraya tersenyum puas.
...jangan lupa like komen ya πππ₯°π·πlove buat kalian semua...
__ADS_1