
"Ehem" Ranti berdehem dengan sangat keras membuat dua pasangan di depannya menyudahi kegiatan nya.
"uhuk uhuk.." Gania terkaget pun langsung tersedak pipinya memerah menatap sebal kearah gama di samping nya itu.
"kau baik baik saja baby" gama langsung panik di usapnya bibir Gania, gama mengabaikan kekesalan Gania, dengan menepuk pelan dada wanita nya membantu menghilangkan rasa sesaknya, sontak Gania melotot kearah nya.
" Aku baik baik saja, sudah lepas aku bisa sendiri" Gania menjadi malu dengan gama menyentuh dadanya meski niatnya untuk membantunya karena tersedak, Gania tak berani menatap kearah dokter Ranti yang sejak tadi menatap kearah mereka dengan tajam.
Wajah Ranti langsung berubah pucat seketika, saat di tatap oleh gama dengan sangat tajam. karena sudah berani menatap kearah Gania dengan tatapan yang tajam.
"emm, jika sudah apa boleh saya permisi keluar" tanya Ranti sedikit gugup lebih baik dia segera pergi dari tempat itu sebelum pria itu membuat nya keluar dari rumah sakit ini.
"Tidak perlu aku yang akan keluar, terimakasih dokter Ranti atas waktu nya" ucap gama dengan meraih tangan Gania menggandeng nya dan beranjak keluar dari ruangan itu.
"Oh, sama sama tuan gama yang terhormat" jawab Ranti dengan sopan tak lupa tersenyum lebar kearah gama untuk melindungi karirnya.
"makasih dok" sahut Gania menoreh kearah dokter Ranti sekilas lalu mengikuti gama keluar dari ruangan itu.
Di tatapnya pria yang sedang menggenggam tangan nya berjalan di samping nya, kenapa banyak dokter yang menyapa pria nya dengan sangat sopan apa yang di sembunyikan oleh pria itu sebenarnya benak Gania. Gama dengan cepat merangkul pinggang Gania erat ketika menyadari wanita nya menatap curiga padanya.
"Apa yang kau pikirkan tentang ku baby" ucap Gama menoreh kearah wanita nya.
"Hah, tidak ada kak" Jawab Gania dengan gugup dengan menunjukkan senyum manis kepada gama.
"Tuan Gama..." panggil seorang pria paruh baya sedang menggandeng istri nya hendak masuk ke dalam rumah sakit, namun ia putuskan menyapa pria yang sangat di kenalnya keluar dari rumah sakit dengan seorang gadis muda.
Deg
Dengan merangkul gania gama menoreh keasal suara seseorang menyapa dirinya, ia pun terkejut dan menghentikan langkahnya.
"Pak reza, ibu Rani." beo gama terdiam dengan melepas pelukan nya dan beralih menggenggam tangan Gania. Gania mengernyit melihat perubahan sikap gama padanya dan menatap pasangan suami istri di depan mereka.
" apa ada yang sakit sampai Anda datang kemari?" tanya Reza dengan tatapan menyelidik kearah gama, Gania bergantian.
"kau kenal mereka kak" bisik Gania di buat bingung dengan keadaan di tempat itu.
__ADS_1
"Kau ke mobil dulu nanti aku segera menyusul, dia rekan bisnis ku baby" Gama membisik dengan lembut. dengan memberi isyarat agar Gania menuruti perintah nya. Gania mengangguk menurut meninggalkan mereka di depan pintu rumah sakit.
"Siapa gadis itu tuan gama?" ucap Reza dan Rani bersamaan .
"Bukan urusan anda pak Reza, saya cuma membeli obat untuk ayah sedang demam " jawab gama datar, di lihatnya dua orang di hadapan nya itu menatap kearah nya dengan sorot mata kekesalan.
"Oh, saya minta maaf atas pertanyaan tadi, saya senang bisa bertemu anda di sini, anda tidak lupa kan dengan putri saya" ujar Reza dengan di iringi senyuman untuk menutupi kecurigaan nya pada gadis itu.
"Anda tidak perlu takut, saya tidak lupa, apa masih ada yang ingin anda tanyakan?" balas gama dingin memasukkan kedua tangan di saku celana nya. ia sangat muak melihat pria di hadapannya itu berpura-pura baik di depan nya.
"Tidak ada tuan gama" ujar Reza.
"Salam untuk tuan Wijaya nak gama, semoga lekas sembuh" imbuh Rani dengan tatapan iba seolah mendoakan ayah gama dengan tulus.
"saya permisi" ucap Gama tanpa menjawab ungkapan sedih Rani untuk ayahnya, ia pun melenggang pergi dari tempat itu dan menuju ke mobilnya.
Reza menatap punggung gama yang mulai menjauh dari pandangan dengan raut wajah sengitnya.. Tangan nya terkepal kuat tidak sabar menunggu waktu yang tepat untuk menguasai harta milik pria muda itu.
"Kita harus cari tahu siapa gadis bersama gama itu, kau hubungi Reni nanti " ujar Reza menatap kearah istri nya dengan meraih tangan istrinya melangkah masuk kedalam rumah sakit.
" Tidak aku pasti baik baik saja" balas reza. mereka pun masuk kedalam rumah sakit.
"Hallo.." gama menghubungi seseorang. melalui ponselnya.
"Hallo tuan, apa ada yang tertinggal?" sahut ranti di seberang sana.
"Jika nanti ada pasangan suami istri menanyakan tentang kedatangan ku ke sini, jangan kau beri tahu mereka" ucap Gama dengan dingin.
"Baik tuan, tapi sebenarnya ada apa, kena..?"
"Katakan saja seperti yang ku ucapkan tadi tutup semua akses pencarian data ku tadi, kau mengerti dan jangan banyak tanya lakukan perintah ku, atau...?" bentak gama dengan emosi Ranti tidak mematuhi ucapan nya.
" jangan tuan ganteng..!! akan saya lakukan sesuai dengan keinginan anda" teriak Ranti di dalam ruangan milik nya, tentu membuat ia merasa gila berteriak keras di ruangan sendiri untung tidak ada orang disana, hanya demi terhindar dari ancam pria datar di seberang telpon.
"Bagus.!" Tut Tut
__ADS_1
Sebelum benar-benar memasuki mobilnya gama menghubungi Ranti dahulu memastikan keamanan dirinya dan melindungi wanita nya dari kecurigaan Reza. hal tersebut pun tak lepas dari tatapan Gania dari dalam mobil, melihat kearahnya dengan sorot mata penuh tanya dan curiga.
klek.. blam.. suara pintu mobil tertutup.
"apa aku terlalu lama baby" tanya gama dengan menduduki kursi kemudi. menoreh kearah Gania di tatapnya gania tampak jelas raut wajah Gania sedikit berubah dari sebelumnya.
" tidak, hanya tiga puluh menit" ucap Gania dengan tatapan mata lurus kedepan.
" kau marah padaku sayang, lihat aku " pinta gama dengan tangan nya mencubit hidung wanita nya gemas.
Gania menoleh kearah gama di tatap wajah tampan gama dengan dalam mencari kebohongan di sana, detik berikutnya Gania membuang muka. karena ternyata salah dan tidak menemukan apa pun. Gama menunjukkan ekspresi wajah dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang di sembunyikan oleh nya.
"Kau percaya padaku kan, dia itu teman bisnis dan..? yang jelas aku ingin melindungi wanita ku dari siapa pun yang mengganggunya" jelas gama menangkup pipi Gania dengan tangan kekarnya, mengulum senyum manis pada wanita nya.
"iya aku percaya padamu, tapi kenapa banyak sekali orang orang baru di sekitar mu kak membuat aku takut " ucap Gania ia merasa sangat banyak hal yang belum di ketahui oleh nya tentang siapa pria di depannya ini.
"Kau tidak perlu takut cukup fokus padaku dan anak kita" ujar gama menarik Gania kedalam pelukannya.
"Heum" balas Gania dengan membalas pelukan gama.
Dan entah sejak kapan bibir gama mendarat di bibir mungil Gania, karena saat ini bibir mereka bertaut dengan lembut. dan semakin lama semakin menuntut dengan rakus gama memperdalam ciumannya dan menyesap nya. membuat kedua pasangan itu tersengal sengal mengatur pernafasan.
"kita pulang sekarang" ucap gama setelah melepas ciuman mereka. merapikan rambut Gania dengan lembut.
"kau itu terlalu pintar mencuri kesempatan kak" balas Gania terkekeh geli ketika mengingat dirinya di buat pasrah oleh sentuhan pria di sebelahnya itu.
"Tentu saja apa kau ingin lagi, jika iya kita bisa mengulang nya di apartemen". ucap gama menaik turun kan alisnya menatap nakal kearah Gania, dan segera melajukan mobilnya keluar dari lokasi rumah sakit.
Seketika raut wajah Gania berubah pias, ia terdiam menoleh kearah pria di sebelahnya itu dengan tatapan bergidik ngeri. sebenarnya ada apa dengan isi otak pria itu, cara berpikir nya selalu liar membuat dirinya harus berhati-hati.
BANTU SUPPORT KARYA KE2 KU GUYS ππ·π
...jangan lupa dukung terus guys π tinggalkan jejak kalian π₯°π·...
__ADS_1