
" Baby ... " Gama menghampiri istrinya yang masih bersolek di depan cermin. " Jangan cantik-cantik kalau berdandan Baby, apa kau mau pamer kesemua orang kalau kau sangat cantik, kau boleh terlihat cantik hanya saat di depan ku saja." Ucap Gama sembari mengecup tengkuk putih mulus istrinya. Ia tidak ingin Gania menjadi tatapan haus pria lain di luaran sana walau itu ayahnya sendiri, kecemburuan nya sudah mendarah daging.
" Kan, kumat lagi penyakit cemburu nya. Sayang ada yang pernah bilang katanya wanita hamil itu bisa di sukai banyak orang apalagi bawaan dari janin berjenis kelamin wanita itu memperlihatkan rona kecantikan sang ibu hamil meningkat." Goda Gania menahan tawa. Pasalnya suaminya itu sangat possesif kepadanya, terlebih kebebasan sosial nya juga di batasi oleh suaminya, tapi ia tidak merasa terbebani dengan hal tersebut, baginya mematuhi perintah dari suami adalah bagian dari ibadah.
Ya, atas permintaan dari sang suami Gania mulai sekarang memanggil Gama dengan sebutan sayang, sebagai istri yang berbakti tentu Gania menurut dengan apa yang di tuturkan oleh suaminya kepada nya.
" Aku tidak cemburu Baby, Aku hanya ingin melindungi istriku dari buaya darat di luaran sana, kau mengerti," tegas Gama tidak mau bantah.
" Ya ampun, itu sama saja dengan cemburu namanya Sayang," ujar Gania terkekeh, suaminya itu pandai menjaga image nya agar tidak terlihat cemburu.
Gama melepas pelukannya." Hhh terserah kau saja Baby, lebih baik kita turun sekarang, ayah pasti sudah menunggu kita untuk makan malam " kata Gama mengingat kan lalu menarik tangan istrinya.
Saat ini pukul 09:00 sebelumnya bi Inah datang kekamar nya mengatakan kalau waktu makan malam telah tiba.
" Astaga, semua ini salah mu Sayang, kau terus-terusan menggodaku membuatku jadi lupa." Gania menyalahkan suaminya dengan entengnya.
Gama yang melihat sikap konyol Gania yang sesuka hatinya mengatai dirinya tanpa rasa bersalah sedikitpun menjadi gemas sendiri.
__ADS_1
" Wah,wah, pinter ya nyalahin Suami padahal kau juga terlibat dalam menebar pesona." Gama menoyor kening wanitanya dengan gemas, sembari berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan.
" Sayang," rengek Gania dengan wajah cemberut sambil mengusap dahinya.
Dan lagi-lagi Gama di buat gemas dengan ekspresi wajah cemberut Gania terlihat sangat cantik di mata Gama.
Di ruang makan.
" Salahmu sendiri, ayo duduk ... " Gama menarik kursi makan untuk istrinya dan dia pun ikut duduk di kursi satunya lagi." Maafkan kita Ayah sudah membuat Ayah menunggu." Ucap Gama.
Wijaya hanya menghela napas berat, padahal setengah jam dirinya dibuat pegal menunggu di ruangan tersebut. Anak dan menantunya itu baru menunjukkan batang hidungnya sekarang.
" Ayah bisa saja." Cengir Gania menunjukkan rentetan gigi putihnya dan senyum termanis.
" Ini tidak akan terulang lagi Ayah, iya kan, Sayang." Ujar Gama meminta persetujuan dari sang istri. Dengan cepat Gania mengangguk setuju.
" Bagaimana dengan dirimu Gania, sudah membaik, kan." Tanya Wijaya pada Gania.
__ADS_1
" Alhamdulillah sudah baikan Ayah."
" Dia sudah sembuh jadi Ayah tidak perlu khawatir," sela Gama dengan ekspresi sulit di tebak.
" Syukurlah, Ayah senang mendengarnya, ayo lanjutkan makan nya."
"Hem " Sahut Gama dan Gania bersama.
Setelahnya tidak ada lagi percakapan Hening menyelimuti keadaan sekitar, hanya bunyi dentingan sendok garpu dan piring yang menyuara bergesekan yang terdengar di ruang makan tersebut hingga 30 menit waktu berjalan.
" Drrrttt...Drrrttt." Gama menatap ponselnya yang berdering tanda sebuah panggilan masuk dan senyum misteri muncul di wajahnya.
" Siapa yang menelpon Sayang?" tanya Gania penasaran.
" Sayang, aku angkat telpon dulu sebentar, Ayah aku pergi dulu." Pamit Gama tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya Ia beranjak dari ruangan menuju kamar atas.
Wijaya hanya mengangguk, tertegun di tempat itu yang Gania lakukan saat ini, segudang pertanyaan menyelimuti benaknya dengan perubahan sikap Gama barusan. Gania menatap punggung lebar Gama yang sedang menapaki anak tangga itu dengan perasaan gundah.
__ADS_1
Ada apa dengan nya, kenapa dia tidak menjawab pertanyaan dari ku, apa seprivat itukah panggilan telepon itu, sampai-sampai harus menjauh kekamar, di angkat disini juga bisa kan. Gania membatin.