Cool But Love

Cool But Love
bab 79 jiaroh ke makam ibu


__ADS_3

keesokan harinya


Nama nya juga rindu jadi obatnya ya bertemu, seperti saat ini pria ganteng nya di atas maksimal itu hatinya sedang berbunga-bunga siapa lagi kalau bukan si gama sang pria possesif tingkat tinggi, wajah tampan nya terlihat berseri-seri penampilan nya lebih fresh rambut nya yang basah menandakan pria itu sudah mandi.


"Pagi baby, kau sudah bangun" ucap gama melihat istrinya terbangun dia segera bangkit dari sofa lalu menghampiri nya.


"pagi kak" gania bangkit dari tidurnya lalu bersandar di headboard ranjang sambil melilitkan selimut ditubuh polosnya.


Sekujur tubuhnya terasa remuk dan lelah bagaimana tidak, tadi malam saat menjelang pagi suaminya itu kembali mengajaknya bercinta dan sebanyak dua kali pria itu melepaskan hasrat nya.


" Kau pasti sangat lelah baby, aku bawakan sarapan untuk mengganjal perut mu biar tenaga mu kembali pulih sayang" ucap gama yang duduk di tepi ranjang itupun menyodorkan gelas kearah gania.


Bluss


Seketika pipinya langsung bersemu merah semerah tomat gania sangat malu sekali saat mengingat betapa perkasanya suaminya itu sampai sampai membuatnya terkapar lemas dan tertidur terlalu lama.


" kakak.." rengek gania kedua tangan nya mengapit menahan selimut di tubuhnya agar tidak melorot, bisa riweh jadinya nanti.


Gama mencubit hidung mancung istrinya gemas sadar gania sedang kesulitan dan mempertahankan selimutnya gama membantu memegangi gelas susu itu agar gania bisa meminum susunya.


"habiskan susunya setelah itu makan. aa" mengarahkan gelas ke mulut sang istri dengan perlahan. gania pun menurut dan meneguk susu hamilnya hingga tandas.


Berlanjut lagi dengan telaten gama menyuapi steak ke mulut sang istri nya sampai habis tak tersisa di piringnya. Setelahnya gama tak tega membiarkan gania berjalan sendiri dengan beringas dia menghujam nya tadi malam. gama pun membawa gania kedalam bathroom untuk membersihkan tubuhnya. dan membiarkan sang istri melakukan ritual mandi nya.


"Cepat mandinya aku tunggu di bawah sayang, kita akan mengunjungi makam ibu hari ini" ucapnya mengecup kening gania lembut lalu keluar dari bathroom.

__ADS_1


"iya kak" balas gania terpaku menatap punggung gama menghilang dari balik pintu.


Apa. makam ibunya? apa benar ibu suaminya itu sudah meninggal tapi memang selama ini dia tidak pernah melihat ibu suaminya itu apalagi di mansion ini setahu gania pak Wijaya selalu sendirian kemanapun. begitu banyak tentang suaminya itu yang tidak di ketahui oleh nya. kemudian gania segera melanjutkan mandinya.


Wijaya sedang duduk di sofa itupun menatap kearah lantai dua mansion nya melihat putranya tengah berlari kecil menuruni anak tangga.


"Kenapa kau sendirian mana Putri ayah " kata Wijaya saat gama duduk di sofa bersamanya kepalanya celingukan mencari sosok gania yang di tunggu nya sejak tadi.


Dengan menyilang kan kedua kakinya gama duduk berhadapan di sofa bersama ayahnya." Dia sedang mandi ayah, bisa tidak jangan terlalu dekat dengan istriku, aku tidak suka " ujar gama menatap ayahnya dengan sorot mata tajam nya.


Wijaya tertawa renyah melihat kecemburuan putranya itu." bhuahaha! bilang saja kau cemburu. Ingat gama kendalikan emosi mu jangan sampai gania terkekang karena keegoisan mu" tegur wijaya pada putranya itu sembari menyeruput teh di tangannya.


Gama terdiam sejenak meresapi setiap ucapan Ayah nya itu memang ada benar nya juga. tidak terasa kepalanya mengangguk setuju.


" Pagi putri ayah yang cantik. Bagaimana tidur mu nyenyak kan" balas Wijaya seraya melirik putranya yang sedang terpukau melihat kearah gania.


Gania tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya hendak duduk di samping gama.


" Tetap di sana baby " gama melihat leher putih istrinya di penuhi bekas cintanya itu terekspose segera bangkit dan berlari kearah gania. memutar tubuh sang istri agar memunggungi ayahnya. tadi saat menyiapkan pakaian sang istri gama lupa tidak menyiapkan syal juga.


"Ada apa sih kak" tanya gania kebingungan.


"Bi Inah! cepat ambilkan syal di kamar atas sekarang!" teriak gama dengan suara lantang sehingga bi Inah yang sedang di dapur segera berlari menghampiri nya dan menjalankan perintah sang majikannya.


Wijaya menahan tawa nya melihat betapa possesif nya putranya itu.

__ADS_1


"Ini tuan " bi Inah memberikan syal di tangan nya kearah gama. dengan cepat gama menyambar syal itu.


"Makasih bi maaf merepotkan bibi" ucap gama melilitkan syal rajut ke leher sang istri. dia merasa bersalah sudah menyuruh bi Inah dengan kasar.


"Tidak apa apa tuan, apa tuan jadi pergi ke makam nyonya " tanya bi Inah sambil menunduk.


"Jadi bi. ini kita mau berangkat, tidak apa-apa kan kita tinggal sebentar" jawab gama seraya merangkul pinggang gania mesra.


Gania langsung tersipu malu mencoba melepas tangan gama dari tubuhnya.


"Tidak tuan. bibi kembali kedapur dulu" balas Bi Inah.


" iya bi kita juga mau pergi sekarang. ayo berangkat" sahut Wijaya cepat melenggang pergi dari sana lebih dulu. dia cukup memahami menantunya itu tidak nyaman.


" ayo sayang " gama menggenggam tangan gania lalu berjalan keluar dari mansion.


"Lihat kak gara gara kau ayah kesal kan" tegur gania.


" biarkan saja sayang"


Gania menghela napas nya." ibu kakak pasti sangat bahagia ayah sangat mencintainya" ujar gania dari yang di lihatnya pak Wijaya selalu bersikap lembut kepada seorang wanita.


Gama menoleh lalu mengecup pucuk kepala gania dengan lembut." itu tidak di ragukan lagi sayang kau pasti bisa melihat nya kan" jawab gama tepat tiba di samping mobil.


"hm" lirih gania. mereka pun segera masuk ke mobil dan pergi menuju ke pemakaman umum.

__ADS_1


__ADS_2