
" Aku bersama mereka saja." Gania menunjuk kearah bodyguard yang berada di luar ruangan, ia berkata pada Gama jika tidak perlu menemaninya ke pusat perbelanjaan dan lebih baik Gama membersihkan tubuhnya dan tetap di kantor.
" Kau yakin," ulang Gama yang ketiga kalinya, tidak tahu mengapa ada perasaan mengganjal di hatinya.
"He,em," Wanita itu mengangguk lalu mengedipkan sebelah mata genitnya pada Gama kemudian melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Aku harap ini hanya perasaan ku saja?. Gama menarik dan membuang napas kasar, kenapa istrinya yang dulu polos kini menjadi begitu nakal.
Tanpa menunggu lama Gama segera memanggil bodyguardnya untuk mengikuti Gania selama bepergian yang semula hanya dua kini ia menambahkan menjadi empat bodyguard.
" Huufff..." Gama hendak masuk kedalam kamar mandi ia menatap layar ponselnya yang kembali bergetar dan segera mengangkat panggilan tersebut.
" Tuan, persiapan nya sudah 90% tinggal menunggu nona untuk fitting gaunnya " jelas Lisa.
" Iya , besok saja aku kesana, dia sedang pergi ke keluar."
"Baik tuan" Lisa mengangguk patuh walaupun gama tidak bisa melihat nya.
" Ya," Jawab Gama, dengan singkat sambil menutup panggilan teleponnya. lalu segera menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri Gama kembali mengerjakan pekerjaan kantor nya. Waktu terus bergulir hingga hari sore. Dengan perasaan senang Gama tidak sabar ingin pulang kemansion teringat akan ucapan istrinya yang mencabut hukuman nya.
.
__ADS_1
.
.
Setelah sampai di mansion Gama langsung masuk kedalam dan bi Inah pun menyambut kedatangan nya di ruang tengah.
" Bi, bagaimana keadaan Ayah," Tanya Gama sambil menyerahkan tas kerjanya pada bi Inah.
" Sudah sehat tuan, tadi dokter bilang tuan besar sudah boleh beraktifitas lagi"
Sambil berjalan menuju tangga Gama merasa ada yang kurang, sejak ia masuk tidak melihat istrinya di mansion.
" Bi, Gania ada dimana, kenapa aku tidak melihatnya," Pria itu menatap sekelilingnya dengan kening berkerut.
Deg
" Apa?" Gama yang terkejut menatap mengintimidasi pada bi Inah ia pikir pelayanan ini sedang bergurau. Bi Inah yang sadar akan ditatap tajam oleh tuan Gama menjadi ketakutan.
" I-itu tuan benar memang nona belum pulang," bi Inah berkata jujur dan menjelaskan yang sebenarnya. ditengah Gama sedang mendengarkan penjelasan dari bi Inah. Beberapa para bodyguard nya baru datang berjalan kerah nya.
"tuan...! nona Gania menghilang," Ucap salah satu dari ke empat bodyguardnya itu dengan kepala menunduk tidak berani menatap pada tuan mereka, karena telah lalai untuk melindungi nona mereka.
__ADS_1
Duar...
Bagaikan di sambar petir di siang hari,Gama menajamkan pendengarannya dengan menatap tajam pada semua bodyguard nya itu. Rahangnya mengeras seketika suasana mencekam menyelimuti di sekitar sana.
" tuan..." panggil bi Inah yang ikut terkaget memberanikan diri menggoyangkan tangan tuan nya yang terdiam sejak tadi.
Hah!
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Gama dengan membabi buta menghajar semua bodyguard itu satu persatu hingga membuat mereka tersungkur ke lantai.
" Ma-maaf kan kami tuan," Ucap mereka bersama berusaha berdiri sambil mengusap sudut bibir mereka masing-masing yang berdarah.
" Bodoh, tidak becus, buat apa aku membayar kalian mahal jika menjaga satu wanita saja tidak bisa!" Sentak Gama dengan tajam sambil mengusap wajah nya dengan kasar. Benarkah firasat nya tadi saat Gania pergi hatinya serasa berat untuk membiarkan Gania pergi, dan sekarang ia harus kehilangan Gania untuk yang kedua kalinya.
Semua para bodyguard itu hanya menunduk dengan takut, sedangkan bi Inah sudah meninggalkan tempat tersebut sedari tadi karena ketakutan sembari memanggil tuan Wijaya.
Dengan tatapan tajam Gama kembali menyuruh mereka untuk mencari keberadaan Gania, Sementara Wijaya yang baru tiba di ruangan tersebut menepuk bahu putranya dengan tatapan tajam, tadi saat bi Inah bercerita bahwa Gania telah hilang dan di culik ia segera keluar menghampiri Gama.
" Bagaimana bisa Gania hilang, bukanya kau menemani nya bukan?" Tanya Wijaya yang tidak bisa tenang.
Mendapat pertanyaan seperti itu Gama yang merasakan tubuh dan juga kakinya yang gemetar dan lemas, menatap ayahnya dengan wajah sendu ia kembali mengecewakan Ayah nya karena tidak bisa menjaga Gania dengan baik. Lalu dia mulai bercerita semuanya pada Ayahnya bagaimana Gania yang menolak untuk ditemani, lalu ia menambahkan pengawalan ketat untuk Gania.
__ADS_1
" Pergilah, cepat temukan putriku dan cucuku ," Pria baya itu menatap penuh harap pada putranya sendiri sambil menepuk pundak tegap Gama.
Tidak ingin membuang waktu,Gama mengangguk kemudian segera pergi dari mansion, tidak lupa menghubungi Vicky dan juga feri sekaligus pengawal pribadinya semua anggotanya pun ia kerahkan untuk mencari Istrinya. Dan dia meminta salinan Cctv dari pihak pusat perbelanjaan ia ingin mengetahui siapa yang sudah berani menculik istrinya.